Berbagi Berita Merangkai Cerita

Sekolah di Lombok Timur Dibuka 13 Juli, Siswa Boleh Tetap Belajar dari Rumah

557

SELONG, DS – Kebijakan pembukaan sekolah yang direncanakan Pemkab Lombok Timur pada tanggal 13 Juli mendatang, tidak berarti siswa diwajibkan masuk belajar di sekolah dengan tatap muka. Pembukaan sekolah, direncanakan Pemkab Lotim mengikuti kalender pendidikan yang memulai tahun ajaran baru 2020/2021.

Keputusan pemberlakuan belajar dengan tatap muka langsung di sekolah ini, membuat para wali murid resah. Bagaimana tidak, anak-anak yang rentan penularan ini, akan kembali berkumpul dengan rekan-rekannya di tengah masih meningkatnya pasien positif Covid-19 di Lombok Timur.

Dikatakan oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lombok Timur, H. Zainuddin, bahwa pada tanggal 13 Juli tersebut, sekolah tidak serta merta dibuka untuk aktifitas belajar mengajar. Hal ini berdasarkan rekomendasi dari Bupati Lombok Timur selaku ketua Gugus Tugas.

“Kemarin, ketua tim satgas Covid sudah mengijinkan kita kembali belajar di sekolah. Tinggal sekarang ini apakah kita diijinkan oleh wali murid atau belum,” tuturnya.

Seperti yang termaktub dalam SKB empat Menteri, rekomendasi dari tim gugus tugas, serta ijin dari orang tua siswa sebagai syarat memberlakukan pembelajaran tatap muka di sekolah.

Orang tua siswa pun boleh menolak mengijinkan anaknya untuk bersekolah. Tidak ada paksaan dalam hal ini. Orang tua yang tidak mengijinkan anaknya masuk sekolah, akan didata, untuk diterapkan pola pembelajaran dirumah bagi siswa tersebut. Baik secara daring, maupun secara kunjungan seperti sebelum-sebelumnya.

“Boleh. Itulah yang akan didata mulai tanggal 1 sampai tanggal 13 besok. Berapa yang menghendaki belajar dirumah, dan berapa yang belajar di sekolah,” jawab Zainuddin saat ditanyakan bolehkah wali murid tidak menandatangani surat pernyataan persetujan masuk sekolah.

Sementara terkait redaksi surat, Zainuddin mengatakan itu merupakan kewenangan pihak sekolah dan Komite. “Yang penting ada fakta otentik, bahwa wali murid setuju, atau tidak setuju,” tandasnya.

Pembelajaran di sekolah maupun pembelajaran di rumah, tetap harus dijalankan oleh pihak sekolah. Karena pembiayaan pada dua metode yang berbeda tersebut tetap bersumber dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Bahkan, bagi guru yang menjalankan sistem pembelajaran di rumah, dapat disediakan berbagai kebutuhan penunjang pembelajaran melalui dana BOS yang ada. Dan ditekankan oleh Zainuddin, sekolah tidak boleh menarik pungutan dari wali murid untuk pembelajaran tersebut.

“Fokus dari dana BOS itu ada tiga. Pertama, penanggulangan Covid. Kedua, untuk kegiatan pembelajaran. Baik untuk pembelajaran di sekolah, maupun di rumah. Ketiga, hal-hal yang urgent. Misalnya terkait penghonoran,” terangnya.

Dijelaskannya lebih lanjut, belajar di sekolah juga harus memperhatikan penerapan protokol pencegahan penularan Covid-19. Dengan waktu belajar maksimal selama 3 jam. Dd

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.