Berbagi Berita Merangkai Cerita

Uji Klinis Masih Fase Tiga, Gapeksindo NTB Ragukan Khasiat Vaksin Sinovac

73

FOTO. H. Bambang Muntoyo. (FOTO. RUL/DS).

MATARAM, DS – Pemerintah tengah menyiapkan program vaksinasi Covid-19 bagi masyarakat Indonesia. Hal tersebut dilakukan agar pandemi Covid-19 segera teratasi dengan baik.

Kendati demikian, masih dijumpai sebagian kalangan yang meragukan keamanan dan efektivitas dari penggunaan vaksin Covid-19.Keraguan tersebut lantaran efek samping yang bisa ditimbulkan setelah seseorang disuntikkan vaksin Covid-19.

Ketua Gapeksindo NTB H. Bambang Muntoyo mengatakan, kendati telah ada sebanyak 28.760 dosis vaksin covid-19 buatan Sinovac  tiba di Kantor Dinas Kesehatan (Dikes) NTB di Mataram melalui Bandara Internasional Lombok (BIL), Selasa (5/1) lalu. Namun ia juga masih dalam posisi keraguan terkait kemampuan vaksin tersebut.

“Mewakil rakyat, saya masih ragu dengan vaksin Sinovac tersebut. Apalagi, hasil uji klinis masih dalam fase 3. Maka wajar saya juga masih ragu jika ada program vaksinasi itu,” kata Bambang pada wartawan, Kamis (7/1).

Mantan Ketua Pemuda Pancasila (PP) Kota Mataram itu mengaku, hingga kini belum ada sosialisasi dan edukasi pada masyarakat terkait keberadaan dan khasiat vaksin Sinovac asal Tiongkok tersebut.

Untuk itu, Bambang mengingatkan, lantaran vaksinasi itu untuk keselamatan manusia, sebaiknya masyarakat untuk tahap awal diberikan kebebasan terlebih dahulu untuk memilih sambil melihat hasil dari penggunaan vaksin tersebut.

Apalagi, lanjut Ketua Taekwondo Mataram itu, di negara Tiongkok yang telah memproduksi vaksin tersebut, justru mereka malah membeli sebanyak 100 juta dosis vaksin Biontech SE buatan negara Jerman

“Kalau saya mengusulkan kenapa tidak pemerintah Indonesia juga membeli saja vaksin dari Jerman itu. Ini agar masyarakat punya pilihan, sehingga mereka punya kesadaran untuk mau di vaksin untuk mencegah penyebaran Covid-19,” ujar Bambang.

Sebagai pembanding. Menurut dia, negara kecil, seperti Kamboja saja menolak diberikan vaksin Sinovac dari Tiongkok. Sebab, sejauh ini, justru belum disetujui oleh organisasi kesehatan dunia secara gratis.

“Jadi, kenapa Indonesia buru-buru menggunakan vaksin tersebut. Prinsipnya, kalau hasilnya baik dan aman, jangankan gratis, membayarpun rakyat siap demi keselamatannya,” tandas Bambang.

“Kenapa saya berbicara ini mewakili jutaan masyarakat, karena banyak berita di media sosial dan media yang menyebutkan jika Sinovac ini macam pro dan kontranya. Jadi, kita bingung, mana yang benar dan mana yang tidak benar,” sambungnya. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.