Senin , 23 September 2019
Home / Seni Budaya / MEMPERTIMBANGKAN TRADISI ‘BANGRUK’
Pentas Kebangrukan

MEMPERTIMBANGKAN TRADISI ‘BANGRUK’

Hipnoterapi adalah proses yg dilakukan secara sistematis dan terstruktur dengan tujuan menimbulkan trance atau kondisi hipnosis alamiah dalam diri klien dan menggunakannya untuk tujuan perubahan dan modifikasi perilaku yang bersifat terapis.

Trance adalah kondisi gelombang otak kita turun dari gelombang beta ke gelombang alfa maupun theta. Dalam kondisi ini, pikiran kita cenderung lebih rileks dan lebih fokus terhadap suatu hal. Pada kondisi itu, kita lebih mudah menerima suatu sugesti yang diberikan.

Inilah kolaborasi seni pertunjukkan antara tari, musik dan teater ‘Kebangrukan’ 22-02-2019 Gedung Teater Terbuka Taman Budaya NTB garapan sutradara Erni Yulia Sari dan musik oleh Gde Agus Saputra.

Mengangkat kesenian tradisi yang tumbuh dan berkembang di wilayah desa Benyer – Lombok Timur.

Musik Kebangrukan adalah musik terapis masyarakat yang acap kali kesurupan atau kerasukan jin yang dalam bahasa Sasak disebut Bangruk.

Tempo dulu, oleh tokoh seniman dan budayawan juga orang cerdik pandai dibacakanlah nasyid, lawas atau lekakak berasal dari kitab gundul atau kitab kuning dengan iringan alat musik tradisional, seperti : Penting (alat petik serupa kecapi), Piul atau Biola, Gendang, Jidur, Rencek, Suling dan Gong. Yang mengiringi 10 pemain teater yg sekaligus menari.

Dikisahkan seorang perempuan bernama Anjani yang trance, kerasukan atau ke bangrukan. Untuk terapi dimainkanlah musik kebangrukan agar pikiran dan perasaan Anjani mampu di mengerti masyarakat dan lingkungannya.

Oleh karenanya tradisi musik Kebangrukan biasanya dilaksanakan menyongsong Maulid Nabi sekaligus dimaksudkan untuk mengingat ajaran Rasulullah. Arti pentingnya hidup bersahaja. Atau kepasrahan total pada tuntunan kanjeng Nabi

Sebagai seni pertunjukkan tentu, garapan musik Kebangrukan beberapa unsur baik, teater, musik dan tari dimodifikasi sedemikian rupa juga tata panggung untuk kebutuhan artistik tanpa mengurangi esensi dari bentuk dan makna pertunjukkan.

“Tradisi dan sebangsanya adalah batas yang relatif saja. Apabila ia mulai membeku, ia menjadi merugikan pertumbuhan pribadi dan kemanusiaan. Oleh karena itu mesti berontak, dicairkan dan diberi perkembangan baru.” (WS. Rendra-Mempertimbangkan Tradisi).

Tampaknya, musik Kebangrukan tak mau tinggal diam merespon industri pariwisata yang menggeliat di NTB. Tawaran alternatif ini boleh jadi menarik buat pelaku budaya dan pemangku kepentingan industri pariwisata itu sendiri. Bahwa menjadi penting bukan berarti abai pada daya lenting dan daya hidup masyarakat sosial. Sehingga tumpuan kebijakan di sektor itu, bukan saja secara ekonomi memberdayakan masyarakat. Tapi keberdayaan itu terabtrasikan secara sosial budaya. Bukan kebijakan yg ‘kesurupan’ atau ‘bangruk’. Sehingga menimbulkan dampak terstruktur.

Dan tradisi musik kebangrukan seolah mau mengatakan bahwa secara sosial daya hidup juga dinamis. Tapi kearifan dan kebijakan mestinya lebih punya kepedulian pada nilai-nilai hidup masyarakat. Sehingga baik-buruk, indah tidak indah, secara normatif terukur dan mampu menyikapi dampak dari penampakan fisik pengelolaan industri pariwisata di Lombok dan NTB khususnya. Sehingga secara metafisik ada keseimbangan paripurna atas banyaknya pilihan bentuk dan norma-norma sosial yg berkembang. Termasuk hoax dalam pengelolaan medsos. Apakah hoax juga hadir karena kurang responsifnya pemangku kebijakan di sektor pariwisata yang cenderung trance atau kebangrukan? Itu juga soal mempertimbangkan tradisi. Ws irawan

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

Trauma Healing Ala HBK dan Lalu Nasib di Wayang Sasak di KLU

KLU, DS – Gelaran wayang bertajuk Wayang HBK untuk pemilu damai di Lapangan Tanjung, KLU, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: