Selasa , 31 Maret 2020
Home / Tokoh / Ahmad Fansuri, Bukti Jadi Kades Tak Selalu Pakai Duit
Ahmad Fansuri bersama tim relawan adminduk

Ahmad Fansuri, Bukti Jadi Kades Tak Selalu Pakai Duit

BIMA, DS-Ahmad Fansuri memang beda. Kepala Desa Belo, Kecamatan Palibelo, Kabupaten Bima ini, terpilih jadi orang nomor satu di desa tersebut nyaris tidak mengeluarkan duit. Dukungan berupa berbagai alat peraga dan konsumsi datang dari masyarakat, termasuk di luar desanya.

Orang Belo menyebut kemenangan itu sebagai pertolongan Allah. Bayangkan, Ahmad Fansuri bukanlah warga yang dikenal kaya raya. Namun, jiwa sosialnya mampu mengimbangi parameter kekayaan yang selama ini dianggap sebagai jalan satu-satunya jika ingin terpilih sebagai tokoh politik nomor satu di desa.

Kedekatannya dengan masyarakat Desa Bolo tergambar dari keberadaannya sebagai Ketua Mbolo Rasa. Forum ini merupakan forum musyawarah adat di tingkat desa yang digunakan membahas berbagai persoalan adat di desa setempat. Musyawarah ini sedikitnya berlangsung 40 kali dalam setahun. Sehingga, Ahmad sangat dikenal di desa itu.

Pada bagian lain, setiap orangtua yang hendak menikahkan anaknya, Ahmad selalu dimintai bantuan untuk memberikan nasihat kepada sang calon pengantin. Ahmad yang merasa bukan pada kapasitasnya membeirkan nasihat sebelum pasangan menikah, tetap berupaya membantu.

Di lingkungan milenial, Ahmad merupakan pembina kesenian Sanggar Lilin. Anak-anak muda yang berjiwa seni tergabung di dalamnya untuk berlatih teater. Sedangkan di lingkungan ibu-ibu ia pembina kesenian bernuansa islami. Semua itu, yang tergolong sebagai sebuah investasi social, memberi kontribusi positif baginya.

Hal yang sangat membanggakan adalah Ahmad merupakan seorag relawan yang membantu masyarakat ketika hendak mengurus dokumen adminduk warga. Ia datang dari rumah ke rumah penduduk untujk menguruskan dokumen warga yang difasilitasi LPA NTB – Kompak. Inilah yang bagi Ahmad berperan sangat besar sehingga menuai dukungan masyarakat Desa Bolo.

Tidaklah mengherankan, jika warga Desa Bolo yang sebagian besar berprofesi sebagai petani itu panen, Ahmad selalu diingat. Mereka akan membawa oleh-oleh kepadanya, baik berupa beras, ubi, bawang, dan lain-lain. Hal yang mengherankan, menjelang Pilkades Bolo, warga mempersiapkan diri dengan menanam jagung dengan alas an ketika kampanye berlangsung bisa menyumbangkan konsumsi kepada tim.

Dalam pemilihan kepala desa belo bulan Desember 2019 lalu, ternyata menggambarkan begitu kuatnya dukungan masyarakat kepadanya akibat kontribusi yang selama ini ia tanamkan. Suara Ahmad Fansuri terpaut 3 dengan salah satu calon dari lima calon kades. Suara yang diperolehnya mencapai 447 atau selisih 3 suara dari lawannya yang terkuat 444. Lantas dari mana datangnya 3 suara itu?

Banyak cerita yang menyebut itu suara malaikat. Sebutlah ketika seorang nenek bertutur kepada tim pemenangan Ahmad Fansuri ketika sosialisasi berlangsung. Sang nenek meminta maaf dan mengatakan bahwa ia tidak akan memilih Ahmad karena ada keluarganya yang turut bertarung. Ahmad bersama tim mengikhlaskannya. Anehnya, begitu Pilkades berlangsung, di bilik suara sang nenek mengaku hanya melihat gambar Ahmad sehingga dialah yang kemudian dicolok.

Terdapat juga cerita sepasang suami istri yang sepakat membagi suara untuk Ahmad dan calon lain dengan anggapan agar adil mengingat salah satu calon yang bertarung adalah keluarganya. Sang suami berniat memilih Ahmad sedangkan sang istri calon lain. Komitmen itu ternyata didengar oleh salah seorang anaknya yang masih kecil. Sang anak terus menangis agar sang ibu memilih Ahmad.

Si ibu mengiyakan saja agar tangisan anaknya berhenti. Argumennya dalam hati, sang anak tak mungkin tahu siapa yang dia pilih nanti. Persoalannya, ketika detik-detik pemilihan berlangsung, si anak mendesak ikut serta bersama ibunya masuk ke bilik suara. Akhirnya, si ibu tidak bisa mengelak untuk menepati janji memilih Ahmad.

Masih banyak cerita lain yang setidaknya kemudian mengatrol suara mantan seniman yang ketika mahasiswa merupakan anggota Teater Toti Mori itu. Bagi Ahmad, selisih tiga suara itu adalah “suara malaikat”. Dia sendiri menyerahkan sepenuhnya keputusan terpilih tidaknya di tangan allah SWT. Selebihnya ia bersama tim berikhtiar dan berjuang.

Menjelang pelantikan bulan Januari 2020, Ahmad lagi-lagi gelisah karena masyarakat terus memantaunya. Melihat keadaan Ahmad, warga berpatungan untuk membelikan baju seragam warga putih. Ia ditawari pakaian seragam namun itu ditolaknya agar masyarakat tidak melulu memikirkannya. ian

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

Raden Joko Prayitno Meninggal Dunia, NTB Kehilangan Tokoh Seniman

MATARAM,DS-R.Joko Prayitno, mantan Kepala Museum Negeri NTB, meninggal dunia Jumat (14/7) siang di Rumah Sakit …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: