Berbagi Berita Merangkai Cerita

Ubah Sawah jadi Distinasi Wisata, Ruslan : Siap Wujudkan Kampung Svarga Bumi Pakai Dana Aspirasi Dewan

34

FOTO. Inilah Svarga Bumi, sawah yang naik kelas menjadi destinasi wisata unggulan di Jawa Tengah yang membuat petani di Magelang meningkat kesejahteraannya. (FOTO. RUL/DS

Mengenal kata sawah biasanya siapapun akan terpikirkan dengan petani. Dengan pakaian lusuh penuh lumpur, mereka sehari-hari berjibaku menanam padi dan tanaman lainnya sehari-hari.

Namun, kondisi itu tidak terjadi di Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Di tempat ini, ada sawah yang tidak hanya dikunjungi petani, tapi selalu ramai oleh wisatawan. Mulai artis, pejabat hingga kalangan millenial, semuanya ramai-ramai berkunjung ke tempat itu.

Oleh. FAHRUL MUSTOFA

Adalah Svarga Bumi, sawah yang naik kelas menjadi destinasi wisata unggulan di Magelang. Sejak dibuka pada 8 Agustus 2020 lalu, Svarga Bumi menjadi sawah yang ramai dikunjungi wisatawan dan viral di media sosial.

Konsep wisata alam yang diusung di tempat itu sangat menarik. Di tengah-tengah sawah, dibuat banyak spot foto yang instagramable. Selain itu, lokasinya yang hanya 300 meter dari Candi Borobudur, membuat lokasi itu begitu eksotis. Orang bisa berfoto dengan background persawahan juga Candi Borobudur.

Selain bisa berfoto ria, para pengunjung juga bisa melihat aktivitas petani yang sibuk menggarap sawahnya setiap hari. Seperti tidak terusik dengan ramainya

“Tema Svarga Bumi adalah pelestarian alam dengan nilai tambah. Jadi, kami tetap mempertahankan sawah sebagai tempat bercocok tanam, dan memberikan nilai tambah dengan mendatangkan wisatawan,” kata penggagas Svarga Bumi, Putranto Cahyono (46) pada wartawan saat ditemui di lokasi, Jumat (16/10) lalu.

Pungky, sapaan akrab Putranto mengatakan, destinasi wisata itu ia konsep sejak Juli 2019 lalu. Karena tak ingin hanya Candi Borobodur yang menjadi jujugan wisatawan, ia memutar otak dengan mengembangkan destinasi baru.

Dengan tetap mempertahankan Candi Borobudur sebagai ikon, ia menyulap sawah yang biasanya hanya untuk bercocok tanam menjadi destinasi wisata unggulan.

“Sawah-sawah ini masih 100 persen milik petani, jadi kami menyewa sawah ini kepada mereka. Tapi, mereka tetap bisa menggarap sawahnya, bahkan kami suplai keperluan mereka, mulai air, pupuk hingga bibit bagi petani untuk terus menanam di sini. Saat panen, kami tidak meminta sedikitpun hasilnya,” jelasnya.

Dengan kerjasama itu, para petani tidak dirugikan dengan aktivitas destinasi wisata yang ada di sana. Justru, mereka menjadi lebih produktif, karena pengairan, bibit serta pupuk disuplay oleh pengelola.

“Ada 30 an petani yang memiliki lahan seluas 4 hektare ini. Semuanya tetap bisa bekerja seperti biasanya, dan itu yang menjadi nilai tambah pariwisata ini karena terlihat alami” tandas Putranto.

Untuk menikmati wisata di Svarga Bumi, pengunjung hanya dipungut tiket masuk Rp25.000 untuk dewasa dan Rp15.000 untuk anak-anak. Tempat wisata itu buka setiap hari, kecuali hari Kamis.

“Kami ada sehari waktu libur, yakni setiap Kamis. Tapi kalau Kamis itu pas tanggal merah, kami tetap buka. Setiap hari, sekitar 200 san pengunjung yang datang ke sini,” ucapnya.

*NTB Minim Inovasi

Terpisah, Anggota DPRD NTB H. Ruslan Turmudzi mengaku takjub dengan adanya destinasi wisata baru berkonsep Sawah Modern yang instagramable dan berdekatan dengan Candi Borobudur tersebut.

Menurut politisi PDIP yang ikut serta bersama Wakil Ketua DPRD Mori Hanafi, rombongan jurnalis parlemen, Diskominfotik dan Sekretariat DPRD NTB, sejatinya keindahan alam NTB jauh lebih indah dari wilayah setempat.

Hanya saja, kreatifitas dan inovasi yang dilakukan Dispar NTB selaku OPD terkait dirasa sangat kurang. Padahal, pemprov NTB punya program unggulan yakni desa wisata.

“Harusnya desa wisata NTB itu bisa berkonsep pada suasana alam kayak di Svarga Bumi ini. Jangan hanya KEK Mandalika saja yang dikenalkan, tapi alam desa dilupakan. Kalau boleh jujur, sawah-sawah kita di Lombok jauh lebih indah. Namun memang inovasi kita lemah selama ini,” tegas Ruslan.

Ia memastikan, siap menginisiasi dana pokok aspirasi (pokir) DPRD NTB untuk diarahkan pada pengembangan desa wisata. Namun syaratnya, OPD harus fokus dan serius dalam mengembangkan program mereka.

“Saya tantang aspirasi DPRD NTB diarahkan untuk mengembangkan desa wisata. Insya Allah, saya siap memulai melakukannya karena setelah melihat wilaya disini (Magelang) saya tertarik mengembangkannya di dapil saya. Harapan saya jelas agar ekonomi masyarakat desa bisa tergerak kedepannya,” tandas Ruslan Turmudzi. (**).

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.