Berbagi Berita Merangkai Cerita

Wagub Imbau Warga NTB Waspada Beredarnya Obat Palsu Trihexyphenidyl

0 45

MATARAM, DS – Wakil Gubernur Siti Rohmi Djalilah mengimbau masyarakat lebih meningkatkan kewaspadaan saat akan membeli obat. Imbauan tersebut dia sampaikan menyusul ditemukannya peredaran ribuan tablet dari beberapa obat ilegal sejenis pil Halusinogen seperti pil Trihexyphenidyl palsu.

Obat ini jika dikonsumsi dapat menimbulkan efek buruk bagi kesehatan, bahkan merusak mental masyarakat. “Berhati-hatilah saat akan membeli obat, teliti kemasannya, izin edar, dan tanggal kadaluarsa pada produk obat dan makanan tersebut sebelum dikonsumsi,” ujar Rohmi menjawab wartawan, Kamis (27/6).

Rohmi meminta agar masyarakat melaporkan hal-hal yang mencurigakan, termasuk apotek atau kios tempat penjualannya. Rohmi juga meminta instansi terkait lebih intens memberikan sosialiasi dan edukasi kepada masyarakat sehingga tidak ada lagi celah bagi pelaku kejahatan untuk mengedarkan obat-obat berbahaya di tengah ketidaktahuan masyarakat.

Sementara itu, Kepala Badan POM Mataram Ni Gusti Ayu Nengah Suarningsih menyatakan, berdasarkan hasil operasi tindakan pemberantasan obat ilegal dan penyalahgunaan obat yang dilakukannya, telah diamankan sebanyak 15 ribu papan pil Trihexyphenidyl ilegal. Nilainya mencapai Rp 150 juta dari tangan tiga tersangka di Gomong, Kota Mataram.

“Obat-obat yang diamankan tersebut adalah obat ilegal sejenis pereda rasa sakit atau obat penenang untuk mengobati penyakit Parkinson,” ujar Suarningsih.

Suarningsih menjelaskan, obat-obat tersebut kalau dipakai secara berlebihan dapat menimbulkan efek negatif seperti halusinasi, berperilaku negatif, merasa menjadi lebih berani, hinga bertindak kriminal. Suarningsih menyebutkan ciri-ciri obat ilegal pereda rasa sakit Trihexyphenidyl dengan mudah dapat dikenali dari kemasannya yang lebih kecil dari yang asli.

Warnanya berbeda dari yang asli, di mana strip pada obat tersebut hitam-hitam, sedangkan yang asli strip warna hijau dan coklat. “Obat ilegal ini warnanya mencolok dan berbeda dengan yang terdaftar di BPOM,” tandas Suarningsih. RUL.