A place where you need to follow for what happening in world cup

Tiga Anak Dibuang di KLU, Polisi Belum Temukan Pelaku, Dinsos PPA Gelar Sosialisasi Pembentukan Satgas

50

Sosialisasi pembentukan Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak

KLU, DS- Kasus kekerasan berupa pembuangan tiga anak di KLU tahun ini belum menemukan titik temu. Bahkan terkesan tidak ada penanganan dan mengendap begitu saja pasca ditangani pihak kepolisian. Padahal kasus ini menjadi atensi namun belum diproses secara hukum karena pelaku belum ditemukan.

Hal itu dikemukakan Plt.Kadis Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Anak KLU, Fathurrahman, pada pada “Sosialisasi Pembentukan Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak di KLU, Rabu (6/10). Kegiatan menghadirkan narasumber Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTB, Sukran Hasan dan akademisi, Taufan. Hadir seluruh pemdes di kabupaten setempat.

“Tahun lalu juga ada satu kasus namun belum terungkap pelakunya. Ini kasus besar dan perlu didorong mengungkap kasus tersebut,” katanya. Seusai acara, Fathurrahman yang didampingi Kabid PPA menambahkan dalam tiga tahun terakhir terdapat tujuh kasus pembuangan anak di KLU, tiga diantaranya ditemukan masih hidup, selebihnya sudah dalam keadaan meninggal dunia

Kasus kekerasan terhadap anak itulah yang menjadi atensi diperlukannya perlindungan menyeluruh terhadap anak sehingga  kepala desa se KLU diundang dalam sosialisasi tersebut untuk memberikan pemaahaman terkait pembentukan Satgas khusus di desa masing-masing.

Menurut Fathurrahman, Satgas berfungsi melakukan pencegahan dan pendampingan kasus. Satgas diharapkan terbentuk atas dasar inisiati dari bawah yang muncul dari kepedulian terhadap anak yang mengalami tindak kekerasan. “Kalau dibentuk dari bawah, insyaallah… Walau tak ada anggaran akan tetap berjalan,” cetusnya.

Sekretaris LPA NTB, Sukran Hasan, mengemukakan upaya pelembagan sistem perlindungan perempuan dan anak dalam rencana Kemendes harus melahirkan model desa ramah perempuan dan peduli anak pada triwulan kedua 2022. Sebelumnya Kemendes sudah melakukan pilot project di 10 desa ramah anak di KLU. “Tujuannya jadi KLA sehingga Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak membentuk Satgas.,” katanya

Menurut Sukran, kerentanan membuat faktor resiko yang mengancam terjadinya kekerasan, perlakuan salah, eksploitasi dan diskriminasi. Itu berdampak pada kerugian multidimensi seperti ekonomi, kesehatan, identitas hukum, dan lain lain. “Dampak multidemsi ini dalam penanganannya harus melibatkan multipihak. Di desa pun tidak cukup oleh aparat desa melainkan unsur masyarakat,” katanya.

Narasumber lain, Taufan,SH,MH, mengemukakan semua persoalan kekerasan perempuan dan anak bermuara di desa. “Desa merupakan wilayah terkecil yang mampu menerjemahkan Indonesia sekaligus memunculkan program membangun indonesia.

Urgensi Satgas, kata dia, salah satunya dari aspek filosofis karena perempuan memiliki posisi penting dalam kehidupan manusia. Sedangkan anak merupakan potensi penerus bangsa. “Kini desa memainkan peran dalam percepatan pembangunan melalui perencanaan hingga pengawasan,” katanya seraya menambahkan bahwa desa punya kewajiban melakukan perlindungan anak.hm

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.

Lewat ke baris perkakas