Berbagi Berita Merangkai Cerita

Tolak UU Omnibus Law Cipta Kerja, Ribuan Mahasiswa Gedung DPRD NTB

9

FOTO. Aparat kepolisian dari Polda NTB dan Polres Mataram terlihat kocar-kocir menghindari lemparan batu pengunjuk rasa yang berhasil merobohkan gerbang sebelah selatan kantor DPRD setempat

MATARAM, DS – Pergolakan di masyarakat terus bermunculan dalam rangka menolak UU Omnibus Law Cipta Kerja yang baru saja disahkan. Sekitar 2.500 orang mahasiswa dari berbagai kelompok organisasi kemahasiswaan dengan sebutan Aliansi Rakyat NTB Menggugat di Kota Mataram melakukan aksi unjuk di depan kantor DPRD NTB, Kamis (8/10).

Mereka meminta pemerintah untuk mencabut omnibus law UU Cipta Kerja yang telah disahkan.”Presiden harus segera mencabut UU Omnibus Law. Jika tidak kami akan mengawal judicial review ke Mahakamah Konstitusi (MK),” ujar Koordinator Umum (Kordum) Andreas P. Waketi Kurniawan dalam orasinya.

Andreas yang berasal dari aliansi Cipayung Plus Mataram menegaskan, ramainya aksi penolakan omnibus law tersebut, tidak lain UU yang baru disahkan oleh DPR RI tersebut dianggap dapat menyesengsarakan masyarakat.

Pantauan wartawan di lapangan, aksi mahasiswa yang juga didukung para kelompok buruh dan LSM yang semula tertib menjadi kisruh. Pasalnya, mahasiswa sempat melakukan pelemparan batu pada aparat kepolisian, lantaran mereka tidak diperkenankan masuk ke gedung DPRD NTB di Jalan Udayana, Kota Mataram.

Bahkan, setelah ramai menggedor pintu gerbang,  mahasiswa sempat membakar ban di di depan gerbang DPRD NTB sebelah selatan. Kemudian, petugas dari Polres Mataram langsung memadamkan kobaran api menggunakan alat pemadam.

Upaya polisi memadamkan api memancing amarah para mahasiswa. Alhasil terjadi aksi saling dorong. Beruntung tidak berlangsung lama, setelah pihak kepolisian yang dibantu dengan petugas gabungan meminta mahasiswa untuk mundur.

Sementara itu, Ketua DPRD NTB Hj. Baiq Isvie Rupaedah saat menemui para pengunjuk rasa memastikan bakal memperjuangkan aspirasi masyarakat terkait pembatalan UU Omnibus Law Cipta Kerja secepatnya.

“Insya Allah, besok paling lambat akan saya bawa aspirasi dan perjuangkan apa yang menjadi perjuangan adek-adek mahasiswa ke Jakarta,” kata dia.

Politisi Golkar itu merasa bangga atas perjuangan tidak lelah mahasiswa kali ini dalam menyuarakan kehendak masyarakat.

“Saya pastikan lembaga DPRD NTB akan bersama rakyat. Dan atas nama pribadi, pencabutan UU omnibus law akan terus saya perjuangkan,” tegas Isvie Rupaedah yang saat naik ke mobil pengunjuk rasa didampingi Wakil Ketua DPRD setempat H. Munzihir.

Dalam kesempatan itu. Isvie didaulat oleh para pengunjuk rasa membacakan tuntutan para pengunjuk rasa dihadapan ribuan massa aksi guna menolak UU Omnibus Law Cipta Kerja.

Selanjutnya, UU itu harus dibatalkan pelaksanaanya, lantaran berpotensi merampas hak masyarakat. Mulai nelayan pesisir, petani, buruh dan pekerja.

Hingga pukul 16.19 Wita, kendati gelombang besar massa aksi sudah berjalan balik ke tempatnya masing-masing. Namun, masih ada satu kelompok pengunjuk rasa yang memilih tetap bertahan. Yakni, belasan mahasiswa yang tergabung dalam HMI Cipayung Plus Mataram.

Mereka menilai ketimbang regulasi yang baru disahkan ini, UU ketenagakerjaan sebelumnya dianggap jauh lebih humanis. Jika di tinjau dari pasal 156 ayat (1) Undang-Undang No 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, hak pesangon bagi pekerja atau buruh bisa lebih rendah dari ketentuan tersebut.

Lewat regulasi ini, demonstran khawatir terjadi fleksibiltas pasar kerja. Hal ini akan berbuntut pada merajalelanya penggunaan tenaga kerja outsourching atau kontrak.

“Kalau sudah begini, akan berdampak tidak adanya kepastian dan perlindungan hukum terhadap para pekerja/buruh,” teriak demonstran.

Mendengar hal itu. Ketua DPRD NTB Hj. Baiq Isvie Rupaedah langsung memperlihatkan bukti jika tuntutan para pengunjuk rasa sudah dikirimkannya langsung ke tangan pemerintah pusat.

“Adek mahasiswa bisa cek langsung. Itu tuntutan sudah kita kirim ke jakarta via e-mail pada pukul 15.29 Wita. Maka, silahkan pada bubar ke rumahnya masing-masing mengikuti kelompok lainnya yang lebih dahulu telah balik membubarkan diri,” tandas Isvie didampingi Danrem Brigjen TNI Ahmad Rizal Ramdhani.

*Penyusup Diamankan

Hingga berita ini diturunkan, satu orang yang diduga penyusup diamankan polisi.  Ia diduga bakal membuat situasi penyampaian orasi menjadi ricuh. Sebab, mengawali pelemparan dengan batu pada aparat yang bertugas

“Sementara tadi, sudah satu orang penyusup diamankan kepolisian. Dia kita amankan karena diduga menjadi provokotor pelempar awal massa pengunjuk rasa dengan batu,” kata Danrem Brigjen TNI Ahmad Rizal Ramdhani. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.