Berbagi Berita Merangkai Cerita

Ujaran Kebencian Tanda Landasan Budaya Bangsa Mulai Terkikis

0 16

MATARAM, DS – Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban, Prof Din Syamsuddin, mengaku risau. Pasalnya, dinamika kehidupan media sosial dengan berbagai macam ujaran kebencian yang dilakukan pihak tertentu di Indonesia saat ini telah masuk pada tahap yang mengkhawatirkan.

Parahnya, ujaran kebencian, penghinaan terhadap sesama dan penonjolan kepentingan politik sektarian yakni, adanya kebenaran secara mutlak, sepihak dengan penuh keantagonisan itu banyak berkembang di kalangan kaum terdidik.

“Praktek kayak gitu itu akibat memang bangsa ini sedang gamang. Karena, memang tidak cukup tersedia landasan budaya. Yakni, ketika era reformasi, media sosial kita tumbuh pesat, tapi terjebak dalam wacana yang hanya bersifat dialektika,” ujar Din Syamsuddin menjawab wartawan usai menghadiri dialog dan silaturahmi pemuka agama se-NTB di Pendopo Gubernur NTB, Minggu (15/7).

Wakil Dewan Pembina MUI itu menegaskan penggunaan nama binatang terhadap manusia serta pada kelompok lain siantaranya kata ‘cebong’ atau ‘kampret’ yang beredar di media sosial belakangan ini merupakan tindakan  penghinaan pada harkat kemanusian yang merupakan penciptaan Allah SWT

Oleh karena itu, Din Syamsuddin mengaku keberatan dengan penggunaan nama hewan dalam dinamika media sosial saat ini. “Manusia itu, siapa pun, adalah makhluk ciptaan Allah. Agama menyebutkan, walaqad karramna bani Adam, ‘Kami memuliakan bani Adam’. Bukan hanya muslim, bukan hanya mukmin,” tegasnya.

Untuk itu, penggunaan nama-nama hewan atau julukan yang buru. Menurut Din, sama saja tidak menghargai manusia yang telah diciptakan oleh Tuhan. Oleh sebab itu, ia meminta masyarakat untuk tidak lagi menggunakan istilah-istilah tersebut.

“Mohon maaf, itu tidak sesuai dengan akhlak Islam. Siapa pun, baik pihak ini ke sana, pihak ini ke situ, sama salahnya kalau memberi label (hewan) ke manusia,” kata dia.

Din pun mengajak segenap keluarga besar bangsa untuk mengubah hubungan antar sesama yang bersifat dialetik menjadi hubungan yang bersifat dialogis. “Pokoknya, apapun itu, ujaran kebencian yang kini marak di kalangan kaum terdidik itu harus kita perangi bersama. Sekali lagi, itu adalah tanggung jawab kita berbangsa dan beragama jika ingin melihat Indonesia menjadi bangsa maju dan besar kedepannya,” tandasnya. RUL.

 

Leave A Reply