Berbagi Berita Merangkai Cerita

Situs Budaya Makam Beru, Tabir Meletusnya Gunung Samalas dan Terkuburnya Kerajaan Purba di Lombok

81

Situs Budaya Makam Beru Desa Wanasaba Lotim (Foto : Kusmiardi)

SELONG, DS-Situs Budaya Makam Beru di Desa Wanasaba Kecamatan Wanasaba Lombok Timur (Lotim) Nusa Tenggara Barat (NTB), berada dalam areal pemakaman umum seluas 6 ha. Makam Beru dibangun pada tahun 2006, saat masa pemerintahan Bupati Lotim DR. H.Moch.Ali Bin Dachlan (2003 – 2008). Pada saat itu langsung diurus pengajuan sebagai Situs Cagar Budaya yang harus dilindungi dan dilestarikan sebagai bukti benda bersejarah masa lampau.

Baru pada tahun 2010, SK sebagai Situs Cagar Budaya diterbitkan, saat masa pemerintahan SUFI (HM.SUKIMAN AZMY dan HM.SYUAMSUL LUTFI) periode 2008 – 2013 sebagai Bupati Lotim, lewat Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Lotim. Kembali SK sebagai Situs Budaya Makam Beru diterbitkan, saat masa pemerintahan SUKMA (HM. Sukiman Azmy dan H.Rumaksi) periode 2018 – 2023 sebagai Bupati Lotim, lewat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lotim tahun 2020.

H. Lalu Sukradis, S.Pd

Menurut Jupel (Juru Pelihara) Situs Makam Beru, H. Lalu Sukradis, S.Pd., Kamis (14/10/2021), patilasan Walyullah dari Tanah Jawa di Makam Beru itu tertulis dalam Kitab Mangui, sebagaimana disampaikan oleh Raden Arya Baya (Ninik dari Haji Lalu Sukradis). “Namun sayang, buku tersebut dibawa ke Sulawesi oleh salah seorang paman dan tak dibawa kembali. Hingga sekarangj buku tersebut tak ditemukan,” tutur pensiunan Guru SMPN 3 Wanasaba ini.

Lalu Sukradis mengemukakan pada tahun 1200 an M (abad 13 M) terdapat seorang ulama’ dari tanah Jawa berangkat ke Gumi Sasak Lombok. Sampai di Bayan (Pelabuhan Carik) Lombok Utara ula,a itu menetap di sana. Sang Walyullah kemudian mendapat mubassyirat bahwa Gunung Samalas (Gunungj Rinjani saat ini) akan meletus. Karena itu, bersama pengiringnya kemudian mengamankan diri ke Gunung Anaq Dara (Mangkudara : Indonesia). Benar adanya, Gunung Samalas pun meletus pada tahun 1257 M yang getarannya maha dahsyat hingga Eropa, selama tujuh hari tujuh malam. Erupsinya tidak mengalir ke seputaran Gunung Anak Dara sehingga ulama itu pun selamat.

Sementara itu, sekelompok orang (pengungsi di sebuah tempat di seputaran Gunung Samalas) dipimpin oleh seorang walyullah pun berdo’a untuk mengjhentikan letusan Gunung Samalas yang tak kunjung reda. Setelah berdo’a, Gunung Samalas tetiba berhenti meletus.

Di tempat berdo’a tersebut ditemukan puing-puing kerajaan tertua (Purbakala) di Lombok. Tempat itu kemudian diberinama Selaparang yang berarti batu penentuan.

Mengetahui Gunung Samalas sudah aman, sang walyullah bersama pengiringnya kembali ke tampat semula (Bayan Pelabuhan Carik). Sang Walyullah dan pengiringnya kemudian berniat ke Selaparang (Kusmiardi/bersambung).

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.