Berbagi Berita Merangkai Cerita

Soal Ucapan Natal, Begini Respon Ali BD

57

Ali Bin Dachlan

Selong, DS-Ucapan Natal selama ini masih menjadi kotroversi. Bagi Rektor Universitas Gunung Rinjani (UGR), hal itu ringan=ringan saja. Kontroversi ini serupa dengan berbagai ucapan salam yang beragan jenisnya yang biasa diucapkan pejabat pada wal pertemuan ketika memberikan sambutan.

Kontroversi tersebut sempat dikupas Ali BD dalam bukunya, terutama menyagkut ucapan salam dari berbagai agama yang diucapkan satu orang, dari assalamu’alaikum, salom, om swastiastu, dan seterusnya.Kebiasan ini dikesankan sebagai agama “campur sari”.

Pada laman facebooknya Ali menuturkan ketika bekerja di pemerintahan, dalam setiap acara hanya ucapkan “Assalamualaikum” saja.

Menurut mantan Bupati Lombok Timur itu, apa yang biasa diucapkan sebagai  salam tersebut terlalu panjang. Sebaliknya dia menyarankan jika di suatu daerah penganut agamanya dominan, cukup salam yang digunakan menurut agama dominan.

“Sedangkan pemerintah yang lain dari Pusat sampai daerah,salamnya”Assalamualaikum wr,wb,”salam sejahtera untuk kita semua,namo sangiang adi buda,om swastiast,salome: dan masih banyak tambahannya,” kata Ali.

Ia mencontohkan di Bali yang lumrah jika menggunakan  salam Hindu, di NTT pakai salam bagi ummat Kristiani, di Lombok pakai salam berdasarkan  Islam.

“Supaya kata katanya hemat dan tidak mubazir,” cetusnya.

Lalu bagaimana dengan ucapan Natal,hari raya Nyepi dan Galungan?

“Jika mau ucapkan saja,hari raya nyepi/galungan,hari raya natal,atau tahun baru ,Agama tidak mengatur,hanya adat kebiasaan saja.Mau ucapkan,mau diam terserah anda,” katanya.

Postingan Ali BD menuai respon Najihuddin.

“Dari segi kaca mata hukum syari’at Agama Islam salah satu ajarannya Islam adalah mengenai permasalahan adalah sudah termaktub dalam surat Al-Qur’an ” Agamamu (sekalian) Agamaku”

Nah dalam ayat tersebut terserah bagaimana tanggapan dan responnya bagi seorang pribadi muslim menurut kadar kemampuan ilmu nya masing-masing dan menurut para ahli bidangnya masing-masing tentang merespon ayat tersebut diatas,” katanya.

Wallahu a’lam.

Ali Bin Dachlan pun menimpali.

“Najihudin.Acara natalan bukan agama,melainkan adat saja..Kalau di Peringgabaya sama dengan rebo bontong saja.Jadi ucapkan saja kalau mau,kalau ndak mau ya,diam saja.Tidak ada pihak yang merasa dirugikan.Damai saja.Mari kita pikirkan yang lebih besar”. ian

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.