BSK Samawa

TGB : Ibadah Puasa Akan Naikkan Derajat Ketakwaan Umat Islam

FOTO. Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi (kiri) saat berdiskusi dengan Gubernur NTB Zulkieflimansyah. (FOTO. RUL/DS).

MATARAM, DS – Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI), Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi, mengatakan derajat ketakwaan umat Islam akan dinaikkan oleh Allah SWT manakala mereka melakukan ibadah puasa dengan baik. Hal ini sesuai janji yang tersirat dan ditegaskan dalam Alquran.

“Jadi, ketakwaan kalau dipahami dalam konsep para ulama adalah implementasi dari kesalehan yang sesungguhnya. Kata saleh merujuk pada sesuatu yang baik atau sumber yang baik. Sehingga dari sana mengalir segala macam kebaikan termasuk kesalehan sosial,” jelas TGB dalam tausiyahnya, Selasa (5/4).

Menurut Ketua Ikatan Alumni Al-Azhar Cabang Indonesia tersebut, implementasi kesalehan dalam kehidupan adalah takwa.

Karena itu, ketakwaan dalam dua sisi dapat diartikan, yakni melaksanakan tuntunan agama dalam kehidupan dan meninggalkan segala macam yang tidak baik.

“Takwa itu medium yang sangat vital untuk mencapai kesalehan yang nyata,” tegas TGB.

Mantan Gubernur NTB dua periode itu mengatakan, dengan melaksanakan puasa dengan baik pasti seseorang akan menjadi orang saleh. Apalagi, puasa fikih, adalah puasa yang memenuhi rukun dan syarat puasa. Di antaranya tidak makan dan minum serta melakukan perbuatan yang membatalkan puasa mulai dari pagi hingga petang.

“Kalau melaksanakan puasa secara fikih bisa dikatakan tanggungjawab puasa sudah selesai. Tapi melaksanakan puasa secara fikih saja itu akan sulit mengubah karakter seseorang menjadi karakter yang lebih baik,” ungkap TGB.

“Jadi kesalehan tidak serta merta akan terwujud hanya dengan puasa secara fikih, Rasulullah selain memberi tuntunan bagaimana puasa secara fikih dilaksanakan, beliau juga memberikan keteladanan bagaimana menunaikan puasa dengan sebaik-baiknya lahir dan batin,” sambung dia menjelaskan.

TGB menjelaskan, Nabi Muhamad yang tidak lain adalah Rosul Allah SWT, menyampaikan puasa adalah sesuatu yang menjadi penahan diri. Kemudian diberi ilustrasi bila sedang puasa jangan mengucapkan perkataan yang tidak baik, cabul, dan menyakiti orang lain.

“Diilustrasikan Rasulullah, kalau ada orang yang mencela dan mengajak untuk konflik, katakan kepadanya saya puasa, ini artinya Rasulullah mengajarkan dan membuka wawasan kita bahwa puasa tidak sekadar secara fikih saja,” papar dia.

TGB menambahkan, jika mau ibadah puasa Ramadhan menghasilkan kesalehan, maka laksanakan puasa secara fikih dan pastikan agar ruh, semangat serta esensi puasa selalu ada pada diri seorang Muslim.

Sebab, lanjut dia, hal itulah yang akan bisa menghasilkan resonansi sosial. “Puasa bisa menciptakan diri yang lebih stabil dan membersihkan ruang publik. Karena orang-orang bisa menahan diri dari berbicara yang tidak baik, serta tidak perlu,” tandas TGB. RUL.

Facebook Comments Box

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.