Berbagi Berita Merangkai Cerita

Menpar “Diteror” Gara-gara Toilet

0 6

MATARAM, DS – Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengaku, keberadaan toilet di sejumlah distinasi wisata di Indonesia hingga kini, belum masuk katagori layak. Arif menegaskan, jika dirinya terus ‘diteror’ oleh wisatawan, baik lokal maupun mancanegera yang terus menanyakan komitmen perbaikan penataan masalah toilet yang jauh dari sebutan layak itu.

“NTB juga termasuk salah satu provinsi di tanah air yang distinasi toiletnya bau dan jorok. Ini menjadi pekerjaan rumah yang harus dicari solusi perbaikannya,” tegasnya saat membuka Musrenbang provinsi NTB di hotel Lombok Raya, Kota Mataram, Kamis (6/4) kemarin.

Arif mengatakan, daya saing pariwisata Indonesia saat ini berada di ranking 50, dari semula ranking 70. Menurutnya, salah satu kelemahan yang harus terus diperbaiki adalah masalah kesehatan dan higienitas. Terlebih, data World Economic Forum (WEF) di tahun 2015 lalu, menunjukkan jika unsur kesehatan dan higienitas Indonesia, justru masih berada di posisi 109 di dunia.

Padahal, kata Arief, khusus NTB, yakni Pulau Lombok telah memperoleh penghargaan World Best Halal Tourism Destinasi di tahun 2015 dan tahun 2016 secara berturut-turut. “Apa kita nggak malu, Indonesia berpenduduk muslem terbesar di dunia. Dan Islam mengajarkan Kebersihan adalah sebagian dari Iman. Tetapi, toiletnya minta ampun, berbeda 180 derajad dari ajarannya. Wajarlah, jika kita semua harus malu. Saya ingatkan, ini karena branding NTB adalah wisata halal,” ujarnya.

Mantan Dirut PT Telkom itu menjelaskan, agar semua destinasi punya toilet yang standar bintang 4-5, seperti di hotel. Maka, sebaiknya pengelolaan toilet agar jangan lagi dikelola oleh pihak pemda. Sebab, pastinya ujung-ujungnya jelas tidak terawat dan jorok. Arief berharap pengelolaan toilet perlu dilakukan pihak swasta.

“Termasuk mushalanya biasanya juga bau. Hampir semua begitu, ini fakta karena, saya berbicara itu pasti punya data. Kan saya pengalaman saat memegang jabatan di perusahaan, jadinya itu mengajarkan saya membuat program perioritas. Di pariwisata itu penting ada sebuah proyeksi program, sehingga kita bisa fokus mengerjakannya. Termasuk di toilet,sebaiknya perlulah pihak swasta yang lebih banyak diperankan,” jelas Arief.

Menurutnya, perkembangan pertumbuhan pariwisata di NTB sudah berada pada jalur yang bagus. Yakni, trend meningkat dari angka 800 ribu kunjungan, kini dapat menembus angka 1 juta lebih wisatawan mancanegara.

Oleh karena itu, data kunjungan yang sudah baik itu, adalah bagian dari upaya sinergisitas guna meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia yang telah mentargetkan peringkat berada di rangking 30 dunia. Sementara, jumlah angka kunjungan sebanyak 20 juta wisatawan mancanegara (wisman) dan 275 juta pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) di Tanah Air pada tahun 2019 mendatang.

“Kita perlu mendorong keterlibatan para pemangku pekentingan di lingkungan pariwisata dan masyarakat luas untuk menyediakan toilet umum yang bersih, higienis, ramah lingkungan, ramah bagi semua. Ini harapan, dengan demikian pariwisata Indonesia akan menjadi pariwisata bagi semua (tourism for all), daya saing kepariwisataan Indonesia meningkat, dan tujuan pembangunan berkelanjutan akan dapat tercapai,” tandas Arief Yahya.

Terpisah, Gubernur Dr. TGH. Muhamad Zainul Majdi MA tidak menampik jika keberadaan toilet di sejumlah distinasi wisata di NTB terpantau dalam kondisi tidak baik. Menurutnya, kondisi tersebut terjadi, lantaran perilaku masyarakatnya yang masih hobi membuang najis (kotoran) ditengah jalan. Padahal, NTB dikenal dengan masyarakat yang religius.

“Banyaknya kotoran kuda yang berada di hampir semua jalan-jalan di semua daerah di NTB merupakan potret jika masih banyak yang harus kita benahi. Khususnya, dari sisi perilaku. Bahkan kebersihan distinasi juga, justru masih banyak masyarakt kita masih suka buang sampah sembarangan, soal kebersihan itu masih jadi masalah kita dimana-mana. Kedepan itu tidak boleh lagi,” tegas Gubernur.

Zainul Majdi mengaku, persoalan kebersihan itu sebenarnya berpulang pada masalah kesadaran masyarakat. Sehingga, diperlukan upaya kebersaamaan untuk menciptakan gerakan NTB bersih. Baik di Pulau Lombok dan Sumbawa.

“Kedepan, kita akan ajak semua elemen masyarakat untuk bergotong royong, kerja bhakti bersama memperbaiki distinasi wisata. Termasuk, di seluruh ruang publik yang ada di wilayah NTB,” ujarnya.

TGB pun menyetujui usulan Menpar Arief Yahya terkait pengelolaan toilet di semua distinasi wisata diserahkan ke pihak ketiga (swasta). Menurutnya, diperlukan sikap profesionalitas dalam menata dan merawat sebuah toilet tersebut. Hal ini dipicu, kemampuan birokrasi dilingkup pemprov NTB dirasa tidak mampu untuk menangai sesuai yang detail terkait kebersihan toilet tersebut.
“Saran pak Mentri itu baik. Saya setuju akan hal itu, karena memang distinasi wisata dan segala fasilitasnya harus dikerjsamakan dengan pihak ketiga. Nanti kita kaji, bentuk kerjasama sharing model pengelolaan yang tentu diatur dalam sebuah kontrak perjanjian,” tandas Zainul Majdi. fahrul

Leave A Reply