A place where you need to follow for what happening in world cup

Usaha Ikan Koi Menggeliat di Pandemi Covid-19, DKP NTB Siap Bantu Fasilitasi Pembibitan

75

FOTO. Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan NTB Yusron Hadi saat meninjau sekaligus memberi makan ikan Koi milik salah satu komunitaa Ikan Koi di Mataram. (FOTO. RUL/DS).

MATARAM, DS – Ikan Koi bisa menjadi alternatif bisnis di masa pandemi Covid-19 ini. ikan yang sering ditemui sebagai penghuni kolam taman karena keindahan warna dan motif di badannya. Ikan ini bahkan dipercaya sebagai lambang kehokian.

Tak hanya dinikmati keindahannya, ikan koi juga memiliki nilai bisnis yang tinggi. Saat ini banyak bermunculan pebisnis pada komoditi ini. Rudi Rosantoro beberapa tahun terakhir menggeluti budidaya ikan koi. Brach Manajer salah satu perusahaan pembiayaan swasta nasional ini bahkan telah memiliki penangkaran untuk memudahkan mereka yang membutuhkan ikan khas Jepang ini.

Penangkaran memanfaatkan fasilitas tempat tinggalnya di Asia Asri Regency A.6 Jalan Gajah Mada Jempong Baru Kota Mataram. Dari hobi, menjadi potensi bisnis. Permintaan ikan koi terus naik, selain di Kota Mataram, juga dari Kabupaten Lombok Timur. Biasanya tempat-tempat subur air dimanfaatkan untuk memelihara ikan jenis nila. “Dari Lotim itu banyak yang minta bibit ikan koi.  Yang biasanya melihara ikan nila,” kata Rudi kepada wartawan, Jumat (26/2).

Ikan koi adalah jenis ikan hias. Bukan ikan konsumsi. Sebelumnya, ikan koi ini identik dengan kelompok masyarakat menengah ke atas. Tetapi sekarang hampir merata. Jumlah penangkaran ikan koi saat ini masih terbatas di Pulau Lombok. Sementara permintaannya tinggi. Memelihara ikan koi kata Rudi sangat gampang. 

Terpisah, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB Yusron Hadi menjawab soal perhatian pemerintah daerah terhadap ikan hias. Untuk ikan hias, sementara ini memang bukan prioritas. Namun tetap akan pula menjadi perhatian.

Terlebih, telah ada komunitas ikan Koi yang tumbuh subur dan menggeliat di beberapa lokasi di NTB. Salah satunya, di Kota Mataram.

Walaupun NTB sudah memiliki sentra pembenihan di Serumbung, dan Sekotong Lombok Barat. Yang utama, kata kepala dinas, budidaya udang vannamei, lobster, rumput laut, mutiara, ikan nila dan lele. Sementara untuk perikanan tangkap diutamakan tuna, cakalang, kerapu dan jasa kelautan diutamakan garam, minawisata dan hiu paus di Teluk Saleh.

“Sudah kita budidaya juga ikan hias. Kita fasilitasi masyarakat. Tapi yang utama adalah yang saya sebut itu. Tapi, kami akan berusaha memfasilitasi para komunitas pecinta ikan Koi itu,” kata Yusron. 

Di Indonesia, beberapa daerah yang dikenal sebagai sentra produksi koi ada di Blitar dan Tulung Agung untuk Jawa Timur. Sementara di Jawa Barat ada Sukabumi dan Bogor. Selanjutnya, Lombok juga telah siap menjadi pusat Koi.

Potensi besar yang dimiliki Lombok, kata Budi, kualitas airnya yang bersumber dari Gunung Rinjani. Selain itu, ketersediaan air juga tercukupi. Terutama di bagian utara Kabupaten Lombok Barat dan Lombok Tengah.

Lombok menurutnya berpotensi besar menjadi penyedia ikan koi untuk kebutuhan dalam negeri. Sementara ini, salah satu kendala produksi dalam jumlah besar adalah kolam tebar untuk pembesaran.

“Yang paling dibutuhkan sekali adalah kolam pembesaran. Untuk sarana prasarana lainnya, tidak cukup sulitlah bagi para pecinta koi ini memenuhi sendiri,” jelas Budi.

Untuk indukan, menurut Budi sudah tersedia cukup banyak. Terutama para pecinta koi yang sudah lama. Rata-rata ikan koi koleksinya sudah dijadikan indukan.

Permintaan bibit koi kata Budi cukup tinggi. Itupun hanya ditawarkan lewat media sosial. Harganya, jika dijual borongan Rp25.000-Rp75.000/ekor dengan ukuran panjang 15 cm. RUL

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.

Lewat ke baris perkakas