Selasa , 18 Juni 2019
Home / Seni Budaya / Cerpen Ali BD : Suatu Siang di Selat Madura 

Cerpen Ali BD : Suatu Siang di Selat Madura 

Siang ini baru pertama kali dalam hidupku melihat dari dekat sebuah selat yang dalam cerita babad pernah menjadi pusat perseteruan tiga kekuatan. Kekuatan kompeni, raja Madura dan Dewa Ketut dari Bali.

Siang ini mendung, tapi dalam kapal yang saya tumpangi terasa panas, seakan membawa saya pada masa perang di Selat Madura — entah tahun berapa yang lalu.

Sebenarnya perjalanan ini cukup melelahkan. Tujuh belas jam meringkuk dalam ruangan kecil, diombang ambingkan gelombang musim hujan yang ganas. Mengarungi tiga selat dan dua laut yang berbeda, dibayangi dua gunung tinggi di Indonesia, diejek beberapa pulau kecil, sambil mengucapkan sumpah serapah pada siapapun yang lalu lalang mengusik ketenangan alam dan penduduknya, karena kapal kapal yang lewat sering kali meninggalkan sampah plastik, suara keras, dan sisa bahan bakar yang sangat mengganggu.
Memang sejak semula ada masalah. Seorang wanita muda, berteriak memaki anak kapal. Truk besar yang akan keluar dari perut kapal melalui pintu besi besar menyita waktu puluhan menit. Muatan truk menyundul bagian pintu, sementara penumpang yang turun dan naik terganggu. Janji kapal akan berangkat jam 14.00 tertunda hingga jam 18.00 senja. Penumpang menggerutu, anak kapal diam saja. Saya dan teman setia saya tetap sabar, karena memang saya bertujuan melatih kesabaran.

Baru saja duduk dikursi penumpang, seorang lelaki setengah baya bangun dan menegur.

”Sudah ada duduk di sini, Pak”.

Siapa?

”Rombongan 18 orang”.

Saya ngeloyor ke bagian kiri dek penumpang. Seorang pemuda bangkit dan menjelaskan, ”Ada orang di sini”.

“Siapa?” tanya saya.

”Ada empat orang teman”.

Ada banyak bangku kosong, tetapi semua mengaku telah ada pemiliknya. Lalu saya dan teman setia saya duduk dimana? Saya berusaha sabar, karena saya sedang melatih kesabaran. Anak saya selalu memperhatikan keamanan dan keselamatan saya dalam setiap perjalanan.

”Pak lebih baik naik pesawat terbang, jika pakai kapal laut terlalu lama di jalan, nanti bapak kelelahan”.

”Saya tahu, tapi saya melatih kesabaran,” jawabku singkat.

Anak yang sudah kenal ayahnya tersenyum. Semua anakku sayang padaku seperti aku sayang pada ibu dan bapakku.
Aku sering membawa anakku. Pernah kuajak anakku berkemah. Bahkan ketika anakku berumur delapan tahun, pernah kuajak mendaki gunung Rinjani, walaupun hanya sampai di Danau Segara Anak. Mereka melanjutkan kecintaannya pada alam ketika anakku sudah SMA bahkan sampai di universitas.

Dia sering menceritakan semua gunung yang pernah didaki. Ada beberapa gua di Jawa juga sudah ditelusurinya. Anak saya juga seorang pengelana, karena itulah ia tersenyum ketika saya memutuskan harus naik kapal ini walau 18 jam terombang ambing di laut lepas.

Aku berputar di sekeliling dek penumpang hingga buritan. Tak ada keramah tamahan, tak ada senyum yang kulihat dari setiap individu yang ada sesama penumpang. Beberapa pasangan muda mudi menyisakan senyum dan canda tapi untuk dirinya saja, sementara aku dan teman setiaku seperti pengelana yang tidak memiliki tempat tinggal di masyarakat kapal ini. Masing masing ingin memiliki bagian dari kapal ini, padahal pemiliknya sendiri sedang berada di rumah atau bahkan sedang menghitung uang dari ongkos semua penumpang dan juga dari kapal kapal lain yang dimilikinya yang sedang mengarungi bagian laut yang lain.

Di dekat tangga, berdiri seorang berseragam dengan beberapa tulisan dan simbol di dada. Benak saya yakin dia adalah petugas kapal ini. Anak kapal. Di Malaysia semua petugas dalam kapal dipanggil anak-anak kapal. Saya bertanya kepada anak kapal berseragam, ”Dimana lagi kamar tempat duduk penumpang?”

”Sudah tidak ada lagi”.

Banyak kursi yang dikuasai oleh penumpang, bukankah tugas petugas berseragam untuk menertibkannya?

”Kalau mau menyewa kamar, masih ada sisa.” Dia tidak melayani keluhan penumpang tentang ketidakadilan yang terjadi dalam masyarakat kapal ini, malah menawarkan kamar sewa.

”Berapa?” Maksudku berapa harga sewa kamar. Aku baru tahu ada kamar sewa di kapal barang. Ini bukan kapal pesiar, tetapi kapal penyeberangan untuk orang dan barang.

”Lima ratus ribu”. Petugas berseragam dengan mantap menyebut angka lima ratus ribu, tanpa menyebut rupiahnya. Dalam benak saya, jumlah itu sepadan dengan sewa hotel berbintang tiga di Surabaya atau di Jakarta. Dalam bayangan saya sewa ini cukup mahal, tetapi siapa tahu kamarnya melebihi bintang tiga itu.
Kamar itu berukuran 2,5 x 3 meter. Sebuah dipan kecil, lemari pakaian, tv, kamar mandi sederhana. Ruangan ini lebih baik dari sofa dan kursi yang sudah dikuasi oleh jagoan-jagoan penumpang yang merajalela di dalam kapal ini.

Di pintu kamar tertulis, masinis tiga, sebagai maklumat kamar ini adalah milik masinis, pejabat penting di kapal ini. Ruangan masinis dan anak kapal lainnya ramai disewakan. Penyewanya pastilah orang berduit. Saya sendiri terpaksa menyewa, karena saya diusir penumpang yang sudah mengangkangi tempat duduk penumpang.

”Serakah, korupsi, jahat, tak tahu diuntung!” saya menuduh mereka, hanya dalam pikiran. Tapi tak apa, karena saya sedang menguji kesabaran.

Sambil memandang langit-langit ruangan sempit ini, saya merenung. Dimana masinis itu sekarang? Apakah sedang menjaga mesin kapal? Apakah sedang tidur? Dimana? Mengapa kamar ini disewakan? Tetapi juga saya bertanya pada diri sendiri, mengapa aku peduli tentang kamar ini? Apa urusanku? Saya membayar ongkos kapal, tetapi saya juga menyewa kamar masinis. Terserah. Tetapi mengapa si pejabat kapal harus menyewakan kamarnya? Tidur di sembarang tempat, padahal ia seorang pejabat.

Mungkin ia butuh tambahan pendapatan untuk membiayai anak istri yang ditinggalkan berlayar. Gajinya pasti tidak mencukupi untuk hidup yang layak sebagai seorang pejabat pelayaran yang sangat penting. Jabatan ini menjadi sangat penting karena menyangkut keselamatan ribuan orang pengguna moda pelayaran. Jika gajinya sekadar untuk hidup sederhana, sedang pemilik kapal selalu menambah armadanya dengan membeli kapal baru setiap tahun, maka berarti diatas kapal ini sedang terjadi ketidakadilan.

Tenaga para masinis, muallim, nakhoda dan anak kapal lainnya digaji sangat kecil, sedang pemilik kapal terus menambah kekayaannya.

Bagaimana kalau para pejabat ini mogok di tengah laut? Sambil menengok kiri dan kanan, mencari posisi pelampung, bilamana terjadi hal hal luar biasa. Gumam saya agak melantur dan akhirnya saya terlelap di kamar masinis kapal laut LG yang besar itu.
Jam sebelas siang dihari Sabtu, 16 jam setelah mengarungi dua laut dan tiga selat yang berbahaya, dari jendela kecil tanpak wajah laut yang berbeda. Inilah Selat Madura. Puluhan pulau kecil yang tidak terlihat pada buku atlas, seakan ikut menghantar kapal walaupun mereka tidak senang dengan hiruk pikuk yang merusak ketenangan lingkungannya. Kapal barang, kapal tangker, kapal perang, sampan, kapal tunda, kapal keruk, kapal berlabuh, kapal berlayar menyemut diareal selat legendaris ini. Beberapa mil dihadapan kapal LG yang besar, membentang seperti garis tipis dalam bayang awan hujan yang mulai menutupi langit. Suramadu, bangunan anggun dari kredit Cina untuk dua pulau yang dahulu berseteru dalam perang Trunojoyo.

Selat Madura, dahulu tidak punya nama. Hanya Belanda yang suka mencatat dan memberi nama tempat. Belanda sering terlibat pada tempat yang dicatat dalam buku harian pesohor para serdadu.

Cuaca di Selat Madura sering berubah. Tadi siang panas terik, jam dua belas langit ditutup awan. Tempat ini sungguh dinamis. Menjadi pusat paling menjanjikan. Menjadi pusat pertikaian, perebutan rizki, pengaruh politik, ekonomi, sosial dan masa depan wilayah.

Jembatan Suramadu dijual oleh para penguasa sebagai prestasi politik, sementara itu rakyat awam tak memahami gejolak pertikaian multikompleks, sengit dan kejam yang ada di sekitarnya. Tanah yang dahulu dimiliki para petani garam di Madura, lahan yang dimiliki petani padi dan tambak sepanjang Probolnggo, Pasuruan sepanjang pesisir pantai Selat Madura, kini telah berganti tuan. Orang kaya baru, koruptor, kapitalis telah mengangkangi Selat ini. Ini hukum besi ekonomi, siapa kuat, akan memangsa yang lemah.

Empat ratus tahun yang lalu, tempat di sekitar selat Madura, menggelegak dalam belanga politik, ekonomi, kedigdayaan dan pengaruk satu dengan yang lain. Tentu saja secara fisik dahulu dan sekarang sangat berbeda. Raden Trunajaya putra Demang Malaya di Sampang, kini menjadi kabupaten bagian Timur Madura, sebelah Utara kapal yang sedang melaju menuju Sura Baya, kapal LG yang saya tumpangi.

Truna Jaya adalah keponakan Dipati Cakraningrat di Sampang. Tokoh legendaris dalam babad Tanah Jawi dahulu menyiratkan cerita yang berulang sekarang.

Selat Madura dijaman Taruna Jaya telah menjadi medan perang dunia diabad XVII yang lalu. Raja Mataram yang bermaksud menaklukkan semua negara mandiri yang ada di Jawa dan luar Jawa, ternyata mendapat perlawanan sengit dari putra Selat Madura kala itu. Istana kerajaan Mataram pernah dikuasai oleh tentara Truna Jaya dibantu oleh tentara Kraeng Galesung dari negara Makasar. Putra raja Mataram Adipati Anom pernah berencana melakukan kupdetaat terhadap ayahnya, dengan berpura pura bersekutu dengan Truna Jaya. Tetapi Truna Jaya memiliki agenda tersembunyi untuk membangun kekuata sendiri. Selain dari Makasar Truna Jaya bersekutu dengan tentara dari Buleleng, Bali.
Semua pertikaian diantara raja-raja Nusantara dicermati oleh pihak Kompeni Belanda. Pada akhirnya Belanda yang meraup kemenangan dari persaingan antar bangsa di Selat Madura ini. Persaingan politik dan ekonomi di Selat Madura adalah perebutan pengaruh antara pemerintahan agraria dengan negara maritim pada saat itu. Negara pesisir sepeti Jepara, Pekalongan, Pasuruan, Madura, walaupun pemerintahannya dikuasai Mataram, hubungannya dengan penduduk setempat seperti api dalam sekam, letupan keras, keputusasaan yang berakibat pada menjual prinsip terbuka dengan jelas, ketika Adipati Anom meminta bantuan pada Belanda untuk mengalahkan kerajaan lain termasuk adiknya sendiri Pangeran Puger.

Sekarang di Selat Madura, ada ribuan kapal lalu lalang dengan tujuan yang berbeda. Sementara dahulu ada adipati yang pernah mengusir keponakannya karena takut disaingi dalam kekuasaan demi melihat dukungan rakyat yang begitu kuat pada Truna Jaya.

Sekarang juga ada adipati yang ditangkap karena memungut banyak upeti dari tambang minyak lepas pantai di Selat Madura. Sekarang ada adipati di daerah pesisir Selat Madura diamankan karena menjual pengaruh  jabatannya.

Dahulu tidak ada KPK di Selat Madura, tetapi dahulu ada penilaian dari masyaralat tentang kebaikan dan kedurjanaan.

Tetapi rakyat Selat Madura sekarang, tidak beda dengan dimasa lalu Mereka dahulu dijadikan hulubalang, sentana, tukang panggul perlengkapan perang, sekarang menjadi tukang panggul karung barang di pelabuhan.

Jam 13 waktu Surabaya, kapal merapat dibandar Tanjung Perak. Pak Rosita, si pejabat kapal berseragam, menyodorkan kartu namanya.

”Jika bapak pulang nanti, akan saya sediakan ruangan yang lebih besar”.

”Terima kasih, Mas”. Saya ngeloyor ke luar lalu masuk ke peron. Taksi sewaan telah menyambut kedatangan saya setelah melalui selat Madura yang panas dingin itu.

Selong, 01 Januari 2019

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

MEMPERTIMBANGKAN TRADISI ‘BANGRUK’

Hipnoterapi adalah proses yg dilakukan secara sistematis dan terstruktur dengan tujuan menimbulkan trance atau kondisi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: