Berbagi Berita Merangkai Cerita

Wakil Ketua DPRD Lotim Nilai Tim Gugus Tugas Bekerja Tanpa Perencanaan

35

SELONG, DS – Wakil Ketua DPRD Lombok Timur, Badran Achsyid menilai Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Lombok Timur, bekerja tanpa perencanaan yang jelas. Hal ini diungkapkannya saat ditemui wartawan disela evaluasi terhadap sejumlah OPD yang terlibat dalam penanganan Covid-19, Rabu (10/06/2020).

“Perencanaan dadakan saja, saya lihat seperti itu. Saya melihat tidak terencana bagus. Kadang-kadang sifatnya accidentil saja,” ucap Badran.

Menurutnya perlu skema yang jelasa dalam penanganan Covid-19 baik itu dari segi penggunaan anggaran maupun dampak yang ditimbulkan oleh pandemi yang melanda Lombok Timur saat ini.

“Kita belum mendapatkan skenario dari penanganan Covid ini. Baik dari posisi anggaran, dampak sosial, dampak ekonomi, maupun dari dampak sisi agamanya,” pungkasnya.

Perlunya perencanaan yang jelas untuk mengukur kemampuan anggaran yang tersedia. Serta memperkirakan sejauh mana penanganan pandemi yang dapat dilakukan oleh tim gugus tugas Lombok Timur dengan dana sebesar Rp. 123 milyar yang telah alokasikan untuk penanganan Covid-19.

“Misalnya, tiba-tiba ada keinginan penjagaan di perbatasan. Ada tidak perencanaan dari awal seperti itu? Atau ini hanya latah-latahan saja. Atau misalnya yang lainnya. Ini menyangkut soal anggaran juga,” ujarnya.

Dikhawatirkannya, dengan dana yang telah direalokasikan dari berbagai sumber keuangan daerah tersebut, tim gugus tugas akan kehabisan anggaran. Sementara, pandemi Covid-19 ini tidak dapat diprediksi kapan akan berakhir, dan sejauh mana penularannya. “Tiba-tiba nanti anggaran habis. Meledak lagi. Mau apa kita?” tandas kader Gerindra tersebut.

Dicontohkannya, RSUD Soedjono Selong telah menyerap 64% jatah anggarannya. Meskipun demikian, saat terjadi outbreak (peningkatan) pasien, RSUD Soedjono Selong tidak mampu menampung pasien yang seharusnya mendapat pelayanan isolasi. “Sampai ada pasien yang kita temukan di Kecamatan Terara yang tidak bisa masuk karena outbreak itu,” kesalnya.

Meskipun pada penanganan Covid-19 tahap I dinilai sukses, namun ledakan pasien Covid-19 di tahap II ini harus ditangani dengan perencanaan yang matang. Terlebih, saat ini banyak pasien positif Covid-19 yang merupakan anak-anak.

“Kemarin optimis habis Mei. Sekarang tiba-tiba meledak. Yang parah, anak-anak yang kena. Kalau dulu, anak-anak hanya PDP,” sesalnya. Dd

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.