Berbagi Berita Merangkai Cerita

Ulama Lotim Menangis Tandatangani Imbauan Penutupan Masjid, Ini Penjelasan Bupati Terkait Aktifitas di Masjid

0 26

SELONG, DS – Bupati Lombok Timur, Sukiman Azmy mengatakan aktifitas ibadah di masjid tetap berjalan meskipun telah diberlakukan penutupan sementara. Hal tersebut bisa dilihat masyarakat dengan tetap adanya adzan dan aktifitas lainnya sebelum waktu sholat.

“Aktifitas di masjid tetap berjalan. 15 menit sebelum adzan, ada pengajian Al-Quran. Tahrim, Talkin, tetap berjalan. Sholat berjamaah tetap berjalan. Karena ada yang azan,” jelas Sukiman di hadapan para Tokoh Agama, Rabu (16/04/2020).

Penutupan masjid tersebut dimaksudkan untuk membatasi kegiatan peribadatan yang menimbulkan kerumunan. Karena, melalui kerumunan tersebut berpotensi menjadi media penularan virus Corona yang saat ini sedang diperangi Indonesia, bahkan dunia.

“Jadi, masjid bukan di lock sama sekali. Tidak bisa beraktifitas, tidak. Hanya jama’ah dilarang berkumpul, berhimpun, berkerumun di dalamnya,” katanya.

Langkah penutupan ini hanyalah pemindahan lokasi ibadah umat muslim Lotim dari masjid ke rumah masing, untuk sementara waktu hingga wabah Covid-19 hilang dari Bumi Patuh Karya.

Sementara menunggu lenyapnya wabah, masyarakat diminta untuk tetap beribadah di rumah masing-masing. Setiap menjelang waktu sholat, aktifitas ibadah di masjid tetap diisi oleh para pengurus masjid.

“Dua, tiga orang cukup mewakili di masjid itu. Marbot, muazin, imam. Lalu, selesai itu ada yang mau wirid, silahkan wirid. Mari kita luruskan semua paham yang tidak pada tempatnya ini. Yang mengatakan tidak boleh ke masjid, tidak boleh ada aktifitas dan seterusnya,” ucapnya.

Sukiman pun menyayangkan sikap masyarakat yang masih terlalu percaya diri sehingga tidak mematuhi protokol kesehatan yang telah ditetapkan untuk meminimalisir resiko penularan virus Corona.

Ia kembali mengingatkan agar masyarakat bersedia menerapkan protokoler kesehatan yang ada. Karena perilaku abai tersebut dapat merugikan orang lain.

“Percaya dirinya yang baik, bagus. Tapi, dalam situasi seperti ini, akibat pribadi kita yang percaya dirinya berlebih, tidak menjaga jarak, tidak melakukan protokol kesehatan. Ini yang berbahaya, sekeliling kita yang akan mendapatkan musibah,” tandasnya.

Senada dengan Bupati Lombok Timur, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Lotim, TGH. Ishak Abdul Gani, menuturkan bahwa para ulama yang tergabung di MUI Lotim menangis saat menandatangani surat imbauan penutupan masjid. Namun, langkah tersebut harus diambil karena wabah Covid-19 yang sedang melanda Lombok Timur, termasuk dalam kategori darurat.

“Kami yang jadi khatib, kami yang jadi imam, menangis saat menandatangani itu. Tapi karena ad-daruroh. Darurat, yang mengantarkan kita sejenak bersabar, berpindah dari masjid besar ke masjid-masjid kita. Sesungguhnya bumi ini dibuat sebagai masjid. Kita tidak pernah meninggalkan masjid, tapi berpindah,” terangnya.

Keputusan pelarangan sholat berjamaah juga diambil untuk mencegah wabah, berdasarkan protokoler pencegahan penularan Covid-19 yang dianjurkan oleh para ahli kesehatan. Adapun larangan yang dimaksud adalah larangan untuk berkumpul, bukanlah larangan untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta.

“Karena ada protokol di Covid ini yang dilarang bukan sholat Jum’atnya. Tetapi berkumpulnya. Sholat Jum’at itu berkumpul yang paling besar untuk kita (umat muslim,red),” jabarnya. dd

Leave A Reply