A place where you need to follow for what happening in world cup

Sekjen PBNU Usulkan KPU Buat Debat Kedua di Tempat Terbuka  

0 13

LOTENG, DS – Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBNU Helmy Faishal Zaini menilai kedua pasangan capres dan cawapres yang mengikuti pelaksanaan debat Pilpres perdana dinilai masih grogi alias demam panggung. Oleh karena itu, Helmy mengusulkan debat selanjutnya bisa dilaksanakan di tempat terbuka berkonsep outdor, sehingga bisa berlangsung lebih santai.

“Penilaian saya kedua capres dan cawapres saat debat pertama masih grogi. Bisa jadi, karena memang debat pertama. Jadi, kalau saya boleh usul, alangkah baiknya KPU melakuan debat berikutnya lebih rileks. Misalnya, dengan konsep outdoor, seperti di tengah sawah sambil minum kopi,” ujar Helmy menjawab wartawan ketika dimintai pendapatnya terkait pelaksanaan debat pertama usai menghadiri Konferwil NU NTB di Ponpes Qomarul Huda, Bagu, Kabupaten Lombok Tengah, Sabtu (19/1) petang.

Menurut dia, usulannya agar debat kedua dilakukan outdoor tidak lain bertujuan mengenalkan keindahan alam Indonesia. Sebab, pelaksanaan debat Pilpres kali ini, dipantau langsung oleh dunia internasional. Tidak seperti pada debat pertama yang terkesan sangat monoton.

Helmy menghendaki, debat selanjutnya dilakukan sambil minum kopi ditengah ditengah sawah. Teknisnya, masyarakat berada di bawah, sementara calon presiden dan calon wapresnya duduk di berugak.

Selain itu, lanjut dia, sangat dimungkinkan, bilamana pelaksanaan debat berikutnya bisa digelar di luar Jakarta. “Kalau dengan konsep rileks ditengah sawah, itu bisa dilakukan di luar Jakarta. Saya pikir enggak masalah, karena esensi debat dengan konsep di tempat terbuka juga bisa memudahkan masyarakat melihat langsung sosok calon pemimpinnya,”jelas Helmy.

Terkait sosok capres mana yang dirasa unggul pada debat pertama itu. Helmy menilai pasangan capres 01 unggul dari pasangan capres 02.  “Kalau saya lihat pak Jokowi lebih unggul karena lebih berpengalaman di pemerintahan. Pernah jadi walikota, jadi gubernur, dan presiden. Penguasaan lapangan jauh lebih matang,” ungkapnya.

Helmy menegaskan, membawa tulisan saat debat adalah hal yang biasa. Terutama agar tak salah menyampaikan data.”Kalau capres ‘nyontek’ itu sah-sah saja, boleh. ‘Nyontek’ itu hanya menyampaikan data supaya tidak salah. Manusia ada keterbatasan, misalnya terkait angka kemiskinan, ya syukur-syukur kalau hafal,” ujarnya.

“Begitu juga dengan capres Prabowo jika ingin melihat data dari tulisan, silakan saja,” imbuhnya.

Selain itu, lanjut Helmy, dalam penguasaan materi Jokowi lagi-lagi lebih unggul dari Prabowo. Hal ini bisa dilihat dari materi yang disampaikan oleh Jokowi. “Orang bisa lihat siapa yang unggul. Cukup dengan bahasa isyarat saja orang sudah paham,” tandasnya. RUL.

Leave A Reply

Lewat ke baris perkakas