Berbagi Berita Merangkai Cerita

Stigmatisasi Penderita Corona Ancam Anak-anak, PKSAI Kota Mataram Gerak Cepat

57

MATARAM,DS-Stigmatisasi penderita corona di masyarakat masih terjadi. Bahkan ketika mereka sehat dan kembali ke rumah masing masing. Kenyataan ini sangat mengkhawatirkan, terutama bagi keluarga terpapar yang memiliki anak. Mengetahui persoalan itu, Pusat Kesejahteraan Sosial Anak (PKSAI) Kota Mataram pun bergerak.

Keterangan yang dihimpun menyebutkan, anak-anak (0-17 tahun) terpapar corona di Kota Mataram hingga Kamis (23/7) mencapai  56 orang, masing-masing 32 laki-laki dan 24 perempuan. Anak yang sudah sembuh sebanyak 39 orang, meninggal dunia 2 orang dan masih dalam perawatan sebanyak 15 orang.

Namun, ada yang masih mencemaskan dibalik adanya kesembuhan, yaitu terjadinya stigmatisasi oleh sebagian masyarakat. Kendati bukan kasus satu-satunya, salah satu kasus menimpa sebuah keluarga dengan enam anggota. Dari enam anggota keluarga ini, empat diantaranya terpapar corona. Diantaranya, terdapat anak-anak yang masih sekolah.

Keluarga asal Kecamatan Selaparang, Kota Mataram, sebut saja DN, diketahui terpapar corona beberapa waktu lalu setelah dilakukan rapid test dengan hasil reaktif dan berlanjut swab terkonfirmasi positif. Mereka pun menjalani masa isolasi sekira 1,5 bulan.

Ironisnya, setelah menjalani proses isolasi dan dinyatakan sembuh, di lingkungan tempat tinggalnya mereka menerima stigma buruk masyarakat. Setelah dinyatakan sembuh, keluarga DN ditolak warga setempat bahkan untuk kembali ke rumahnya sendiri.

Mengalami perlakuan itu, salah seorang anggota keluarga DN menghubungi pihak kelurahan dengan membawa surat keterangan dari rumah sakit. Mengetahui adanya keterangan sehat dari rumah sakit, sebagian masyarakat mau menerima kehadirannya sedangkan sebagian yang lain tetap menolak.

“Sempat ada warga yang memasang penghalang di jalan menuju rumah DN,” kata Tim Supporting Program PKSAI Kota Mataram, M. Fitriadi, Kamis (23/7).

Warga yang menolak beralasan khawatir  jika anak DN belanja jajan ke warung setempat. Karena itulah, salah seorang anak DN sering dibully oleh rekan sebayanya dengan panggilan ‘corona!’. Demi menjaga kenyamanan warga sekitar, istri DN bahkan kemudian beralih belanja ke pasar untuk keperluan sehari-hari alias tidak bertransaksi di warung terdekat.

Sakti Peksos Kota Mataram, Fatmawati, mengatakan pihaknya bersama Tim PKSAI dan psikolog — demi mendapatkan informasi itu — melakukan home visit ke keluarga DN guna penguatan terhadap anak dan keluarga yang bersangkutan.

Trauma Masker

Dalam home visit mengemuka, AZV (4 tahun), anak terakhir DN, sangat ketakutan saat melihat orang memakai masker, kaos tangan dan pakaian APD lengkap. Karena itulah, saat melakukan asesmen dan penguatan, Sakti Peksos harus melepas masker dan sarung tangan. Salah satu bentuk penguatan itu berupa praktik menggambar masker dan sarung tangan, atau sesuatu yang ditakuti sang anak.

“Perlahan AZV mengijinkan Sakti Peksos memakai kembali masker dan sarung tangan. Akhirnya AZV berani melakukan salaman,” tutur Fatmawati seraya menambahkan bahwa konseling juga dilakukan terhadap dua anak DN lainnya yang sudah sembuh dari Covid 19.

PKSAI melalui Dikes Kota Mataram pun segera menurunkan Tim Promkes untuk meninjau kembali hasil dari Tim Penanganan PKSAI. Kasi Promkes Dinas Kesehatan Kota Mataram, Dian Novita, mengemukakan langkah itu dilakukan guna memastikan kondisi keluarga serta edukasi kepada warga sekitar terkait stigmatisasi negatif terhadap pasien sembuh covid. Pun dalam rangka mempromosikan budaya bersih kepada warga sekitar.

Pembentukan Tim Khusus

Sementara itu, untuk mengantisipasi agar tidak terjadi masalah stigmatisasi serupa, PKSAI Kota Mataram membentuk tim khusus Covid-19. Tim ini merupakan gabungan dari Dikes Kota Mataram, Dinsos, DP3A, Kemenag Mataram, Dukcapil, LPA Kota Mataram, dan komunitas psikolog.

“Tim ini bertujuan untuk menjangkau sekaligus memberikan bantuan baik berupa kebutuhan pokok, kebutuhan khusus maupun bantuan psikolog bagi anak yang terdampak covid serta mengedukasi warga sekitar terkait stigmatisasi negatif terhadap penderita covid,” kata Kasi Rehsos Dinas Sosial Kota Mataram, Lalu Aulia Khusnul Ridho.

Tim Hebat PKSAI Kota Mataram juga menunjuk 70 orang tenaga lapangan yang akan bertugas memberikan informasi awal atau sebagai inisiator pendeteksian dini menangani masyarakat di kelurahan yang warganya terpapar Covid-19. Tim ini nantinya akan diberikan pelatihan serta modul-modul yang dapat dijadikan acuan oleh setiap pendamping kelurahan. ian

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.