Menu

Mode Gelap

Pendidikan · 5 Jul 2019 13:31 WITA ·

Sesar Selatan Lombok Punya Kekuatan 9 SR, Peneliti Gempa Amerika Imbau Masyarakat Lebih Waspada


					Ahli gempa dan sunamis Profesor Ron Harris (duduk) Perbesar

Ahli gempa dan sunamis Profesor Ron Harris (duduk)

MATARAM, DS – Peneliti sekaligus pakar geologi dari Brigham Young University, Profesor Ron Harris, mengatakan siklus gempa di Indonesia saat ini dalam fase “terbangun dari tidur”. Provinsi NTB masih menyimpan potensi gempa khususnya di Selatan Pulau Lombok dengan kekuatan magnitudo mencapai 9 Skala Richter (SR) dengan disertai tsunami.

“Prediksi saya kekuatannya minimal 9 SR. Karena, memang potensinya berasal dari Palung Jawa. Tapi untuk lokasinya kita enggak tahu spesifiknya dari Lombok atau Jawa bagian timur. Tapi Lombok akan terdampak juga kalau terjadi tsunami,” ujar Ron Harris menjawab wartawan disela-sela mengisi seminar antisipasi gempa bumi yang diselenggarakan UNU NTB di Mataram, Kamis (4/7).

Ia menegaskan, saat ini siklus gempa di Indonesia berpotensi memunculkan banyak gempa, atau “fase bangun”, setelah sedikit sekali terjadi gempa atau “fase tidur”. Sehingga, gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Aceh pada 2004 berpotensi terjadi kembali di selatan Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Hal itu, menurut Harris, didasarkan dari penelitian endapan tsunami yang dilakukan pada 2016 di beberapa wilayah selatan Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Sebab, timnya mendapatkan pola endapan tsunami purba, berupa endapan pasir di dalam tanah yang terbawa saat terjadi gelombang, berupa dua garis endapan pasir.

Pola endapan tersebut memiliki hasil yang sama di lokasi-lokasi penelitian, yakni Pelabuhan Ratu Jawa Barat, Pangandaran Jawa Barat, Pacitan Jawa Timur, Bali, Lombok dan Sumba Nusa Tenggara Barat, Timor dan Waingapu Nusa Tenggara Timur.

Gunanya mengetahui pola endapan pasir tsunami purba tersebut ialah untuk mengetahui terjadinya tsunami dimasa lalu sekaligus memprediksi pengulangan tsunami dimasa datang.

Harris menjelaskan, selama ini masyarakat Indonesia hidup dimasa tanpa aktivitas gempa bumi dan tsunami. Namun, pada waktunya akan ada pada saat “fase bangun” di mana gempa-gempa bermunculan.

Harris yang kerap melakukan penelitian tentang tsunami di Indonesia menerangkan bahwa masa tanpa aktivitas gempa dan tsunami tersebut dikarenakan tumbukan dua lempeng tektonik, yakni Indo-Australia dan Eurasia, sedang saling mengunci.

Ilustrasinya, salah satu lempeng tersebut sedang mendorong lempeng yang lainnya. Sementara lempeng yang terdorong menjadi melengkung secara terus menerus, hingga pada akhirnya lempengan yang melengkung mendorong balik hingga akhirnya terjadi pergeseran lempeng tektonik yang menyebabkan gempa bumi dan tsunami.

Berdasarkan kalkulasi dari penelitian tersebut, pergeseran lempeng tektonik yang akan terjadi cukup berpotensi untuk menimbulkan gempa dengan kekuatan di atas 9 skala Richter (SR).

“Potensi itu cukup membuat gempa berkekuatan 9,1 SR, atau mungkin 9,2, atau bahkan 9,5,” tegas Harris.

Gempa dengan kekuatan sebesar itu diprediksi akan berlangsung selama 20 detik, bisa menimbulkan gelombang maksimal setinggi 20 meter dengan kecepatan 620 kilometer per jam, dan bisa mencapai bibir pantai dalam waktu sekitar 20 menit.

“Gempa di Indonesia itu unik, karena pusat gempanya sangat dekat dengan daratan,” kata Harris.
Waktu tempuh gelombang ke bibir pantai selama 20 menit didapat melihat dari pusat gempa yang pernah terjadi di Pangandaran berjarak 230 kilometer dari pantai.

Harris menjelaskan potensi terjadinya gempa besar tersebut dengan istilah ’20-20-20′ yakni 20 detik durasi gempa, 20 menit lamanya gelombang mencapai pantai yang berarti masyarakat memiliki waktu tersebut untuk evakuasi, dan 20 meter tinggi maksimal gelombang yang artinya penduduk harus mencari tempat evakuasi dengan ketinggian 20 meter.

Oleh karena itu, ia mengingatkan jika gempa besar tersebut bisa terjadi sewaktu-waktu dan tidak bisa diperediksi kapan dan di mana letak pusat gempanya. Namun lokasi-lokasi yang berada dalam wilayah bahaya ialah Pangandaran, Pelabuhan Ratu, Pacitan, Banyuwangi, Madura, Denpasar, Nusa Dua Bali, Lombok, Sumba, Waingapu, dan pesisir selatan Pulau Timor NTT.

“Disitulah, kita imbau pemerintah harus mulai memasang alat atau papan informasi evakuasi tsunami. Ini penting agar masyarakat dengan mudah mengevakuasi diri ketika terjadi gempa besar. Yakni, lokasi evakuasinya pada ketinggian 20 meter,” jelas Harris.

Ia menyatakan, setiap tahunnya lempeng Indo-Australia bergerak 7 sentimeter. Sementara saat ini kumpulan energi 35 meter, artinya Pulau Lombok telah bergeser 35 meter. “Jadi kalau terjadi gempa sudah bisa mengumpulkan energi minimal 9 magnitudo,” ucapnya.

Sementara itu, maksimum kekuatan gempa pada zona tersebut dijelaskan mencapai 9,5 magnitudo. “Kalau posisi Kota Mataram dapat terdampak tsunami dengan radius mencapai maksimal 2 kilometer,” tandas Ron Harris. RUL.

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 2 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Ini Ajakan Gubernur NTB kepada Santri Mambaul Ulum

22 Mei 2022 - 06:35 WITA

Sukses Harus Diimbangi Kerja Keras Tak Kenal Menyerah

20 Mei 2022 - 07:31 WITA

Rekrutment Beasiswa NTB Dilakukan Secara Transparan

17 Mei 2022 - 17:45 WITA

Mimpi Besar Anak NTB, Itu Harapan Gubernur

12 Mei 2022 - 16:30 WITA

Pembangunan Pondok Pesantren Tidak Boleh Berhenti,Ini Alasannya

10 Mei 2022 - 16:13 WITA

Gubernur Hadiri Silaturahim Pendidikan YPH PPD NWDI

7 Mei 2022 - 16:55 WITA

Trending di Pendidikan