Membangun Masyarakat Cerdas dan Berwawasan Luas

Vaksin Covid-19 Tahun Depan Baru Diuji Massal

35

MATARAM, DS- Pandemi Covid-19 sudah menyerang dunia sejak akhir Desember 2019 lalu. Saat ini, berbagai jenis vaksin sudah berhasil ditemukan.

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengatakan, banyak perusahaan-perusahaan di berbagai negara telah membuat vaksin Covid-19. “Yang paling maju adalah vaksin dari Tiongkok, perusahaan Sinopec,” terangnya saat melaksanakan kunjungan kerja (Kunker) ke Provinsi NTB, Selasa Petang (21/7) .

Vaksin virus corona asal perusahaan farmasi China Sinopec itu bahkan telah hadir di Indonesia. Saat ini, vaksin tersebut sedang uji klinis terhadap manusia oleh BUMN Bio Farma.

Menurut Tito, apabila hasil uji coba dinilai bagus, maka akan segera diproduksi secara massal. Perusahaan Sinopec bekerjasama dengan Bio Farma di Indonesia. “Tapi masih butuh uji klinis. Dari Tiongkok ini yang paling cepat vaksinnya,” kata Tito.

Sebenarnya, ujar Tito, di dalam negeri sendiri sudah ada dilakukan pembuatan vaksin. Namun diperkirakan bisa diketahui hasilnya tahun depan. “Entah akan sukses atau tidak. Negara lain juga tahun depan baru bisa. Tiongkok yang bisa tahun ini,” imbuhnya.

Persoalannya, meskipun vaksin sudah ditemukan, bukan berarti pandemi Covid-19 bisa segera berakhir. Masih butuh waktu yang cukup panjang untuk bisa mengontrol penyebaran Covid-19.

Untuk melakukan vaksin terhadap dunia atau dalam satu negara, minimal 2/3 dari populasi harus diberikan vaksin. “Itu artinya Sinopec harus produksi sekitar 177 juta khusus untuk Indonesia saja. Mampu gak diproduksi cepat? Ini persoalannya,” ungkap Tito.

Meski vaksin telah ditemukan, keberadaan pandemik masih panjang. Untuk melakukan produksi massal butuh waktu berbulan-bulan. Apalagi dengan jumlah penduduk Indonesia yang merupakan terbesar ke-4 di dunia.

Setelah vaksin diproduksi massal, distribusi juga membutuhkan waktu panjang. Geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan, juga akan membuat proses distribusi cukup panjang. “Apalagi Indonesia negara kepulauan. Itu membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk distribusi,” katanya.

Tidak berhenti sampai proses distribusi. Pelaksanaan vaksinasi lebih membutuhkan waktu lagi. Bukan hanya waktu, namun juga Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni. “Waktu eksekusi vaksinasi, itu kan harus tenaga medis. Sehingga diperkirakan berbulan-bulan, butuh waktu hingga akhir 2021,” sebut Tito.

Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono, meminta masyarakat untuk meningkatkan disiplin penerapan protokol Covid-19. Mengingat, pandemi Covid-19 belum diketahui kapan akan berakhir.

Sikap disiplin, ucapnya, adalah kunci dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19. “Karena Covid-19 tidak mengenal dewan, politisi, TNI. Setiap orang harus disiplin, gunakan masker, physical distancing , dan lain-lain,” imbaunya.

Fakta di lapangan, justru ada terjadi pengambilan jenazah pasien Covid-19 secara paksa. Hal semacam itu terjadi di Provinsi NTB. “Jika ini tidak dicegah maka Covid-19 akan terus ada. Kita harus terus lakukan edukasi kepada masyarakat. Tapi jangan lagi ada kejadian pengeroyokan saat petugas melakukan rapid test dan swab,” pintanya.

Kepala Staf Umum TNI, Letnan Jenderal Joni Supriyanto dalam kesempatan tersebut juga mengingatkan semua pihak untuk menyatakan perang terhadap Covid-19. “Nyatakan perang dengan Covid-19. Kuncinya sangat sederhana, pakai masker, jaga jarak dan cuci tangan. Selesai,” tandas Supriyanto. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.