A place where you need to follow for what happening in world cup

Sisa Dua Tahun Pimpin NTB, Isvie Minta Gubernur Fokus Atasi Pengangguran Dampak Pandemi

71

FOTO. Ketua DPRD NTB Hj. Baiq Isvie Rupaeda saat membuka diskusi Forum Wartawan Parlemen NTB ‘DPRD NTB Bicara 3 Tahun Kepemimpinan Zul-Rohmi’, Selasa (21/9) di kantor DPRD setempat. (FOTO. RUL/DS)

MATARAM, DS – Klaim Pemprov NTB yang menyebutkan angka kemiskinan menurun selama pandemi Covid-19, menuai reaksi Ketua DPRD NTB Hj. Baiq Isvie Rupaeda.

Menurut dia, hingga kini masih banyak warga NTB yang hidup di bawah garis kemiskinan. Pascapandemi justru angka pengangguran masih meningkat, dipicu hotel yang sepi wisatawan.

Selain itu, banyak warga masyarakat yang juga kesulitan memperoleh akses kesehatan yang layak untuk memperoleh pengobatan di rumah sakit milik Pemda NTB.

“Jadi, catatan saya di tiga tahun kepemimpinan Zul-Rohmi memimpin di NTB, perlu ada perbaikan di layanan kesehatan dan bagaimana penciptaan lapangan pekerjaan diperbanyak. Hal ini untuk mengurai masalah pengangguran dan kemiskinan di NTB,” ujar Isvie saat membuka diskusi Forum Wartawan Parlemen NTB ‘DPRD NTB Bicara 3 Tahun Kepemimpinan Zul-Rohmi’, Selasa (21/9) di kantor DPRD setempat.

Menurut Isvie, paket yang sering disebut Dua Doktor itu, memang memimpin NTB dalam kondisi dan situasi yang tidak biasa. Di tahun pertama dihadapkan pada pemulihan gempa bumi menyusul tahun kedua dan ketiga menghadapi gelombang Covid-19.

Oleh karena itu, di sisi dua tahun kepemimpinannya di NTB, diharapkan Zul-Rohmi fokus untuk bekerja dengan menyejahterakan masyarakat.

“Sisa dua tahun kepemimpinan itu, sudah banyak duka dialami mulai gempa dan pandemi Covid-19, maka sisa yang kurang. Khususnya, bagaimana menciptakan lapangan pekerjaan hingga perbaikan layanan kesehatan harus menjadi fokus yang lebih banyak dikerjakan,” kata Isvie.

“Saya yakin dan optimis, Pak Gubernur dan Wagub akan bisa menuntaskan sisa pekerjaan yang kurang-kurang itu,” sambung dia.

Isvie berharap kegiatan diskusi ini harus sering dan sesering mungkin dilakukan. Sebab, sebanyak 65 anggota DPRD NTB sangat baik.

“Kalau memang ada kritik dari lembaga itu biasa. Memang disani banyak singa, dan lembaga ini berfungsi untuk bicara. Tapi masukan lembaga dewan itu adalah tanda kerinduan dan cinta pada Pemprov NTB,” tandas Isvie Rupaeda.

Diketahui, pada Maret 2021. Jumlah penduduk miskin pada September 2020 tercatat 746,04 ribu orang (14,23 persen). Pada Maret 2021, jumlah penduduk miskin 746,66 ribu orang (14,14 persen).

“Terlihat adanya penurunan persentase penduduk miskin selama periode September 2020 – Maret 2021 yaitu sebesar 0,09 persen poin. Akan tetapi, nilai ini masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan Maret 2020 yang tercatat sebesar 713,89 ribu orang (13,97 persen),’’ sebut Koordinator Fungsi Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, Arrief Chandra Setiawan dalam siaran tertulisnya, beberapa waktu lalu.

Pada Maret 2021, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan tercatat 391,89 ribu orang atau 14,92 persen. Sedangkan penduduk miskin di daerah pedesaan 354,77 ribu orang atau 13,37 persen. Peranan komoditas makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditas bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan).

Ini terjadi baik di perkotaan maupun perdesaan. Pada Maret 2021, sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan sebesar 74,88 persen untuk perkotaan dan 75,50 persen untuk perdesaan. Menurut Arif, pada periode September 2020 – Maret 2021, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) di NTB mengalami penurunan dari 2,740 pada September 2020 menjadi 2,239 pada Maret 2021.

Ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin di NTB cenderung mendekat dari Garis Kemiskinan. Kemudian Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) juga mengalami penurunan dari 0,730 pada September 2020 menjadi 0,491 pada Maret 2021. Ini berarti kesenjangan pengeluaran di antara penduduk miskin semakin berkurang.

Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) baik di perkotaan maupun perdesaan mengalami penurunan. Untuk perkotaan, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) menurun dari 2,847 pada September 2020 menjadi 2,351 pada Maret 2021. Untuk perdesaan, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) menurun dari 2,636 pada September 2020 menjadi 2,129 pada Maret 2021.

Selanjutnya, Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) untuk perkotaan maupun perdesaan mengalami penurunan. Untuk perkotaan, Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menurun dari 0,714 pada September 2020 menjadi 0,511 pada Maret 2021. Untuk perdesaan, Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menurun dari 0,745 pada September 2020 menjadi 0,471 pada Maret 2021.

Arif juga menguatkan, penurunan angka kemiskinan di NTB ini didukung tingkat pengangguran terbuka pada bulan Februari 2020 turun menjadi 3,04 persen. Pada Agustus 2021 naik jadi 4,22 persen. Dan keadaannya Februari 2021 turun legi menjadi 3,97 persen. Demikian juga dengan perekonomian NTB triwulan I 2021 ini sebesar 1,13 persen, menurun dibandingkan dengan keadaan Agustus 2020 sebesar 2,99 persen.

Inflasi juga terkendali 1,89 persen. Inflasi ini tergolong rendah. Kenaikan harga juga tidak terjadi signifikan. Bahkan cenderung harga-harga mengalami penurunan. Sementara keadaan pengangguran karena Covid-19 naik 5,31 persen. Dari Agustus 2020 ke Februari 2021, angka pengangguran 28.000 orang menjadi 23.008 orang. Demikian juga bantuan-bantuan sosial dalam bentuk bantuan tunai dan sembako juga cukup besar turun ke NTB. Realisasinyapun cukup menggembirakan. “Banyak faktor yang membuat angka kemiskinan NTB turun,” ujar Arif. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.

Lewat ke baris perkakas