Berbagi Berita Merangkai Cerita

Sosialiasasi 4 Pilar di Loteng Rachmat : Gotong-Royong sebagai Nafas Pancasila Harus Diimplikasikan

0 7

LOTENG, DS – Anggota MPR RI, H. Rachmat Hidayat, menggelar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika). Kegiatan ini berlangsung di Pondok Pesantren (Ponpes) Manhalul Ma’arif di Desa Darek, Kecamatan Praya Barat Daya, Lombok Tengah.

Ribuan tokoh agama, masyarakat serta para anggota DPRD NTB dan Kabupaten Lombok Tengah dari PDIP hadir untuk mendengarkan dan berdiskusi secara interaktif dengan Rachmat. Menurutnya, gotong royong sebagai intisari Pancasila harus menjadi nafas berkehidupan dan bermasyarakat.

Kata dia, kemerdekaan yang diraih Bangsa Indonesia bukan pemberian maupun hadiah. Akan tetapi direbut dengan tetesan darah, air mata dan perjuangan melawan para penjajah.

“Kemerdekaan Indonesia adalah perjalanan panjang sejarah yang mengorbankan harta, jiwa dan raga dalam mengusir penjajah. Semua masyarakat, baik itu para ulama, pemuda, TNI dan eleman bangsa lainnya ikut bahu membahu terlibat langsung didalam perjuangan itu,” ujarnya.

Rachmat mengatakn kemerdekaan tersebut bertujuan untuk menjadikan masyarakat adil, makmur dan sejahtera. Oleh karena itu, dengan semangat gotong-royong, maka perbedaan yang ada, baik suku, bahasa, agama dan budaya tak menjadikan halangan untuk mewujudkan kemerdekaan. Justru, perbedaan itu menjadi kekuatan bangsa yang diikat dalam Bhineka Tunggal Ika.

“Pancasila lahir dari nilai-nilai gotong royong. Dan pada tanggal 18-Agustus-1945, Pancasila ditetapkan sebagai falsafah dan ideologi resmi Negara,” tegas Anggota DPR RI Dapil NTB-2 (Pulau Lombok).

Menurut Ketua DPD PDIP NTB itu, ajaran pendiri bangsa, yakni Bung Karno yang dikenal dengan sebutan Marhaenisme mengandung falsafah Pancasila yakni, gotong royong. Oleh karena itu, sikap Pancasila bagi siapapun warga Indonesia harus terus dijunjung dan dipelihara.

Kata dia, semangat merendahkan diri yang diajarkan dalam agama Islam juga memiliki kesamaan dengan penganut agama lainnya. “Makanya, kalau kita mengaku beragama Islam, maka kita wajib dan tunduk pada ajaran agama kita. Disitulah nilai tawadlu dan kerendahan hati sesuai ajaran Bung Karno yang mengandung filosofi Pancasila,” kata Rachmat.

Dalam kesempatan itu, ia menjelaskan pascabangsa Indonesia merdeka ada sejumlah negara lainnya di dunia yang mencoba meniru konsep Pancasila dari Indonesia. Negera-negara itu diantaranya, Mesir dan Malaysia.

“Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser menyanjung konsep Pancasila Indonesia. Itu karena dia kagum atas konsep kegotong royongan didalamnya. Jadi, sebagai generasi penerus bangsa, kita wajib mengimplementasikan semangat gotong royong dalam kehidupan keseharian kita berbangsa dan bernegara,” tandas Rachmat seraya kagum atas penerapan konsep Pancasila yang ditunjukkan oleh TGH. Ma’arif Makmun selaku pimpinan Ponpes setempat yang membiasakan santrinya untuk mengamalkan nilai-nilai Pancasila di areal lingkungan Ponpes setempat.

Sementara itu, pimpinan Ponpes Manhalul Ma’arif di Desa Darek, Kecamatan Praya Barat Daya, Lombok Tengah TGH. Ma’arif Makmun mengaku, jika penerapan nilai-nilai Pancasila secara utuh akan bisa menangkal masuknya paham radikal yang kini marak di berbagai wilayah di Indonesia.

“Pokoknya, jika kita mengaku NU sudah wajib kita melaksanakan Pancasila. Ingat, NKRI itu adalah harga mati, sehingga semua kita baik itu santri, guru dan pimpinan yayasan harus wajib melaksanakan nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan nyata kita,” ujar Rais syuriah PCNU Loteng itu. RUL.

Leave A Reply