Berbagi Berita Merangkai Cerita

Tiga Tahun Kepemimpinan Gubernur dan Wagub NTB M-16 : Publik Tunggu Kiprah Nyata Zul-Rohmi

335

FOTO. Presiden Joko Widodo saat melantik Gubernur Zulkiflimansyah dan Wagub Sitti Rohmi Djalilah di Istana Negara, beberapa waktu lalu. (FOTO. RUL/DS).

MATARAM, DS- Bulan September 2021, umur kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur NTB Zulkieflimansyah dan Hj Sitti Rohmi Djalilah (Zul-Rohmi) tepat memasuki tahun ketiga. Paket yang sering disebut Zul-Rohmi memimpin NTB dalam kondisi tidak biasa. Di tahun pertama dihadapkan pada pemulihan gempa bumi menyusul tahun kedua dan ketiga menghadapi gelombang Covid-19.

Direktur Lembaga Kajian Sosial dan Politik M-16, Bambang Mei Firnawanto, mengatakan selama tiga tahun kepemimpinannya, Zul-Rohmi mencatatkan sejumlah pencapaian.

Program strategis seperti, pariwisata andalan dan strategis, Industrialisasi; Pengembangan daya saing SDM; NTB ramah investasi; Pembangunan konektivitas dan aksesibilitas wilayah NTB, dan NTB bersih dan berkelanjutan, justru menurut data yang dilansir oleh dinas-dinas berjalan simultan.

“Fakta lapangan juga menunjukkan ada sejumlah capaian. Masa kepemimpinan tersisa dua tahun, masih ada waktu untuk menuntaskannya program strategis dan program unggulan yang belum dilakukan agar bisa dilakukan pembenahan,” ujar Bambang dalam siaran tertulisnya pada wartawan, Rabu (1/9).

Menurut dia, paket Duo Doktor itu, menghadapi gelombang berat saat Covid-19. Praktis program tidak sanggup berjalan optimal akibat refocusing anggaran. Meski begitu, hal ini tidak serta-merta dijadikan alasan. Publik tentu menanti segala janji-janji politik dituntaskan.

Apalagi, lanjut Bambang, Zul-Rohmi sebuah tim olahraga. Di mana, keduanya adalah kapten memimpin NTB. Sementara itu, kepala dinas maupun staf khusus adalah pemain pendukung. Tugasnya menyuport langkah-langkah yang telah dilakukan oleh Sang Kapten.

“Menjalankan program, menyiapkan data, dan menginformasikan kepada publik. Sehingga goal yang diinginkan dapat tercapai,” kata dia.

Bambang mendaku, adanya pro-kontra terhadap sebuah kebijakan pemerintah menjadi hal yang lazim. Sayangnya, second line (lini kedua) dari Gubernur dan Wakil Gubernur NTB tampak kedodoran. Alih-alih menopang kerja-kerja positif, lingkaran internal dari kalangan dinas maupun eksternal para staf khusus tampak kurang begitu sigap.

Mereka gelagapan merespon kritik publik. Dan cenderung menjawab ala kadarnya. Yang penting kelihatan membela Sang Bos.

“Contohnya, dapat dilihat ketika begitu banyak kritik terhadap beasiswa. Kritik terhadap soal industrialisasi. Isu sumir mengenai zero waste, terbaru kritik terhadap masyarakat terisolir di dalam lingkaran Sirkuit ITDC Mandalika, dan banyak lagi,” ucap dia.

Dalam pantauannya di sejumlah media massa, justru, menurut Bambang, second line, terjebak pada dialektika membela membabi buta. Kurang dingin menyikapi sejumlah kritik. Respon yang diberikan jauh dari substansi utama. Hal ini yang kemudian memunculkan istilah gaya para buzzer.

“Yakni, mereka beringas tanpa kedalaman analisa dan data. Jika ini terus dibiarkan justru mereduksi kepemimpinan Zul-Rohmi. Maka, akan melemahkan segala kerja yang telah berjalan tiga tahun,” tegas dia.

Layak pula dicermati, gaya komunikasi terbuka Gubernur NTB di media sosial menghadirkan sejumlah perdebatan. Sebagian kalangan menilai, Gubernur Zulkieflimansyah dipandang terlalu berlebihan di media sosialnya. Termasuk, keaktifan menjawab segala macam kontra di akun media sosial pribadinya.

Bagi Bambang, di zaman gadget seperti saat ini, langkah tersebut sebagai hal yang lazim. Seperti halnya dilakukan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil ataupun Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. “Di era serba digital, justru gaya seperti ini perlu diikuti oleh jajaran kepala dinas maupun staf khususnya. Terbuka kepada masyarakat. Tidak anti kritik. Menghadirkan respon yang menyejukkan hati,” tuturnya.

Lembaga Kajian Sosial dan Politik M16 memandang penting inner circle dari Gubernur dan Wagub NTB meniru pendekatan persuasif yang dilakukan duo doktor. Mendatangi para kritikus, menyerap sedalam mungkin problem-problem di lapangan. Sehingga narasi publik yang disampaikan begitu mendalam. Termasuk dapat menjadi tambahan masukan bagi kepala daerah.

“Dengan menjalankan pendekatan persuasif, lingkar internal maupun eksternal Zul-Rohmi dapat menyajikan kontra narasi terhadap kritik yang lebih substansi. Penuh data dan fakta. Menghadirkan pandangan yang begitu kaya kepada publik. Misalnya, program beasiswa. Sudah saatnya lingkar Zul-Rohmi menyajikan cerita putra-putri terbaik di luar negeri. Menghadirkan cerita mereka secara terbuka, baik melalui media massa maupun media official khusus. Dengan membuat desain grafis ataupun audio visual. Begitu halnya dengan industrialisasi, mengulas cerita sukses para pengusaha binaan pemerintah. Termasuk di dalamnya pencapaian industrialisasi yang dihasilkan,” jelas Bambang.

“Hal yang sama berlaku pada zero waste, posyandu, dan program yang lain. Tidak cukup pencapaian program Zul-Rohmi hanya disampaikan dalam bentuk puja-puji dan bergaya pandu sorak. Masih ada waktu, lingkaran Zul-Rohmi harus menjadi penopang yang solid menuju NTB Gemilang,” sambung Bambang. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.