Berbagi Berita Merangkai Cerita

Sikap Hidup Fanatik Ancam Kerukunan Bangsa

0 7

MATARAM, DS – Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban (UKP-DKAAP), Prof Din Syamsuddin, mengatakan kerukunan bangsa Indonesia masih dapat berjalan dengan baik. Hal itu ditandai dengan terjaganya stabilitas nasional yang kondusif, hubungan antarumat beragama yang positif dan dinamis. Meski demikian, ia tidak menutup mata adanya ketegangan dan potensi konflik yang timbul dari segelintir anak bangsa yang memiliki wawasan ekslusif, fanatik dan ekstrim.

“Maka dari itu potensi yang kayak gitu harus kita atasi secara bersama-sama. Apalagi, biasanya konflik antarumat beragama biasanya tidak disebabkan oleh faktor agama, tetapi oleh faktor-faktor non-agama, seperti kesenjangan sosial, ekonomi, politik,” ujar Din Syamsuddin saat menyampaikan sambutannya pada dialog dan silaturahmi pemuka agama se-NTB di Pendopo Gubernur NTB, Minggu (15/7).

Ia mengatakan semangat optimisme untuk menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar harus terus ditanamkan. Mengingat, bangsa Indonesia memiliki modal, yakni kerukunan antar umat beragamanya yang terjalin sejak lama dan masih dipertahankan hingga kini.

Wakil Dewan Pembina MUI berjanji terus turun ke berbagai wilayah di Indonesia bersama seluruh pemuka agama untuk menyolisasiskan hasil Musyawarah Besar (Mubes) Pemuka Agama untuk Kerukunan Bangsa yang berlangsung di Jakarta pada 8-10 Februari 2018 lalu — termasuk di NTB saat ini.

Menurutnya, dijadikan NTB sebagai lokasi pertama sosialisasi itu karena NTB masuk pada kawasan sunda kecil bersama Provinsi Bali dan NTT telah mampu menjaga kerukunan kehidupan antar umat beragama selama ini.

“Selain kita menyolisasikan hasil Mubes Pemuka Agama ke NTB, kita juga merencanakan mengeskplorasi kearifan lokal yang ada di berbagai daerah sebagai modal sosial dan budaya untuk pengembangan kerukunan. Misalnya di NTB ada istilah “Semeton” dan Sekolah Perjumpaan. Bagi kami, ini sesuaitu khasanah positif bagi pengembangan kerukunan bangsa kedepannya,” jelas Din.

Ia menjelaskan, pada Mubes Pemuka Agama untuk Kerukunan Bangsa telah tertuang  tujuh bahan pokok kerukunan bangsa. Pertama, pandangan dan sikap umat beragama tentang NKRI berdasarkan Pancasila. Kedua, pandangan dan sikap umat beragama tentang Bhineka Tunggal Ika.

Ketiga, pandangan dan sikap umat beragama tentang pemerintahan yang sah hasil pemilu demokratis berdasarkan konstitusi. Keempat, prinsip-prinsip kerukunan antar umat beragama. Kelima, etika kerukunan intra agama. Keenam, penyiaran agama dan pendirian rumah ibadah. Ketujuh, rekomendasi tentang faktor-faktor non agama yang mengganggu kerukunan antarumat beragama.

“Yang pasti, kerukunan bangsa akan tercipta secara bersama-sama, dari umat, oleh umat dan untuk bangsa. Kita harus meyakini kekuatan dialog, dan kita harus meyakini bahwa jika kita rukun dan bersatu, kita akan maju,” tegas Din Syamsuddin.

Di tempat sama, Gubernur Dr. TGH. Muhamad Zainul Majdi mengatakan tujuan pihaknya menginisiasi adanya Sekolah Perjumpaan tidak lain merawat kebinnkaan.  Semangatnya gagasan untuk merekatkan anak bangsa, memperkuat NKRI dan kebersamaan membangun bangsa.

Apalagi, kata TGB, sekolah perjumpaan diartikan sebagai gerakan yang berarti semua harus terlibat. “Misalnya kemah kebangsaan, semua sekolah membuka diri untuk meramu perjumpaan. Ini adalah untuk menggali titik temu. Sedangkan hal yang berkaitan eksklusivitas yang berkaitan dengan agama itu adalah menjadi ranah masing-masing,” ujar Gubernur dalam sambutannya.

Menurut TGB, Sekolah Perjumpaan pada dasarnya memperkuat sarana sebagai titik temu relasi sosial. “Kita hidup di NTB biasanya berkelompok kelompok. Ada yang berkelompok menurut keyakinan, suku, asal daerah, keturunan dan lain sebagainya. Sehingga, dengan Sekolah Perjumpaan maka kita adalah “Satu Semeton” (Saudara),” katanya.

Demikian juga pergaulan di sekolah-sekolah, bahkan di tiap-tiap kelas, anak-anak sering kali bergaul dengan membuat kelompok-kelompok yang ekslusif. Misalnya, berdasarkan sesama orang kaya, sesama agama, sesama suku, dan perbedaan-perbedaan lainnya.

Gubernur menuturkan pengelompokan tersebut terjadi lantaran adanya perbedaan. Namun, kata TGB, diantara perbedaan itu, sesungguhnya terdapat kesamaan yang menjadi titik temu kemanusiaan.

“Perjumpaan itu sesungguhnya untuk merawat titik temu atau kesamaan. Manusia dalam persepektif kedalaman memiliki nilai-nilai moral kemanusiaan,” tandas Zainul Majdi. RUL.

Leave A Reply