Berbagi Berita Merangkai Cerita

Wajib Serap Beras Petani, Gubernur Warning Bulog

0 8

MATARAM, DS – Tidak optimalnya serapan beras dan gabah milik petani saat musim panen tiba oleh pihak Divre Bulog di NTB selama ini, mengundang reaksi Gubernur Dr. TGH. Muhamad Zainul Majdi. Orang nomor satu di Bumi Gora tersebut mewarning perusahaan plat merah pada musim panen tahun ini.

TGB menegaskan, Bulog NTB harus mampu menyerap semua hasil panen petani dengan harga wajar atau sesuai harga pembelian pemerintah (HPP). Selain itu, ia meminta agar para petani di wilayahnya jangan lagi dirugikan oleh kinerja Bulog yang tidak sesuai harapan.

“Sudah berminggu-minggu ini mulai masuk musim panen. Awas, Bulog kita minta harus berhasil serap hasil panen. Sekali lagi, jangan diulang-ulang setiap tahunnya penyakitnya, kan jadinya kayak anak kecil,” tegas Gubernur menjawab wartawan, Rabu (8/3).

Zainul Majdi mengakui, keberadaan Bulog dipastikan bukanlah merupakan entitas bisnis. Sebabnya, Bulog itu adalah alat negara yang keberadaanya guna membantu para petani. Yakni, melalui penyerapan hasil petani dengan harga yang wajar. Kalau itu tidak dilakukan

“Kan pemerintah termasuk para Menteri dan Saya, tidak bisa mencangkul kayak petani setiap harinya. Disinilah vitalnya Bulog itu hadir membantu para petani. Jadi, kalau sampai itu tidak juga bisa dilakukan, itu artinya Bulog berkhianat pada negara,” kata Gubernur lantang.

Terkait, upaya daerah untuk menyerap hasil panen petani melalui pembentukan BUMD. Gubernur mengaku, hal itu bisa saja dilakukan pihaknya. Meski demikian, pembentukan BUMD bisa dilakukan jika mendapat dukungan dari semua pihak. “Masalahnya apa iya kita akan berkompetisi dengan alat negara lain, masak BUMD akan rebut-rebutan di petani. Kan gak enak kita,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan provinsi NTB, Ir. H. Husnul Fauzi juga mengingatkan agar Bulog menyerap hasil panen petani. Mengingat, harga saat ini masih dibawah HPP sehingga tidak ada alasan bagi Bulog untuk tidak membeli.

“Sekarang baru 40 persen penyerapan dilakukan dari target. Seharusnya Bulog memanfaatkan situasi saat ini, harga dibawah HPP,” kata Husnul.

Husnul sendiri belum menerima informasi resmi jumlah penyerapan gabah atau beras yang terbaru. Namun, data per 21 Februari 2017, Bulog baru menyerap sebanyak 60 ton setara beras dari total kontrak sebanyak 200 ton dari 3 unit Satker dan 2 mita kerja pengadaan.
Pengadaan beras sebanyak 60 ton tersebut baru terserap di Kabupaten Lombok Timur sebanyak 30 ton dan Kabupaten Lombok Tengah sebanyak 30 ton.

“Jangan sampai kita kecolongan lagi seperti tahun-tahun lalu. Makanya kita mau bertemu dengan Bulog dulu ini,” ujarnya.

Bulog sendiri membeli gabah dan beras petani sesuai dengan HPP. Harga gabah kering panen (GKP) sesuai HPP dibeli seharga Rp 3.750 per kilogram, gabah kering giling (GKG) dengan harga Rp 4.600 per kilogram dan pembelian beras dengan harga Rp 7.300 per kilogram.
Seringkali, alasan Bulog tidak bisa menyerap hasil panen petani karena harga pasarannya di atas HPP. Akibatnya, petani lagi-lagi dirugikan tanpa harus bisa berbuat apa-apa. Ketika tidak dibeli oleh Bulog, seringkali petani menjual ke pihak lain dengan harga jauh di bawah HPP.

Sementara itu, target provinsi NTB dalam jumlah produksi mencapai. 2,5 juta ton. Target tersebut meningkat dari tahun lalu yang hanya 2,4 juta ton. “Kita optimis bisa wujudkan, sekarang persoalannya bagaimana agar hasil panen tersebut bisa diserap oleh Bulog,” tandas Husnul Fauzi. fahrul

Leave A Reply