Berbagi Berita Merangkai Cerita

Selama Pandemi, LPA Mencatat 60 Kasus Nikah Dini di Lombok Utara

13

KLU, DS-Selama pandemi corona atau Covid -19 terjadi, tidak sedikit ditemukan anak usia dini harus melepaskan masa sekolahnya karena memutuskan untuk menikah. Tidak terkecuali di Kabupaten Lombok Utara (KLU). Lembaga Perlindungang Anak (LPA) setempat mencatat angka kasus perkawinan yang ditangani telah mencapai 60 kasus, meski sebagian diantaranya berhasil dipisahkan.

“Setidaknya ada 60 kasus nikah dini yang kita tangani dan itu di dominasi oleh siswa setingkat SMP dan SMA,” ujar Ketua LPA Lombok Utara, Bagiarti SH., Rabu (9/9). Dari total kasus yang ditangani, sebanyak 45 persen bisa dipisahkan. Mereka yang tidak berhasil dipisahkan disebabkan faktor x pada anak itu sendiri.

“Ketika sudah ada faktor x, kami tidak bisa berbuat banyak, hanya permohonan dispensasi saja,” ungkapnya.

Menurutnya, kasus perkawinan yang terjadi pada siswa itu merata di semua kecamatan. Namun yang paling banyak ditemukan itu di Kecamatan Bayan dan Kayangan. Diperkirakan masih banyak kasus selain yang ditangani LPA, hanya saja belum dideteksi karena pernikahan anak biasanya dilakukan sembunyi-sembunyi.

“Di Kecamayan Bayan kita temukan sebanyak 25 kasus, Kayangan 30 kasus dan sisanya menyebar di kecamatan Gondang, Tanjung dan Pemenang,” sebutnya.”Ini saya rasa belum terditeksi semua, ada informasi disalah satu sekolah itu sekitar 40 pasang siswa yang melakukan pernikahan. Ini yang sedang kita telusuri, Kalau ini terlapor keseluruhannya saya rasa lebih dari seratus kasus,” sambungnya.

Melihat banyaknya angka kasus perkawinan dini sekarang ini,  pihaknya berharap kepada pemerintah untuk mencari solusi terbaik dengan menguatkan regulasi-regulasi yang harus segera dibuat sebagai upaya pencegahan perkawinan usia dini.

“Kami juga mengimbau supaya lembaga pendidikan ini segera dibuka kembali. Karena kami berfikir itu semua disebabkan libur yang terlalu lama. Hal ini juga merupakan faktor penyebab melonjaknya angka pernikahan diusia sekolah saat ini,” paparnya.

Menanggapi itu, Bupati Lombok Utara, Dr. TGH. Najmul Akhyar SH.,MH., mengatakan, pada acara Apkasi di jakarta belum lama ini, pihaknya juga sudah menyampaikan persoalan itu dan meminta langsung kepada Menteri pendidikan untuk segera mengaktifkan proses belajar-mengajar di sekolah, dengan memperhatikan protokol Covid-19.

 “Kami selalu sampaikan itu di Pusat,” tegasnya.

Menurutnya, hal itu bisa dilakukan misalnya dengan menerapkan metode sesuai standar Covid-19. Bisa dengan dua metode belajar, entah itu secara absensi, misalkan absen ganjil itu masuk pagi dan absen genap siang, atau dibagi perkelas, kelas 1,2 dan 3 masuk pagi dan 4,5,6 masuk siang.

“Metode itu cara kita mengurangi interaksi anak-anak di sekolah,” katanya.

Selaku kepala daerah,  Bupati sangat berharap kepada Menteri Pendidikan supaya segera berfikir. Karena salah satu cara untuk mencegah persoalan-persoalan baru saat ini adalah siswakembali bersekolah dengan memperhatikan protokol covid.

“Bagaimana caranya tentu pak menteri yang fikirkan. Entah dengan cara menambah fasilitas anak-anak kita dengan memberikan masker, mengatur jarak duduk di runagan ya itu pak menteri yang fikirkan,” ujarnya.

Bupati sekaligus Sekjen APKASI itu mengaku sudah menyuarakannya juga bersama asosiasi. Dan, saat ini posisinya sedang menunggu regulasi dari Pusat. “Sepanjang itu pak Menteri Pendidikan yang perintahkan untuk masuk kembali, kenapa tidak?” katanya.

Sementara ini belajar dilakukan melalu daring. Selain itu guru yang berkeliling ke murid-muridnya. Namun, hal itu diniai bupati tidak efektif.man

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.