Berbagi Berita Merangkai Cerita

Terapi untuk Anak-anak Berkebutuhan Khusus Yayasan Tulus Angen Indonesia

53

Beginilah suasana proses terapi anak-anak berkebutuhan khusus di Lombok Tengah.

Ketika Covid 19 melanda tahun 2020, anak-anak berkebutuhan khusus mengalami kendala melakukan terapi di sejumlah fasilitas kesehatan. Beruntung ada Yayasan Tulus Angen Indonesia (YTAI) yang membuka diri. Bekerjasama dengan tiga relawan terapis di Kabupaten Lombok Tengah, sebanyak 30 anak berkebutuhan khusus pun bisa menjalani terapi secara bertahap setiap hari Sabtu. Bahkan para klien berasal dari luar Lombok Tengah.

Erna menyebut bahwa hari Sabtu (13/11) dirinya menuju Yayasan Tulus Angen Indonesia di Praya, Lombok Tengah. Aktifis Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) NTB ini akan mengantar rombongan anak-anak berkebutuhan khusus melakukan terapi. Menggunakan bus milik Dinas Perhubungan NTB, mereka menjemput satu per satu anak berkebutuhan khusus di kediamannya sebelum menuju lokasi.

Keterlibatan YTAI menjadi tumpuan anak-anak disabilitas di Lombok khususnya. Pasalnya, selama ini anak-anak berkebutuhan khusus sangat minim perhatian, bahkan untuk memulihkan sedikit persoalan dirinya.  Bayangkan, keterlibatan yayasan itu justru ketika anak-anak berkebutuhan khusus yang biasanya melakukan terapi di sejumlah fasilitas kesehatan terkendala gara-gara wabah Covid 19. Mereka pun kebingungan mencari lokasi terapi. Sedangkan menuju klinik biayanya cukup mahal, mencapai Rp 150.000.

Karena kesulitan melakukan terapi, YTAI berempati memberi ruang sebagai alternatif bagi mereka. Dengan segera, ketua yayasan setempat, Bajang Toni, menghubungi beberapa terapis yang dikenalnya di Kabupaten Lombok tengah untuk diajak terlibat dalam kerja sosial itu. Syukur, mereka mau mengulurkan tangan sehingga lambat laun menjadi program rutin yayasan. Hal ini disambut antusias para orangtua yang anaknya berkebutuhan khusus.

“Sabtu  merupakan yang ketiga belas kali terapi dilakukan,” kata Bajang Toni.  

Jumlah anak-anak berkebutuhan khusus di Kabupaten Lombok Tengah saja mencapai 20 orang yang mesti dilayani setiap Sabtu, sisanya dari luar daerah.  Idealnya, satu orang tenaga terapis melakukan pengobatan untuk lima orang anak. Namun demikian, hal itu tidak mengendorkan semangat yayasan setempat untuk terus berkiprah di bidang sosial.

Bus Disabilitas melakukan antar jemput anak berkebutuhan khusus

Tentang YTAI

 YTAI atau Tulus Angen Community memiliki beberapa program yang bersifat sosial. Selain  Layanan Fisioterapi Anak Berkebutuhan Khusus yang dilaksanakan setiap hari Sabtu, juga  Gerakan 1 Juta Al-Quran dan Iqro’ dengan membangun 3 TPQ dan menyebar ribuan Alquran dan Iqro’ di Pelosok Pulau Lombok. Disamping itu,  pembangunan Rumah Layak Huni untuk lansia/miskin yang luput dari perhatian pemerintah. Pihaknya sudah membangun 21 Unit Rumah Layak Huni.

Terdapat juga pendampingan pasien miskin di rumah sakit.

“Sisa pasien dampingan kami sekarang dua orang,” ungkap Bajang Toni seraya merinci  anak umur 2,5 tahun mengalami bocor jantung yang kini dirawat di RSUD Sanglah serta anak umur 1 tahun mengalami hydrocephalus dan dirawat di RSUP NTB.

Dilakukan pula santunan bagi anak yatim dan Lansia  dan subsidi listrik bagi kepala keluarga yatim setiap bulannya. Khusus subsidi listrik sementara ini terbatas hanya 30 kepala keluarga yatim. Hal yang tak kalah menari adalah Gerakan Literasi untuk anak-anak.

Menurut Bajang Toni, jumlah anak-anak berkebutuhan khusus yang seharusnya diterapi cukup banyak. Yang bisa didata saja untuk Kabupaten Lombok Tengah sekira 50 orang, belum lagi yang tidak terdata. Namun, untuk menampung semua pihaknya belum siap.

“Tak berani karena keterbatasan tenaga fisioterapisnya,” kata Bajang. Lanjut dia, dulu ada mahasiswa Unair yang melakukan tri dharmaperguruan tinggi tetapi hanya berlangsung 2 bulan. Ia berharap adanya kerjasama dengan universitas lain terkhusus di NTB melalui KKN tematik untuk menempatkan mahasiswa praktik di sana.

“Jika ini terjadi, kami tak akan menahan orang yang jadi klien. Sebab maksimal 1 fisioterapis 5 anak dalam sekali pertemuan setiap minggu,” katanya seraya menambahkan anak-anak yang diterapi terutama  yang mengalami gangguan motorik.

Bajang mengatakan cukup banyak anak-anak berkebutuhan khusus yang memerlukan bantuan fisioterapi sehingga pihaknya pun menggandeng institusi pemerintah seperti Dinas Perhubungan untuk melakukan penjangkauan ke rumah-rumah klien yang lokasinya di pelosok pedesaan.

“Kendati terapi itu dilakukan secara gratis, keterbatasan armada menjadi kendala melakukan pelayanan kepada seluruh warga berkebutuhan khusus,” ujarnya.

Ia mengemukakan orangtua anak sebetulnya bisa melakukan terapi itu namun mesti mengetahui terlebih dahulu teknik-teknik seperti pemijatan. Hasil yang diperoleh sementara ini menunjukkan terjadinya perubahan yang dialami anak.

“Mereka awalnya tidak bisa duduk sudah ada yang bisa duduk,” ujarnya.

Teknik terapi sederhana ini bisa ditindaklanjuti oleh orangtua masing-masing anak sehingga proses penyembuhan bisa lebih cepat. Sebaliknya kalau orangtua pasif maka proses penyembuhan menelan waktu lama.

Untuk menghidupkan berbagai program sosial itu, Bajang mengemukakan pihaknya bekerjasama dengan sejumlah donator selain hasil google adsense dari konten Youtube di mana Bajang Toni menjadi salah satu aktornya.

“Tapi itu jumlahnya kecil,” ujarnya.ian

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.