Berbagi Berita Merangkai Cerita

Sempat Terjadi Gesekan dengan Aparat, Aksi di Desa Toya Berakhir dengan Audiensi

25

Massa aksi Desa Toya

SELONG, DS – Memulai aksi damai dari perempatan Desa Toya sekitar pukul 08.00 Wita, Selasa (16/06/2020), massa aksi dari Gerakan Pemuda dan Masyarakat Toya (GMPT) gagal menuju kantor Desa Toya, Kecamatan Aikmel. Pasalnya, aparat Kepolisian tidak mengijinkan mereka menuju kantor desa dengan alasan keamanan, dan dikhawatirkan masa aksi akan bertindak anarkis.

Tindakan aparat tersebut sempat menyulut emosi sehingga terjadi adu mulut antara massa aksi dengan aparat yang bertugas.

Juru bicara GMPT, L. Makwil Jayadi menyayangkan sikap pihak Kepolisian tersebut. Ia menilai aparat sudah masuk ke dalam konsep aksi yang menyebabkan tujuan aksi ke kantor desa, urung terpenuhi.

Presiden Mahasiswa UGR itu juga menyesalkan sikap pihak Kepolisian yang menjemput dan “ngotot” mengajak diskusi inisiator aksi, tepat satu hari sebelum hari sebelumnya.

“Hal ini juga menjadi salah satu tanda tanya terhadap kita semua. Ada Apa Ini?” ungkapnya.

Orasi dilanjutkan di perempatan Desa Toya, sambil membagikan selebaran kepada masyarakat. Kemudian massa aksi dialihkan ke Masjid Al-Muttaqin untuk melakukan audiensi dengan kepala desa.

Sekitar pukul 09.00 Wita Kepala Desa Toya, Hanah, tiba di masjid Al-Muttaqin. Dan dilanjutkan dengan audiensi antara perwakilan masa dengan kepala desa.

Burhanudin selaku perwakilan pemuda Desa Toya, Dalam Musyawarah tersebut Burhanudin selaku perwakilan menyampaikan beberapa yang harus dipenuhi selama kepeminpinan Hanah, selaku Kepala Desa.

Dalam penyampaiannya, Burhanuddin mengatakan data penerima Bantuan Sosial (bansos) di Desa Toya belum terbuka. Ia pun meminta Pemdes memajang nama penerima bansos di kantor desa. Karena ditengarai masih banyak data penerima manfaat yang ganda.

Tidak hanya terkait bansos, sejumlah masalah lain juga diungkapkan pada kesempatan tersebut, seperti mempertanyakan peran dan pengelolaan Bumdes Toya, permasalahan kekurangan air, memperjelas status tanah di dua titik yang ada di Dusun Pertemuan dan Aik Lomak yang ditukargulingkan.

“Kami minta penjelasan Pemdes Toya untuk menjelaskan dasar hukum penjualan tanah milik Negara yang di Dusun Pertemuan (Lendang Manto) dan Tanah Penyangga Mata Air yang ada di Aik Lomak,” desaknya.

Menjawab sejumlah tuntutan warganya, Hanah pun mengakui masih banyak warganya yang belum terakomodir dalam hal penerima bantuan tersebut.

“Saya akui 590 Kepala Keluarga (KK) yang ada di Desa Toya yang belum mendapatkan bantuan. Akan tetapi, nama-nama tersebut sudah kita ajukan kecuali ASN,TNI/POLRI. Semoga mereka semua dapat bantuan,” jawabnya.

Dengan jumlah KK sebanyak 2681, 590 diantaranya belum mendapat bansos bagi masyarakat terdampak Covid-19. Sementara ada sekitar 30 orang mendapat bantuan ganda. Namun diharuskan memilih salah satu jenis bantuan, agar dapat dialihkan ke masyarakat yang belum menerima.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penandatanganan pernyataan Kapala Desa, yang bersedia memenuhi tuntutan masyarakat dalam memberlakukan transfaransi pengelolan anggaran desa. Dd

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.