Berbagi Berita Merangkai Cerita

Silaturrahmi Ali BD Tanpa Batas

0 6

MATARAM,DS-Jelang Pilgub 2018, sejumlah bakal calon Gubernur NTB aktif memasang baliho di sepanjang jalan baik di Lombok maupun Sumbawa. Anehnya, Ali BD tidak melakukannya. Bahkan “Sang Pendobrak” aktif bergerilya memenuhi berbagai undangan silaturrahmi kepadanya. Dilakukanlah roadshow silaturrahmi tanpa batas. Ternyata, Ali BD sangat terkenal di Pulau Sumbawa.

Popularitas tokoh pada baliho itupun seakan “tumbang”. Malahan ada yang benar-benar lengser akibat diterpa angin dan hujan. Dalam soal cuaca, Ali BD memang sudah berhitung sehingga menilai kini bukan saat yang tepat memajang diri di pinggir jalan. Karena, pembuatan baliho membutuhkan dana. Jika pun ada miliknya yang sudah dipasang, itu semata swadaya masyarakat yang tak bisa dibendung.

Dalam kesempatan bertatap muka dengan masyarakat di Labuhan Haji beberapa waktu lalu, Ali memaparkan tidak pernah memerintahkan timnya untuk memasang baliho dirinya. Namun, ada pendukungnya yang justru memasang secara sukarela dikarenakan “sakit hati”. Sakit hati dalam kaitan ini, karena bakal calon lain sudah sejak awal menerobos. Sedangkan kandidat yang diusungnya nyaris tidak ada, bahkan di lingkungannya sendiri.

Bagi Ali, kehadiran baliho kandidat lain tidak lepas dari upaya agar dikenal. Hal itu wajar-wajar saja dilakukan agar lebih populer. Karena itulah, ketika ada salah satu baliho milik kandidat lain rubuh di Masbagik akibat diterpa hujan, Ali memerintahkan pendukungnya untuk memasangnya kembali.

Hal terpenting dalam menyambut pilkada itu, menurut Ali, adalah melakukan silaturrahmi. Karenanya, sejak jauh hari silaturrahmi dilakukan Ali BD. Sebutlah ke STIE Bima, Universitas Samawa, Universitas Muhammadiyah Mataram, dan Universitas Mahasaraswati Mataram. Di tingkat masyarakat malah lebih aktif lagi. Itu dilakukan bukan dengan alasan kampanye, melainkan memberikan kuliah umum guna pencerhan berfikir bagi masyarakat.

Dalam kesempatan kuliah umum tersebut Ali memaparkan berbagai pandangannya yang terkait dengan keilmuwan. Sebutlah menyangkut otonomi daerah. Sebagai tokoh yang pernah hadir dalam pemerintahan yang berbeda-beda sejak orde lama I, orde lama II (sebutannya untuk orde baru), dan orde reformasi, Ali menilai terjadi empat kali perubahan dalam UU Otda.

Dalam silaturrahmi itu berbagai hal mengemuka, apalagi digelar dialog dengan audience. Dan, Ali menjawab dengan cermat setiap pertanyaan, baik menyangkut otonomi, TKI, faktor usia jika harus bertarung dalam pilkada, ekonomi, hingga masalah Perbup Poligami yang sempat mengemuka secara nasional.

Ali pun menguasai betul persoalan di Pulau Sumbawa. Sebutlah terkait dengan kecenderungan orang Sumbawa menjadi TKW. Padahal areal pertanian di sana begitu luas. Jika orang Lombok yang hanya memiliki tidak sampai setengah hektar lahan pertanian menjadi TKI, itu bisa dimaklumi. Namun jika orang Sumbawa melakukannya, Ali memang bertanya-tanya.

Dalam kaitan ini, cara pandang yang digunakan adalah cara pandang budaya. “Budaya itu mengacu pada kebaikan,” katanya. Sebaliknya jika suatu tradisi atau seni tidak mengacu pada kebaikan, hal itu bukanlah merupakan budaya. Karena itulah berbagai persoalan yang mengait dengan masyarakat Sumbawa harus dibedah secara budaya. R.RABBAH

Leave A Reply