Membangun Masyarakat Cerdas dan Berwawasan Luas

Tak Ada Progres Pengendalian Kasus, Wagub Geram Lihat Cara Pemkot Mataram Tangani Covid-19

172

MATARAM, DS – Wakil Gubernur Hj. Sitti Rohmi Djalilah geram. Pasalnya, penanganan Covid-19 di Kota Mataram terpantau tak ada perkembangan kearah perbaikan. Padahal, di sembilan kabupaten/kota lainnya, justru jajaran pemda setempat sudah mampu menurunkan angka kasus warga mereka yang terpapar virus mematikan asal Wuhan, Negara Tiongkok tersebut.

          “Tapi kondisi ini berbalik di Mataram, sudah tahu semua wilayahnya masuk zona merah. Tapi yang saya sesalkan, kelihatan jajaran pemdanya enggak ada upaya perbaikan penanganan Covid-19 hingga kini,” ujar Wagub saat memberikan keterangan pada wartawan, Selasa (7/7).

          Rohmi mengaku, kekesalannya kian bertambah menyusul saat turun ke berbagai pasar di wilayah Kota Mataram, justru ia menjumpai, tidak ada satupun pedagang di pasar tradisional yang menggunakan masker.

          Selain itu, saat turun itu, Wagub juga tidak menjumpai jajaran Pemkot Mataram yang tergabung dalam Gugus Tugas Penanganan Covid-19 di Kota Mataram berada di lokasi kerumunan masyarakat.

          “Saya sudah keliling dan pantau langsung, protokol penanganan Covid-19 bagi masyarakat tidak jalan di Kota Mataram. Ini aneh, sudah tahu penyebaran virus ini masive di semua lingkungan dan kecamatan. Namun, penanganannya enggak serius kayak sekarang ini,” tegas Wagub meradang.

          Ia mengaku, sejak awal telah berkomitmen membantu Pemkot Mataram guna mengedukasi serta menyolisasikan protokol Covid-19. Bahkan, semua jajaran OPD lingkup Pemprov NTB sudah turun tiap hari menyusuri titik keramaian warga di Mataram guna membagikan masker.

Selain itu, aparat TNI/Polri dan Forkompimda juga aktif membantu penanganan Covid-19 di Kota Mataram. Hanya saja, tindak lanjut dari jajaran Pemkot Mataram kelihatan sangat minim.

“Jadi, jangan salahkan jika di daerah lainnya banyak yang takut jika ada warga Mataram yang datang berkunjung. Misalnya, di Sembalun, Kabupaten Lombok Timur yang telah melarang warga ber-KTP Mataram berkunjung kesana. Ini karena, langkah proteksi terhadap penyebaran virus sudah mampu mereka kendalikan. Jadi, kalau ada warga Mataram berkunjung ke Sembalun, Pemab Lotim akan khawatir jika warga Mataram akan menularkan virus itu,” jelas Rohmi.

Ia menuturkan, dalam penanganan Covid-19 ini, diperlukan kolaborasi dari semua pihak, baik Pemkot Mataram dan Pemerintah Provinsi dalam melakukan edukasi, sosialisasi kepada masyarakat terkait penerapan protokol Covid-19.

Menurut Rohmi, kunci untuk membawa Kota Mataram keluar dari zona merah adalah saling bergandengan tangan. Namun, jika ada salah satu pihak yang mengabaikan penegakan protokol Covid-19 di seluruh aktivitas masyarakatnya, maka upaya serius yang sudah dilakukan Pemprov dan Forkopimda NTB akan sia-sia selama ini.

“Marilah, persepsi dan volume kita untuk penegakan protokol Covid-19 ini harus selaras dan sama. Pokoknya jangan main-main lagi karena masyarakat itu, akan bisa kita ajak manakala aparat pemerintahnya juga menegakkan aturan protokol secara disiplin dan penuh kesungguhan,” ucap Wagub.

Terkait klaim anggaran yang minim di OPD Pemkot. Rohmi mengungkapkan, sejatinya semua anggaran baik di OPD Pemprov juga terbatas. Hal ini, lantaran kondisi pandemi Covid-19 ini menyebabkan semua anggaran OPD diluar kenormalannya.

Namun, jika semua mengeluhkan anggaran yang minim lantas tidak berbuat apapun, maka hal itu sangat keliru. Sebab, OPD Pemprov yang minim anggaran pun masih bisa bekerja dengan turun aktif membagikan masker di wilayah-wilayah strategis dan kerumunan masyarakat di Kota Mataram selama ini.

“Saya enggak mau lagi ada istilah kekurangan dana lantas enggak bekerja. Wahai OPD Pemkot dan Wali Kota Mataram, tolong pakai hati nuraninya dalam kondisi serba susah ini. jadi, mari kita bekerja dengan gotong royong bersama-sama demi masyarakat kita, karena tugas pemerintah adalah membuat masyarakat aman, nyaman dan mencegah jiwa-jiwa mereka dari ancaman penyakit dan kelaparan,” tandas Wagub Rohmi Djalilah. RUL

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.