Berbagi Berita Merangkai Cerita

TGB Sebut Pilpres 2019 Bukan Perang

0 17

MATARAM, DS – Mantan Gubernur NTB Dr. TGH. Muhamad Zainul Majdi mengatakan, komitmennya memperbanyak komunikasi ke seluruh elemen masyarakat jelang Pilpres 2019. Komunikasi itu soal elektabilitas pasangan calon nomor urut satu (01) Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Tuan Guru Bajang (TGB) mengaku akan turun ke seluruh pondok pesantren (Ponpes) baik di NTB maupun di semua wilayah Indonesia guna meluruskan stigma masyarakat terkait serangan hoaks soal Jokowi anti umat atau anti Muslim.

“Saya pikir kalau polularitas sudah luar biasa. Cuma kan ada beberapa hal yang perlu dijelaskan karena distorsi dibawah itu juga luar biasa selama ini,” ujar TGB menjawab wartawan Sabtu (23/3).

“Ada dibangun persepsi seakan-akan Pak Jokowi itu anti umat, dibangun persepsi bahwa Pilpres ini seperti hak dan bathil. Nah ini yang kami coba luruskan,” sambungnya.

Salah satu cara untuk mengubah stigma umat terkait Jokowi, menurut Ketua Koordinator Bidang Keumatan Partai Golkar ini dengan menelaah kebijakan Jokowi selama ini. Selama ini, Jokowi sudah mengucurkan dana yang tak sedikit untuk membantu perekonomian umat.

“Bahwa kalau kita bicara tentang umat, yuk kita teropong kebijakan-kebijakan Pak Jokowi selama ini. Ya faktanya, ada dana desa yang mengucur ratusan triliun dan itu juga terkait kepentingan umat, kemudian juga pemberdayaan-pemberdayaan ekonomi dan banyak hal yang dilakukan oleh beliau,” jelas TGB.

Selain meluruskan stigma Jokowi anti Muslim, TGB pun didapuk untuk turut menerangkan visi dan misi Jokowi-Ma’ruf lima tahun ke depan. Dirinya yang memang sudah mendukung Jokowi-Ma’ruf sebelum menjadi bagian dari Golkar, dengan senang hati akan berikhtiar menangkan pasangan calon nomor urut satu (01) itu.

“Tidak menyampaikan apa-apa, kecuali apa yang sudah dilakukan dan visi apa yang dibawa oleh Pak Jokowi dan Kyai Ma’ruf untuk lima tahun yang berikutnya. Jadi, menyampaikan fakta-fakta, faktual dan objektif,” tandas Zainul Majdi.

Pilpres Bukan Perang

Dalam kesempatan itu. TGB mengajak masyarakat menjadikan pemilu sebagai ajang untuk berlomba dalam kebaikan. TGB menepis anggapan bahwa pemilu adalah Perang Badar atau Armageddon.

“Pilpres ini bukan Perang Badar, Armageddon. Ini adalah ajang demokrasi kita, yang diharapkan bisa menghasilkan kepemimpinan yang baik untuk kita semua,” ujar TGB.

Ketua Pengurus Besar (PB) Nahdatul Wathan (NW) itu mengatakan pemilihan presiden bukanlah sebuah pertempuran antara hak dan batil. Bagi TGB, pilpres adalah ajang untuk meraih kebaikan. “Maka sekali lagi kita semua sebagai anak bangsa ini berada dalam kontestasi fastabikhul khoirat atau berlomba dalam kebajikan,” lanjutnya.

Menurut TGB, situasi menjelang pemilu saat ini diramaikan oleh maraknya penyebaran hoax. Jika hal itu tidak dihentikan, TGB mengatakan dampak penyebaran hoax itu akan terus berlanjut setelah hari pencoblosan.

“Perhelatan 17 April tapi kalau kita tetap memompa hoax ke ruang publik, bisa jadi dampaknya akan panjang sekali,” lanjutnya.

“Kepada kita semua sebagai anak bangsa, sinergi kita ke depan pasca-17 April akan sulit untuk solid mendukung pemimpin yang ada, karena kemudian kita harus menangani dampak yang kita tanam dari hoax dan fitnah,” kata TGB.

TGB mengingatkan semua pihak untuk tak menghalakan segala cara agar menang pada pemilu. Menurut dia, jangan sampai kontestasi pilpres itu menafikan persaudaraan di antara anak bangsa.

“Jangan sampai kemudian karena tradisi hoax yang dikembangkan untuk mendapatkan kemenangan, lalu kemudian generasi selanjutnya dianggap biasa. Lalu menjadi pola yang direplikasi,” lanjutnya.

“Kita bisa bayangkan pola di pilpres ini kemudian akan dimanfaatkan di pilkada-pilkada, betapa bahayanya persaudaraan kita sebagai anak bangsa,” ujar TGB.

Pernyataan mengenai Armageddon ini sebelumnya sempat disampaikan oleh Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais. Amien menyebut 17 April 2019, yang merupakan tanggal pilpres, ibarat sebuah pertarungan.

“Ini pertarungan Baratayuda, Armageddon, sudah kurang dari empat setengah bulan. Jadi kita harus betul-betul konsolidasi,” kata Amien dalam video pertemuan yang menyebar di kalangan Muhammadiyah beberapa hari lalu.

Armageddon diketahui bermakna bencana besar atau biasa juga disebut sebagai akhir zaman. Bahkan ada juga yang memaknainya sebagai kiamat.

Amien Rais juga pernah mengibaratkan pilpres sebagai Perang Baratayuda politik. Tak hanya itu, dia juga mengingatkan masyarakat untuk menggunakan mental Perang Badar dalam menghadapi pemilu.

“9 Juli itu semacam Baratayuda politik. Seram di sini tapi mungkin kecil-kecilan. Tapi Saudara-saudaraku, kita harus khusnul yang bulat dan jangan ragu-ragu,” ujar Amin saat memberikan ceramah singkat di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, kemarin.

“Kita pakai mental Perang Badar, jangan pakai mental Perang Uhud. Perang Uhud itu kan wani piro? Kalau Perang Badar nanti, yang penting kita bersatu sebagai bangsa. Siapa pun pemenangnya nanti,” kata mantan Ketua Umum PAN itu. RUL.

Leave A Reply