Berbagi Berita Merangkai Cerita

Soal Pembangunan Kereta Gantung Rinjani Dewan NTB Mulai Ada Pro Kontra, TGB Tekankan Pahami Aturan

0 9

MATARAM, DS – Rencana pembangunan kereta gantung di Gunung Rinjani yang diwacanakan Pemkab Lombok Tengah membuat para wakil rakyat di DPRD NTB terbelah. Setelah sebelumnya Wakil Ketua DPRD NTB Mori Hanafi dan sejumlah anggota dewan lainnya kencang menyuarakan penolakannya atas rencana Bupati Suhali FT mewujudkan pembangunannya, pandangan yang berbeda disuarakan Anggota Komisi I DPRD NTB dari Fraksi Gerindra H. Hamja.

Hamja mendukung penuh rencana pemkab Lombok Tengah guna mendatangkan investor membangun kereta gantung di Gunung Rinjani. Berdasarka pengalamannya saat berkunjung ke luar negeri, ia merasa kagum atas adanya kereta gantung seperti di negara China, Hongkong, Singapura dan Malaysia.

“Saya sudah melihat langsung hasilnya. Disitu, wisatawan banyak yang antri naik sekadar melihat keindahan pemandangan pegunungan. Makanya saya katakan justru akan lebih bagus lagi kalau ada kereta gantung. Itu sangat membantu wisatawan,” tegas Hamja menjawab wartawan, Rabu (12/7).

Kehadiran kereta gantung di Rinjani diyakininya berdampak positif terhadap perkembangan pariwisata NTB. Apalagi, kereta gantung tersebut akan mengundang wisatawan dari berbagai daerah dan negara.

“Sebab ini satu-satunya di Indonesia, saya yakin target kinjungan wisatawan kita akan melampaui, karena banyak yang datang karena penasaran dengan keindaha Rinjani tapi selama ini tidak bisa naik kepuncak karena alasan fisik misalnya,” ujar Hamja.

Ia berharap masyarakat tidak melihatnya dari sisi pandang negatif saja. Kita juga jangan anti terhadap perubahan, kalau tidak maka pariwsiata NTB akan sulit untuk maju, karena minimnya kreasi.

“Kapan kita akan maju, kereta gantung ini tidak akan mematikan pencaharian masyarakat, silahkan kalau ada yang mau menikmati sensasi lewat jalur tracking, silahkan, jadi lengkap,” tandas Hamja.

Sebelumnya, Wakil Ketua DPRD NTB, Mori Hanapi dan sejumlah anggota dewan lainnya sangat kencang menyuarakan penolakannya atas rennaba bupati Loteng H. Suhali FT bangun kereta gantung tersebut.

Dikonfirmasi terpisah, Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi angkat bicara terkait isu rencana pembangunan kereta gantung di Gunung Rinjani. TGB menyatakan pembangunan di kawasan hutan tidak boleh jika bertentangan dengan UU.

Lebih serius, TGB mengingatkan perizinan pembangunan konstruksi di daerah hutan, terlebih hutan lindung sangatlah ketat. Pemerintah bahkan telah mengaturnya secara tertulis dalam UU.

“Untuk membangun jalan saja kita punya satu dua kasus misalnya jalan dari bandara ke Kuta. Itu ada tikungan yang masuk kawasan hutan, kita mau melebarkannya saja susah sekali. Padahal sudah ada jalan itu,” ungkapnya.

Menurut TGB, masih ada banyak langkah lain yang bisa ditempuh untuk memaksimalkan potensi wisata di Rinjani. “Jadi kalau kita bisa memaksimalkan potensi tanpa menabrak UU itu jauh lebih baik. Jangan sampai nanti keluar izin yang melanggar UU, seperti Sekaroh jadinya nanti,” imbuhnya.

“Masih banyak ruang yang memungkinkan kita secara kreatif memanfaatkan potensi wisata, tanpa kita harus berbenturan dengan Undang-Undang. Itu saja pesan saya,” lanjutnya.

Orang nomor satu di NTB ini menyebutkan pula konsekuensi berat yang harus dihadapi jika kedapatan melanggar UU. Seperti kasus Sekaroh yang melahirkan tersangka dan diproses aparat penegak hukum. Pasalnya, lahan hutan diduga diperjualbelikan untuk menjadi milik pribadi.

“Bukan gagah-gagahan kita ini ada UU. Cuma saya ingatkan jangan sampai kita membuat program yang menabrak UU. Karena kalau UU dilanggar ada daya paksa dari penegak hukum untuk menegakkannya. Itu bahaya nanti,” jelasnya.

Lebih lanjut, TGB menanyakan apakah masyarakat tak takut jatuh jika naik kereta gantung tersebut. “Terik ite bareh, ndek de takut putus ke? (Jatuh nanti, tidak takut putus ya?),” ujarnya. fahrul

Leave A Reply