Berbagi Berita Merangkai Cerita

Warga Terisolir di Sirkuit Mandalika adalah Aset Berharga, Pelita Sarankan ITDC Jadikan Dusun Ebunut, dan Ujung Lauq Sub Sektor Pendukung MotoGP

223

FOTO. H. Lalu Pelita Putra. (FOTO. RUL/DS).

MATARAM, DS – Lebih dari 70 Kepala Keluarga (KK) yang terisolir di Sirkuit Mandalika terus menjadi perhatian berbagai pihak. Terlebih, sebentar lagi Provinsi NTB akan menjadi tuan rumah ajang bergengsi dunia, yakni, event World Superbike (WSBK) yang dihelat dalam waktu dekat dan juga MotoGP di tahun 2022.

Anggota DPRD NTB dapil 7 yang meliputi Kabupaten Lombok Tengah bagian Selatan, H.Lalu Pelita Putra, meminta agar pihak ITDC memerhatikan kesejahteraan warga Dusun Ebunut, dan Ujung Lauq di Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah yang terisolir akibat dampak pembangunan sirkuit MotoGP Mandalika.

Menurut Politisi PKB itu, puluhan kepala keluarga itu siap menyukseskan pembangunan gelaran MotoGP di tahun depan. Hanya saja, komunikasi yang intensif belum dilakukan oleh pihak ITDC. Padahal, jika diberdayakan warga itu adalah aset pendukung yang menguntungkan pihak ITDC.

“Saran saya ITDC harus mengajak warga duduk bareng sebagai keluarga besar. Ini karena warga siap menyukseskan gelaran MotoGP Mandalika, tapi memang ada komunikasi yang terputus yang perlu diurai lagi agar nyambung,” kata Pelita pada wartawan melalui telpon selulernya, Kamis (26/8).

Ia mengatakan keberadaan puluhan warga Dusun Ebunut dan Ujung Lauq di Desa Kuta, Kecamatan Pujut, telah berlangsung secara turun temurun sebelum proyek MotoGP di KEK Mandalika dikerjakan seperti sekarang ini. Oleh karena itu, penghargaan atas keberadaan mereka yang menjaga kawasan itu harus juga diperhatikan.

“Kalaupun kawasan tempat tinggal warga di Ebunut tidak akan dijadikan proyek MotoGP. Tapi, karena lokasi mereka berada di kawasan, alangkah indahnya untuk dilakukan penataan. Sehingga, ada kebanggaan warga memiliki tanah kelahirannya,. Inilah sub sistem yang saling mendukung itu,” tegas Pelita.

Menurut Pelita, penataan Dusun Ebunut dan Ujung Lauq di Desa Kuta, Kecamatan Pujut juga bisa dilakukan dengan menjadikan pemukiman warga sebagai homestay yang representatif bagi wisatawan yang akan menonton event balapan dunia tersebut. Pasalnya, para wisatawan yang menonton balapan MotoGP, tidak semuanya memiliki kantong tebal untuk bisa menginap di hotel berbintang di kawasan KEK Mandalika.

“Maka dari itu, pilihan dengan memberdayakan potensi masyarakat Dusun Ebunut dan Dusun Ujung Lauq dengan mendirikan homestay dirasa pilihan yang memanusiakan warga. Harapannya, penataan kawasan tanpa menggusur rakyat menjadi solusi menjadikan warga setempat sebagai sub sistem pendukung suksesnya gelaran MotoGP Mandalika tahun 2022 akan bisa terwujud kedepannya,” jelas Lalu Pelita Putra.

Sebelumya, perwakilan warga Dusun Ebunut, Desa Kuta, Kecamatan Pujut menemui Gubernur NTB Zulkieflimansyah membahas solusi pembebasan lahan hingga akses jalan keluar masuk warga yang terisolir di sirkuit.

Pada pertemuan yang dihadiri Polda NTB, Kapolres Lombok AKBP Hery Indra Cahyono, Sekda NTB Lalu Gita Ariadi, Kepala Bakesbangpoldagri NTB Lalu Abdul Wahid, dan tokoh masyarakat setempat. Sayangnya, belum ada solusi konkret terkait nasib mereka.

Keterangan yang dihimpun menyebutkan, terowongan atau tunnel 2 sirkuit menjadi satu-satunya akses jalan sampai saat ini. Sayangnya, terowongan tersebut kerap digenangi air. Bahkan jika mesin pompa terowongan mati, air akan naik hingga setinggi leher orang dewasa.

Sibawaih, warga Dusun Ujung Lauq, Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah mengatakan, solusi akses jalan sudah disiapkan melalui tunnel atau terowongan.

Tetapi terowongan yang disiapkan belum layak dilalui sehingga warga terisolir. “Saya juga terisolir karena saya berada di bibir pantai dan harus melalui sirkuit itu sendiri,” katanya, usai bertemu gubernur, Senin (23/8) lalu.

Jumlah warga yang masih terisolasi di dalam lintasan sirkuit lebih dari 50 KK. Di samping itu juga ada warga yang di luar lingkaran lintasan.Dari Dusun Ebunut dan Dusun Ujung Lauq, Desa Kuta, sehingga ada sekitar 84 KK yang masih bertahan.

Damar, warga Dusun Ebunut, mengatakan mereka yang masih tinggal di dalam sirkuit dibuatkan akses jalan yakni di terowongan atau tunnel 2.

“Untuk saat ini, mau tidak mau kita harus melewati terowongan seperti biasa, tapi yang jelas pemerintah akan mendorong agar ITDC memperhatikan itu agar tidak tergenang air,” katanya.

Sebab jika mesin pompa terowongan tersebut mati, terowongan tersebut akan tergenang air. “Kalau mesinnya mati otomatis airnya naik setinggi leher,” katanya.

Kalau air naik, truk atau tronton pun tidak bisa melintasi terowongan tersebut. “Airnya setinggi leher,” katanya.

Dengan kondisi tersebut, warga tidak bisa melintasi terowongan. Sampai akhirnya warga menjebol pagar besi pembatas sirkuit sebagai akses masuk.

“Opsi kami terakhir ya menjebol pagar besi yang dibangun pihak pengembang,” katanya.

Atas persoalan itu, warga sudah mendatangi kantor PT ITDC, mereka sanggup akan mengeringkan. “Syukur beberapa hari ini, tiga hari ini sudah bisa dilewati,” katanya.

Karena itulah warga datang ke kantor gubernur NTB, tujuan utamanya “Karena rasa keprihatinan sesama masyarakat yang terisolir di dalam sirkuit, karena kalau musim hujan itu otomatis banjir,” katanya.

Posisi lahan tersebut sudah jauh lebih rendah dari Sirkuit Mandalika. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.