SASAK: KEMERDEKAAN BERBAHASA – Duta Selaparang
Jumat , 24 Mei 2019
Home / Pendidikan / SASAK: KEMERDEKAAN BERBAHASA

SASAK: KEMERDEKAAN BERBAHASA

Bangsa Sasak dalam sejarahnya nyaris terserak, karena berada diluar bingkai yang tak bersinergi dengan kesasakan yang paripurna, hingga sekarang kesejatian suku bangsa Sasak masih dipersoalkan oleh generasi tulen bangsanya sendiri. Seolah olah tirani masa lalu masih menari dan menabuh genderang yang mematikan akar-akar kreativitas dan keberanian mengatakan apa yang mereka mau.

LALU NURUL YAQIN

Sejumlah persoalan yang mengekang dan tidak membangun keberadaban, melainkan cenderung mendistorsi keberadaban tersebut masih menari dan serpihan-serpihan itu terbentang dari hulu sampai ke hilir Pulau Lombok. Salah satunya tercermin dengan kayanya dialect, idiolect dan bahasa yang berbeda antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya dalam satu daratan yang sama “lain gerupuk lain jaje, lain gubuk lain bahase”.

Persoalan kebahasaan juga dalam tataran discursus masih sering diperdebatkan. Ketika satu orang memiliki temuan dalam kebahasaan, maka ramailah cendekia Sasak mencari tandingannya hingga berujung pada kalkulasi tak berujung bahwa ini yang benar, itu campuran, akulturasilah, punya bangsa lainlah, dan lain sebagainya. Menyatukan bahasa yang menjadi jajan sehari-hari saja begitu sulit, sehingga keberadaan Sasak seakan luntur oleh faktor sentiment aliastelu ate.

Pandangan diatas terkait keberadaan Bangsa Sasak yang mudah dipolarisasikan, digerus seperti barisan bebek, bukan sebagai bangsa. Sebagai bebek tentu saja akan berbaris rapi sesuai dengan kelibetan pemecut sang tuan, tapi sebagai Bangsa Sasak tentu tak akan pernah bisa dipecah belah, karena yang bernama bangsa ia menggunakan kekuatan fikirnya untuk berdikari dan beraksi.

Memang bangsa Sasak hingga dewasa ini tetap menjadi misterius akan asal rahim budayanya. Meski demikian, Bangsa Sasak itu unik. Bangsa Sasak tak mudah diurai dengan aksara, bahkan Sasak juga menjadi ilham pengetahuan dunia, sehingga banyak peneliti internasional berdatangan mengkaji tentang kesasakan Bangsa Sasak baik budanya maupun bahasanya.

Terlepas dari semua persepektif diatas, hal yang menarik dari Bangsa Sasak yang bisa dilihat dan ada sampai kini adalah keberagaman dialek, idiolek berbahasa dan kemerdekaan perilaku berbahasa. Walau bahasa sasak memiliki kesamaan dengan daerah-daerah lainnya di Indonesia, seperti Bali, Sunda, Jawa, Batak, Banjar, dan juga mirip dengan bahasa Tagalog di Filipina dan lain sebagainya, tetapi bahasa Sasak tetap memiliki warnanya sendiri.

Perkembangan bahasa Sasak dan pola perilaku budaya berbahasa masih menjadi konsen ahli linguistik baik lokal maupun internasional. Sehingga dalam tulisan ini, akan mengulas bagaimana kemerdekaan berinteraksi orang Sasak dalam berkomunikasi sehari-hari dengan melihat perilaku berbahasa, ujaran dan maksud ujaran yang digunakan, serta budaya yang mempengaruhinya.

Kajian ini mengadaptasi teori Grice’s cooperative principle (CP) yang popular dengan sebutan teori maxims, yaitu maksim kuantitas (maxim quantity), maksim kualitas, (maxim quality), maksim hubungan (maxim relevant / relation) dan maksim cara (maxim of manner), grice (1975). Penggunaan maksim-maksim diatas tidak dipatuhi semuanya oleh orang Sasak dalam berkomunikasi sehari hari. Pelanggaran tersebut bukan berarti orang Sasak ketika berbicara tidak koooperatif dengan lawan bicaranya (interlocutor) sebagaimana yang dikatakan oleh grice, apabila salah satu maxim tidak gunakan maka pembicara bisa dianggap tidak kooperatif atau tidak menunjukkan kesantunan dengan lawan bicara. Tetapi pelanggaran maksim diatas tidak bisa dikatakan bahwa orang Sasak berbicara dengan tidak sopan karena melanggar maksim tersebut.

Contoh percakapan bahasa sasak (A): “berembe wah belek pare no”? (bagaimana apa padinya dah besar?)(B): “darak aik bangket nani, jari selapuk an mate odak”. (tidakada air sawah sekarang, semuanya mati muda).Percakapan tersebut dianggap tidak koooperatif dalam melakukan komunikasi berdasarkan prinsip-prinsip maksim, karena si (B) tidak mematuhi konsep kooperatif principle dari grice maksims.(B) memberikan informasi yang lebih banyak dari yang dibutuhkan padahal si (A) hanya ingin tahu sudah besar padinya atau tidak, berdasarkan teori grice maxim si (B) telah gagal memberikan informasi kepada si (A) dan dapat dikatakan tidak cooperative, sebab si (B) tidak mematuhi maksim kuantiti atau juga maksim kualiti. Dalam maksim kuantiti, pembicara diharapkan memberikan informasi yang seimpormatif mungkin dalam kontek percakapan, tidak berlebihan dan tidak juga kurang.

Berikutnya dalam kontek maksim hubungan, ketika seorang mencoba untuk fokus pada topik pembicaraan, tapi justru orang Sasak sering melanggarnya. Tidak sesuainya orang sasak dalam berkomunikasi tidak mampu diformulasikan oleh prinsip-prinsip maksim ini, salah satu contoh(A)“ape jari rabok de nani” (apa pupuknya sekarang) jawaban (B)“dek man arak bantuan langan kelompok tani” (belum ada bantuan dari kelompok tani). Dalam percakapan diatas jelas (B) tidak menjawab sesuai dengan pertanyaan si (A) artinya (B) telah melanggar maksim hubungan. Jika dianalisis lebih lanjut percakapan diatas “apa pupuknya sekarang?” sangat jelas topik pembicaraannya tentang pupuk, tetapi jawabannya tidak berhubungan dengan maksud penanya “ belum ada bantuan dari kelompok tani”. Jelas menunjukkan si (B) tidak sukses memberikan informasi dan tidak kooperatip berdasarkan teori maksim.

Selanjutnya pelanggaran bahasa Sasak dalam maksim cara, (maxim of manner) dimana maksim cara memberikan informasi dengan singkat padat dan jelas dengan menghindari sesuatu yang ambigu. Contoh dalam percapakan bahasa sasak.(A) “pire kuwintal mauk de gabah, amak”? (berapa kwintal gabah yang didapat, pak?) Jawab (B)“cukup sik te mangan setahun”. (cukup untuk makan setahun). Kalau dianalisis percakapan diatas maksim cara (maxim of manner) tidak dipatuhi oleh si (B)sebab si (A) hanya bertanya “berapa kwintal gabah yang didapat”, tapi si B menjawab tidak jelas, tidak sesuai dengan maksud pertanyaan.

Dari semua maksim yang dikemukakan oleh Grices yang sangat popular bagi kalangan linguistik barat semuanya tidak dipatuhi oleh orang Sasak. Karena memang faktor budaya yang tidak memberikan ruang pada teori tersebut.Mengapa pelanggaran-pelanggaran tersebut terjadi pada maxim diatas,?menurut analisis penulis, ada dua hal yang menyebabkan hal tersebut terjadi.

    Pertama, faktor kesantunan (linguistic politeness) dari komunikasi si (A) dan (B) dalam menyampaikan informasi ke lawan bicaranya (interlocutor) si “B” selalu memberikan jawaban yang lebih banyak dari yang ditanyakan, hal ini dimaksudkan untuk menghindari pertanyaan berikutnya. Sebab menurut hasil penelitian orang sasak kalau bertanya sesuatu dan dijawab dengan pernyataan, mereka akan bertanya kembali untuk mendapatkan informasi yang lebih detail.

Kebiasaan ini sangat berpengaruh pada cara mereka berkomunikasi. Hal tersebut dapat diidentifikasi dari formulasi kesantunan yang dikemukakan oleh Lakoff (1992), formulasi pertama, “jangan menjatuhkan” (don’t impose), kedua, “memberi opsi” (give options), kedua, “memberikan perasaan yang baik, lebih bersahabat” (make feel good, be friendly). Oleh karena itu, percakapan orang Sasak biasanya memberikan informasi lebih banyak, untuk memberikan pilihan, agar lawan bicara (interlocutor) tidak perlu bertanya lagi karena informasi yang diberikan oleh pembicara cukup jelas. Seperti percakapan si (B) menambahkan jawaban untuk pertanyaan bicara dengan mengatakan “beli sapi wik, lek masbagek aji 8 jute” (beli sapi kemarin di masbagek harga 8 juta).Hal tersebut, dilakukan untuk membuat jelas atau untuk memberikan pilihan dan sebagai antisipasi pertanyaan lain atau pernyataan dari lawan bicara seperti “aji pire sik de meli”?’ (Berapa harganya?). Pembicara (B) mengasumsikan bahwa jika informasinya berhenti sampai “wah ku beli sapi” (saya telah membeli sapi), pertanyaan mungkin akan muncul lagi seperti’ “mbe taok de meli” (dimana tempatnya beli?). Oleh karena itu, ia menambahkan informasi untuk membuat jelas atau memberikan opsi agar lawan bicara (interlocutor) tidak bertanya lagi.

   Kedua, faktor budaya. Faktor yang mempengaruhi orang Sasak tidak pernah menggunakan prinsip kooperatif (cooporative principle) dan maksim-maksim yang dikemukakan oleh Grice’s karena nilai-nilai budaya pada masyarakat Sasak. Hal tersebut terkait dengan formulasi kesopanan yang dikemukakan oleh Lakoff pada (formulasi3) memberikan perasaan yang baik, lebih bersahabat, lebih ramah”.

Dalam masyarakat  suku Sasak, jika ada orang yang bertanya tentang sesuatu dan itu dijawab oleh hanya satu pernyataan, maka asumsinya bahwa pembicara tidak benar-benar peduli pada lawan bicaranya. Oleh karena itu, memberikan informasi lebih banyak seperti contoh percakapan diatas untuk memberikan rasa lebih nyaman atau menjadi lebih ramah.

Berdasarkan penjelasan diatas dapat ditarik beberapa entry point bahwa, sebagian masyarakat Sasak tidak kompromi terhadap prinsip-prinsip Grice yang telah menjadi rujukan para linguist international dalam melihat pola komunikasi di masyarakat. Akan tetapi dengan tidak mematuhi prinsip-prinsip Grice tersebut tidak berarti bahwa orang sasak dapat dikatakan tidak kooperatif atau mencoba untuk tidak membuat komunikasi menjadi harmonis sesuai dengan Grice maxim, tapi hal tersebut karena faktor kesantunan berbahasa (linguistic Politeness) dan faktor budaya yang melekat pada masyarakat sasak untuk memberikan pilihan atau membuat informasi yang lebih jelas kepada lawan bicara (interlocutor).

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

Diklatsar CPNS, Gubernur Ceritakan Harimau, Ular, Tikus, dan Lebah

MATARAM,DS-Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah didampingi Sekretaris Daerah Provinsi NTB Ir. H. Rosiady Sayuti, M.Sc., …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: