Berbagi Berita Merangkai Cerita

Soal Survei Pilkada Sumbawa, Pengamat : Dominasi Para Calon Petahana Mulai Terlihat

54

Foto : Inilah hasil survei My Institute yang menempatkan paslon Mo-Novi menggungguli empat paslon lainnya yanf bertarung di Pilkada Sumbawa.

MATARAM, DS – Sebanyak lima pasangan calon bupati dan wakil bupati memastikan mengikuti Pilkada Sumbawa pada tahun 2020.  Menariknya, meski diisukan batal maju dalam pilkada, menjelang injury time justru calon petahana Bupati Kabupaten Sumbawa 2015-2020, H M Husni Djibril akhirnya ikut bertarung dalam pilkada kali ini.

Husni menggandeng H Muhammad Iksan setelah sebelumnya dirinya menyatakan batal maju karena alasan kesehatan. Sementara, Wakil Bupati petahana,  H Mahmud Abdullah, telah mendaftarkan ke KPU setempat pada Jumat (4/9) lalu. Ua menggandeng  Dewi Noviany sebagai calon Wakil Bupatinya.

Lantas, apakah pilkada Kabupaten Sumbawa akan menjadi ranah pertarungan para petahana?

Pengamat Politik  dari lmu Pemerintahan Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (IISBUD SAREA), Joni Firmansyah mengatakan,  kehadiran pasangan Husni-Iksan memberikan warna berbeda setelah sebelumnya Husni menyatakan tidak akan mencalonkan diri.

“Petahana, baik pak Husni dan Haji Mo, tentunya lebih diuntungkan dibandingkan dengan kandidat lainnya, baik pasangan Jarot-Mukhlis, pasangan Talif-Sudir maupun pasangan Nur-Salam. Keuntungan yang paling nyata adalah popularitas mereka lebih dominan, dibandingkan kandidat yang lain,” ujar Joni menjawab wartawan, Rabu (9/9).

Menurut dia, dalam pemilu, selain popularitas, kandidat juga harus memiliki modal lainnya agar dapat bersaing sebagaimana gagasan sosiolog Prancis Pierre Felix Bourdieu yang kerap menjadi bahan rujukan.

Modal itu, kata dia, meliputi modal sosial, modal ekonomi, hingga modal kultural dan simbolik. “Modal-modal inilah yang kemudian disebut sebagai modal politik. Dalam hal ini, petahana dapat dikategorikan memiliki ini semua, mereka di dukung oleh partai politik dan dukungan elit lokal, memiliki modal ekonomi, serta memiliki jaringan politik,” kata Joni. “Sehingga masyarakat yang dapat menilai, dengan kepemilikan modal (capital) ini, apakah akan menjadi ranah pertarungan para petahana?,” imbuhnya.

Merujuk kepada hasil survei, nampaknya belum ada lembaga survei yang merilis hasil surveinya yang update hingga bulan September ini dalam memuat 5 pasang calon, kecuali MY Institute yang merilis hasil survei 5 pasang calon pada periode Februari-April 2020.

“Dari April hingga September, pasti ada perubahan. Massa mengambang akan berkurang, bahkan akan muncul swing voters pada periodesasi tersebut. Namun, dari data tersebut, kita dapat melihat bahwa petahana mendominasi persentase survei, dimana pasangan Haji Mo-Novy memperoleh 45,2%, disusul oleh pasangan Husni-Iksan pada posisi kedua 23%,” ungkapnya.

“Sementara itu, pasangan lainnya yaitu Jarot-Mukhlis sebesar 16%, Talif-Sudir 10% dan pasangan Rasyidi-Sudirman Malik 1,2%, karena saat itu belum muncul nama pasangan Nur-Salam. Tentunya data ini pasti berubah, hanya saja dari data ini dapat terlihat bahwa sejak awal persentase petahana sudah tinggi. Kita masih menunggu hasil survei yang lebih terkini, untuk menjawab pertanyaan terkait dominasi petahana tersebut,” sambung Joni menjelaskan. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.