A place where you need to follow for what happening in world cup

Tetapkan CHSE Ketat, Perpanjangan PPKM Berskala Mikro Jawa-Bali Membuat Wajah “Monkey Forest” Ubud Kian Sendu

57

FOTO. Ketua Komisi III DPRD NTB Sembirang Ahmadi saat menyerahkan cinderamata pada General Manager Monkey Forest, Nyoman Sutarjana disaksikan Kepala Dinas Pariwisata Gianyar, Anak Agung Gede Putrawan di Monkey Forest di Kecamatan Ubud. (FOTO. Rul)

Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak satu tahun terakhir, memberikan dampak besar pada sektor pariwisata. Itu terlihat di Provinsi Bali yang dikenal sebagai barometer dan primadona pariwisata Indonesia. Di sana, pariwisata terlihat kian sendu. Salah satunya, di kawasan Mandala Suci Wenara Wana atau disebut juga Monkey Forest di Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, lantaran ketiadaan kunjungan wisatawan selama pandemi Covid-19 saat ini.

FAHRUL MUSTOFA – GIANYAR

Sejak masuk ke gerbang Kabupaten Gianyar dari Kota Denpasar, tampak lalu lintas kendaraan di sepanjang jalan raya Ubud begitu lengang. Tak banyak mobil dan sepeda motor yang melaju. Padahal, macet adalah ‘aksesori’ sehari-hari Ubud.

Kepala Dinas Pariwisata Gianyar, Anak Agung Gede Putrawan, mengatakan, kunjungan wisatawan ke obyek wisata hutan kera di jalan raya Monkey Forest yang biasanya mencapai angka 3.000- 6.000 orang per hari, semenjak pandemi angkanya terjun bebas ke kisaran 100-200 orang.

Menurut dia, jika sebelum Covid-19 pajak yang diperoleh Kabupaten Gianyar dari sisi akomodasi, hotel dan hiburan, termasuk di Monkey Forest di Kecamatan Ubud berkisar Rp 1,2 triliun. Kini, di sektor pajak pariwisata, OPD setempat hanya mampu menyumbangkan angka sebesar Rp 75 miliar selama pandemi.

“Itu artinya, kita drop dan kehilangan PAD mencapai Rp 12,6 miliar. Maka, jangan heran jika tadi kawan-kawan melintasi jalanan Ubud lengang dan sepi. Itulah indikatornya kami kehilangan pajak dari sektor pariwisata,” kata Gede Putrawan saat menerima rombongan Pres Trip Jurnalis NTB yang dipimpin Ketua Komisi III DPRD NTB Sembirang Ahmadi, Kamis (1/4) di Aula Lantai II, ruang rapat Monkey Forest.

Ia mengatakan, jumlah kunjungan turun ke Monkey Forest kian terasa, terutama sejak larangan penerbangan sementara dari China.

Maklum, di obyek wisata seluas 12 hektare (ha) yang dihuni sekitar 1.000 kera itu umumnya ramai kedatangan turis dari Negeri Tirai Bambu. Bahkan, dari negara lainnya.

“Boleh dibilang sudah tidak ada lagi wisatawan China yang datang ke sini, sejak ditutup (penerbangan sementara) hingga kini,” ujar Gede Putrawan.

Ia mengaku, turunnya kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Ubud berimbas pada kedatangan ke Monkey Forest. Daya tarik wisata yang mengandalkan binatang kera berekor panjang dan menjadi salah satu ikon pariwisata di Kecamatan Ubud ini mengalami penurunan kunjungan wisatawan akibat pandemi Covid-19 dan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jawa-Bali.

Gede Putrawan mengungkapkan, diberlakukannya PPKM Jawa-Bali praktis membuat kunjungan wisatawan ke Ubud mengalami penurunan. Sepinya kunjungan wisatawan ke Ubud berimbas pada jumlah pelancong ke Monkey Forest. “Selama ini berkembang tren wisatawan merasa tidak berkunjung ke Ubud jika tidak sempat singgah ke Monkey Forest,” ucapnya.

Sebelum pandemi Covid-19, kunjungan wisatawan ke Monkey Forest bisa mencapai 3.000 orang per hari. Ramainya kunjungan wisatawan juga sangat tergantung musim kedatangan wisman. “Jadi, wisman dan wisatawan domestik yang berkunjung ke Ubud pasti ke Monkey Forest,” tegas Gede Putrawan.

Akhir tahun lalu tepatnya November-Desember 2020, Monkey Forest memang diramaikan oleh wisatawan domestik (wisdom). Dalam sehari sekitar 100-200 wisatawan berkunjung dan menikmati daya tarik wisata kera ekor panjang ini.

Namun, diberlakukannya PPKM Jawa-Bali pada awal 2021 membuat kunjungan wisatawan ke Monkey Forest turun hingga 50 persen. “Dalam sehari kunjungan wisatawan di kisaran 50-100 orang,” jelas Gede Putrawan.

Ia mengungkapkan, penerapan protokol kesehatan yang berbasis pada Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment Sustainibility (Kelestarian Lingkungan) atau CHSE telah dilakukan di semua distinasi di Kabupaten Gianyar. Hal ini sebagai langkah untuk persiapan manakala pariwisata telah mulai dibuka oleh pemerintah pusat pada sekitar Juni hingga Agustus ini.

Selain itu, program vaksinasi menuju Ubud Zona Hijau telah dilakukan Pemkab Gianyar dengan telah menvaksin sebanyak 32 ribu warga Kecamatan Ubud. Khususnya, para pelaku wisata dan karyawannya.

“Pola yang kita lakukan adalah menggunakan sistem kelompok. Karena kita ingin, pariwisata kedepan di Gianyar adalah aman dan sehat sesuai program Pak Bupati dapat tercipta . Apalagi, Ubud telah ditetapkan masuk bersama Sanur dan Nusa Dua di Provinsi Bali yang jadi contoh zona hijau pariwisata unggulan,” tegas Gede Putrawan.

Ia berharap dengan telah diterapkannya semua distinasi di Gianyar dan Provinsi Bali itu berstandar CHSE, maka sebaiknya kebijakan PPKM dan pembatasan lainnya agar bisa ditinjau ulang oleh pemerintah pusat.

“CHSE itu mudah asal konsisten dilakukan. Nah di Gianyar kami memang fokus kesana. Tapi, jika tidak ada kepastian kayak sekarang soal PPKM kapan selesai dilakukan, bagaimana pergerakan wisatawan mau datang ke Bali. Ini harapan saya mewakili warga Bali agar jangan kaku pada aturan dengan menyamakan sama semua daerah di Indonesia,” tandas Gede Putrawan.

Sementara itu, General Manager Monkey Forest, Nyoman Sutarjana, mengaku, akibat turunnya kunjungan wisatawan ke lokasinya, untuk sementara biaya operasional, termasuk biaya pakan kera disubsidi oleh Desa Adat Padang Tegal.

Untuk itu, pengelola Monkey Forest terus mengenjot kedatangan wisatawan dengan harapan bisa mengurangi subsidi biaya operasional dari Desa Adat Padang Tegal.

Sutarjana mengungkapkan, upaya yang telah dilakukan pihaknya untuk mendorong kunjungan wisatawan dan masyarakat lokal ke Monkey Forest adalah dengan menyesuaikan tarif masuk. Tarif normal pengunjung dewasa yang biasanya Rp 80.000 diturunkan menjadi Rp 60.000 dan anak-anak yang awalnya Rp 60.000 dikurangi menjadi Rp 30.000 per orang.

“Khusus masyarakat ber-KTP Bali, orang dewasa dikenakan Rp 30.000, sedangkan paket keluarga (2 dewasa dan 2 anak) Rp 60.000,” kata dia.

Menurut Sutarjana, untuk menggaet wisatawan domestik di masa pandemi, Monkey Forest menggencarkan promosi melalui media sosial.

“Termasuk, kedatangan kawan-kawan jurnalis dari NTB dan para anggota dewan ini, kami bersyukur akan bisa membantu kami dalam rangka menutupi biaya operasional akibat sepinya kunjungan imbas dari pandemi dan kebijakan PPKM Jawa-Bali yang terus diperpanjang oleh pemerintah pusat, seperti saat ini,” jelasnya.

Terpisah, Ketua Komisi III Sembirang Ahmadi mengatakan, kedatangannya bersama para jurnalis ke Gianyar tidak lain dalam rangka melihat sejauh mana penerapan CHSE.

Terlebih, ini adalah tindak lanjut dari MoU antara provinsi Bali dan NTB yang sudah ditandatangani Gubernur NTB Zulkieflimansyah guna meminta bantuan provinsi Bali kaitan penerapan CHSE itu.

“Kabupaten Gianyar dengan Monkey Forest di Ubud merupakan distinasi terkenal di Bali yang menjadi insipirasi NTB dalam rangka pembangunan pariwisata. Hasil kunjungan ini akan juga jadi bahan kami dalam membahas Perda Desa Wisata NTB kedepannya,” tandas Sembirang Ahmadi. (**).

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.

Lewat ke baris perkakas