Berbagi Berita Merangkai Cerita

Soal Gubernur Masuk Bursa Capres, Ini Pendapat Dua Pengamat Politik

61

FOTO. Dr Kadri (FOTO. RUL)

MATARAM, DS – Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Dr. Kadri, menilai rencana Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menjadikan Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah sebagai kandidat calon presiden (Capres) atau calon wakil presiden (Cawapres) pada Pemilu 2024 mendatang, sudah tepat.

Pasalnya, PKS mengalami krisis kader pascaditinggal oleh dua tokoh muda yang digadang-gadang bakal menjadi pemimpin masa depan bangsa Indonesia. Yakni, Fahri Hamzah dan Anies Matta yang memilih hengkang mendirikan partai baru (Gelora).

“Pilihan pada pak Gubernur NTB, lebih pada penguasaan dan menjaga ritme politik. Ini karena PKS sadar mereka tengah krisis kader. Jadi, mengajukan pak Gubernur NTB, mutlak dilakukan,” kata dia pada wartawan, Kamis (22/4).

Menurut Kadri, Gubernur NTB yang biasa disapa Bang Zul, sudah masuk kreteria syarat minimal politisi untuk jadi Capres-Cawapres. Yakni, jika berbicara personal Bang Zul, punya track record politik yang baik. Dia pernah di legislatif (Anggota DPR RI tiga periode) dan kini eksekutif tanpa cela apapun.

Bahkan, untuk level kepala daerah, Gubernur NTB masuk sebagai salah satu kepala daerah yang cukup diperhitungkan.

“Sehingga dari sisi itu, Gubernur NTB sudah memenuhi kreteria pemimpin daerah yang bisa diajukan partai ke level lebih tinggi,” ujar Gubernur

“Jadi, hitungan PKS murni karena kompetensi personal Bang Zul yang harus dimunculkan mengatasi kelangkaan kader yang dimiliki saat ini,” sambung Kadri.

Menurut dia, dalam pertandingan politik tidak lagi dikenal dengan sistematik dan prematur. Namun, peluang itu dilihat oleh partai sebagai bagian dari strategi politik.

“Jadi, politik itu peluang. Disitu, langkah PKS murni kalau saya lihat dilatar belakangi dari hal-hal yg normatif. Yakni, peluang,” tegas Kadri.

*Sia-sia

Sementara itu, Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram lainnya, Agus MSi justru berbeda pandangan dengan koleganya.

Menurut Agus, langkah PKS yang menjadikan kadernya, yakni Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah sebagai kandidat calon presiden (Capres) atau calon wakil presiden (Cawapres) pada Pemilu 2024 mendatang, bakal sia-sia.

Sebab, demokrasi elektoral. Yakni, Provinsi NTB sebagai daerah kecil penduduk akan akan sulit menghegomi pemilih besar yang banyak berada di Pulau Jawa.

Mengingat, lanjut dia, Pemilu di Indonesia masih menggunakan pemilu langsung dengan sistem pemilu berupa proposional terbuka.

“Disitu, demografi elektoral jadi penentunya. Jadi, jika PKS tetap mendorong Pak Zul, analisa saya tersandung di elektoral,” tegas Agus.

Ia mencontohkan, saat ramai Gubernur NTB sebelumnya Dr. TGH Muhamad Zainul Majdi alias Tuan Guru Bajang (TGB) dieluk-elukan sebagai Capres dan Cawapres potensial di Pemilu lalu. Namun, realistis politik berbicara lain.

“Untuk pemilu 2024, saya lihat peluang Pak Anies, Ridwan Kamil, Pak Ganjar, dan Bu Risma justru lebih besar karena mereka punya sumber daya politik elektoral di daerah gemuk wilayah dan penduduknya,” tandas Agus. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.