BSK Samawa

Di Bali Ada Ubud, di Lombok Ada Desa Lendang Ara

Desa Lendang Ara

Lendang Ara merupakan salah satu desa di Kecamatan Kopang, Kabupaten Lombok Tengah. Desa yang terletak di perbatasan Lombok Tengah dengan Lombok Timur ini memiliki destinasi wisata yang potensial membangkitkan perekonomian masyarakat. Bahkan desa ini dikenal sebagai Ubudnya Lombok dengan keindahan sawah berundak.

Desa Lendang Ara berbatasan dengan Desa Montong Gamang di sebelah selatan, Desa Bebuak di sebelah barat, Desa Wajageseng di sebelah utara dan Desa Jenggik di sebelah timur. Memiliki luas 276 hektar dengan jumlah penduduk 5.436 jiwa (1.501 KK), Desa Lendang Ara terdiri dari 6 dusun, masing-masing Dusun Lendang Ara I, Dusun Lendang Ara II, Dusun Lendang Ara III, Dusun Kwangpati I, Dusun Kwangpati II, dan Dusun Serumbung.

Asal usul Desa Lendang Ara bermula dari sebuah kisah tentang keinginan salah satu dari empat putra Kerajaan Benua untuk membangun sebuah pemukiman masyarakat. Upaya membangun pemukiman itu bertujuan agar dapat hidup secara turun temurun dan menetap. Keinginan itu di sambut baik oleh masyarakat sekitar.
Nah, pada lahan yang direncanakan sebagai tempat pemukiman pertama, terdapat sebuah pohon yang oleh masyarakat sekitar disebut pohon “ARA” . Pohon ini dalam istilah asingnya disebut chlorompelicus, sedangkan orang Sasak menyebutnya Ara.

Nama Desa Lendang Ara diambil dari kata “Lendang” yang berarti “Padang” dan “Ara” yang merupakan nama pohon yang berada di lokasi pemukiman pertama.

Potensi Wisata Desa
Desa Lendang Ara memiliki potensi wisata alam perbukitan dengan hamparan sawah yang ber undak-undak. Pemandangan yang segar ini menjadi daya tarik wisata untuk dikunjungi.

Potensi wisata alam itu tambah menarik ditambah potensi budaya seperti tradisi Begasingan yang masih hidup. Begasingan merupakan permainan rakyat yang mempunyai unsur seni sekaligus olahraga dan berusia tergolong tua di lingkungan masyakarat Lombok.

Permainan gasing biasa dilakukan oleh dua orang atau lebih yang mana pemain pertama disebut pemukul atau lebih dikenal dengan istilah penakek pematok, sedangkan pemain kedua (pemain yang dipukul) dikenal dengan istilah pelepas, ngejang, atau masang.

Adapun nama ‘begasingan’ terdiri dari dua kata, yaitu ‘gang’ yang berarti lokasi atau tempat, serta ‘sing’ yang berarti suara. Begasingan sering ditampilkan dengan tujuan mengingatkan masyarakat untuk saling menghormati dan memiliki rasa kebersamaan dalam menjunjung tinggi nilai leluhur.

Tradisi lain yakni Betulak yang setiap tahun dilakukan oleh masyarakat untuk menghindari wabah penyakit. Betulak memiliki berbagai tahapan prosesi diawali dari masjid dengan melakukan sarakal atau berdo’a bersama seluruh lapisan masyarakat, tokoh adat serta tokoh agama. Setelah itu, barulah masuk pada acara inti, yakni tradisi Betulak mengelilingi empat pintu masuk atau perbatasan dari Desa Lendang Ara.

Terdapat pula potensi buatan seperti wisata Tandung-Andung yang merupakan salah satu peninggalan ulama besar TGH. M. Shaleh (Dato’ Lopan). Embung ini dibuat pada sekira 100 tahun yang lalu dengan tujuan menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat untuk mengairi persawahan maupun kebutuhan sehari-hari. Pada area wisata Tandung Andung kemudian dikembangkan beberapa jenis wisata buatan seperti kolam renang, Menara Panjang dan area camping.

Kawasan embung inilah yang menjadi daya tarik sehingga dikenal sebagai Ubudnya Lombok dan terus menerus menerima perhatian sejak tahun 2019-2021. Bahkan pengembangannya menerima bantuan dana Pemerintah Pusat melalui Dinas Pariwisata Loteng.

Ketua Remaja Komang Pati 2 Desa Lendang Ara, Haerul, mengakui Tandung Andung menjadi salah satu daya tarik yang menyedot wisatawan. Pada momentum tertentu, pengunjung biasa datang berombongan menikmati suguhan keindahan Lendang Ara.

Facebook Comments Box

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.