Menu

Mode Gelap

Hukum · 11 Okt 2019 18:30 WITA ·

Sosialisasi Perlindungan Anak di “Zona Merah” Kekerasan


					Sosialisasi Perlindungan Anak di Kota Bima Perbesar

Sosialisasi Perlindungan Anak di Kota Bima

BIMA,DS-Paninae merupakan kelurahan yang menyumbang banyak kasus kekerasan terhadap anak. Namun tokoh tokoh masyarakat setempat bertekad menjadikan wilayah yang dikatagorikan “Zona Merah” kekerasan terhadap anak ini sebagai kelurahan ramah anak.

Ketua LPA Kota Bima, Juriati SH MH, pada Sosialisasi Perlindungan Anak yang digelar LPA NTB bekerjasama dengan Pemprov NTB di SKB SMA 4 Bima, Jumat (11/11), mengemukakan, banyak kasus kekerasan terhadap anak terjadi di Paninae. Ada kasus anak melakukan pemerkosaan terhadap anak dan bapak yang melakukan pemerkosaan kepada anak. “Tahun 2018 pelaku bapak dengan korban anak. Kini pelaku sudah dipidana 15 tahun,” katanya.

Pada sosialisasiyang dihadiri Ketua LPA NTB, H.Sahan SH dan 50-an tokoh masyarakat setempat itu Juriati mengemukakan muncul pula kasus kakek menyetubuhi cucunya yang yatim piatu. Pun pencabulan anak yang dilakukan pemlik ponpes.

“Ini kejadian yang ada di sekitar kita. Bukan mengumbar aib namun bagaimana mengatasi yang terjadi. Mungkin terjadi di luar kita namun lama-lama bisa mendekat kearah kita,” katanya seraya menambahkan satu kasus yang tidak terlayani secara cepat akan merembet memunculkan kasus lain.

Ia menuturkan, dua bulan lalu ditemukan pula anak yang hamil 8 bulan. Padahal ditahun sebelumnya anak tersebut sudah mengalami kehamilan dan didampingi agar bisa tetap sekolah. Anehnya, kejadian serupa terulang pada dirinya.
“Jika banyak virus itu ada di sekitar kita, jangan kaget itu terjadi. Perlindungan anak jadi wajib dalam kehidupan sehari hari,” katanya seraya berharap para orangtua agar mulai hati-hati. Apalagi jika mendapati ada anak yang hamil. Karena, ”Menikahkan anak hanya karena hamil bisa dipidana. Menikahkan bukan solusi terbaik,” ujarnya.

Lurah Penanae, Nurhayati, menyikapi “Zona “Merah” tersebut mengemukakan kelurahan setempat sudah membentuk aktifis perlindungan anak dan perempuan. Ia mengakui banyaknya kasus kekerasan anak dan perempuan yang akan dieleminasi dengan upaya-upaya perlindungan. Bahkan jika kemungkinan dibentuk LPA kelurahan setempat.

Menurut Juriati, perlindungan kepada anak meliputi upaya melindungi tumbuh kembang dan harkat martabatnya. Jika salah secara hukum, walau menjalani hukuman itu, dia punya hak melanjutkan hidupnya. Inilah yang menjadi pembeda bagi pelaku kejahatan yang dilakukan orang dewasa.

“Negara memberi ruang. Ketika dipidana jangan dibiarkan tidak melakukan pembinaan. Inilah yang dimaksud dengan peran masyarakat dalam melakukan perlindungan. Keluarga dan negara bertanggung jawab dalam tugas perlindungan anak,” katanya.

Sementara itu, Ketua LPA NTB, H.Sahan, mengemukakan orangtua juga bisa kena pidana jika tidak melakukan perlindungan yang sehat kepada anak-anaknya. Pasalnya, orangtua bertanggung jawab sejak anak masih berupa janin hingga anak menikah diusia yang cukup.

Menurut Sahan, seseorang disebut anak jika masih berusia di bawah 18 tahun. Walaupun sudah menikah, jika usianya terkatagori anak tetap disebut anak yang harus tetap dilindungi.

“Anak perlu dilindungi untuk menjaga hak asasi manusia. Anak dilindungi dari hak hidup, tumbuh kembang, partisipasi, dan hak identitas,” urainya.

Begitu anak lahir, kata dia, langsung diberi identitas berupa akta kelahiran. Hal ini sebagai bentuk perlindungan yang dimulai sejak kecil dari keluarga. Para orangtua tidak dibenarkan melakukan kekerasan kepada anak walau itu anaknya. Kini, kata dia, di NTB banyak anak yang berhadapan dengan hukum terlibat dalam narkoba, pelecehan seksual, pencurian, dan kasus lain.

Pada sisi diskusi mengemuka apakah ada Perda perlindungan orangtua? Surya Indah yang menanyakan persoalan itu terinspirasi oleh adanya kasus anak yang membunuh orangtuanya dan memenjarakan ortunya karena masalah tanah.
Sementara itu, Nelly Magdalena, salah seorang guru SD yang juga ketua wanita Katolik Kota Bima, mengaku pernah mendampingi anak-anak yang masih SMP yang sedang hamil. Kini, bayi anak itu berusia 7 bulan. Sedang si ibu yang masih anak-anak melanjutkan sekolah setara SMA. “Nah, nnaknya yang baru lahir kemarin bagaimana aktanya?” tanyanga. ian

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Seorang Pria Menjadi Korban Teror Panah di Kota Mataram

22 Mei 2022 - 17:45 WITA

Gubernur Ajak Bupati Bima Bantu Mahasiswa yang Diamankan Polda NTB

20 Mei 2022 - 07:35 WITA

Perdagangan Orang Harus Dicegah Seluruh Pihak

18 Mei 2022 - 06:02 WITA

Program NTB Zero Unprosedural Mulai Terwujud, Kadis Nakertrans NTB Atensi Kiprah Kades dan Kadus

17 Mei 2022 - 17:13 WITA

Tuding Abdul Aziz Sebar Hoaks Soal Lahan 60 Hektare, Kuasa Hukum Ali BD Ajukan Rekonpensi di PN Sumbawa

12 Mei 2022 - 16:22 WITA

Korem 162/WB Gelar Penyuluhan Hukum

26 April 2022 - 15:11 WITA

Trending di Hukum