BSK Samawa

Sekira 60 Persen Orang Indonesia Terpapar Hoax

FOTO. Pemeriksa Fakta Senior Mafindo Dedy Helsyanto (kiri) didampingi Kabiro Antara NTB Riza Fahriza saat menjadi narasumber pada diskusi “Peran Media di Tengah informasi Hoaks di Masyarakat” yang diselenggarakan Antara NTB.rul

MATARAM, DS – Untuk menangkal informasi palsu (hoaks) yang terus beredar pascaPilpres 2019 hingga tahun 2021, Kantor Biro Antara NTB menggelar diskusi bersama puluhan jurnalis dari berbagai media di Mataram di Hotel Santika, Kota Mataram, Selasa (28/12).

Diskusi santai ini bertajuk “Peran Media di Tengah informasi Hoaks di Masyarakat”, hadir sebagai narasumber Riza Fahriza (Kabiro Antara NTB) dan Dedy Helsyanto (Pemeriksa Fakta Senior Masyarakat Anti fitnah Indonesia (Mafindo).

Riza Fahriza, mengatakan sebagai kantor berita milik negara, pihaknya mencoba berperan secara aktif dalam penanggulangan hoaks tersebut. Sebab, pascaPilpres hingga kini, masyarakat sudah mulai terlihat terbelah.

Oleh karena itu, Antara mulai membuat program dan kanal berita yang bersifat menangkal hoaks tersebut.

“Ini adalah upaya kita membuat berita yang membuat klarifikasi untuk meluruskan suatu kabar yang beredar yang selama ini berseliweran di media sosial. Tapi tidak jelas sumbernya,” kata Reza.

Menurut dia, posisi pihaknya dengan pemberitaan yang sesuai fakta tersebut tidak lain untuk mengembalikan posisi nitizen untuk benar-benar bisa lebih cerdas dan tidak gampang tersulut terkait adanya pemberitaan hoaks tersebut.

“Memang itu butuh proses, ndak bisa langsung. Maka, kita coba pelan-pelan memperbaiki posisi netizen lebih kritis namun tetap cerdas dengan berita yang positif sesuai dengan fakta,” tegas Reza.

“Tugas memperbaiki berita hoaks ini adalah tugas kita bersama-sama guna menjaga NTB yang akan menjadi tuan rumah event dunia tahun depan. Salah satunya ajang MotoGP di Sirkuit Mandalika tahun 2022 mendatang,” sambung dia.

Sementara itu, Pemeriksa Fakta Senior Mafindo Dedy Helsyanto, mengaku, jika pembelahan masyarakat di Indonesia sudah terjadi sejak Pilpres tahun 2019 lalu. Hal ini tidak lain dipicu informasi hoaks terus bermunculan, utamanya di dunia maya atau sosial media.

Untuk itu warga diminta memilah informasi tersebut sebelum menyebarkannya ke publik.

“Sebab informasi hoaks sangat merugikan semua warga. Karena dengan informasi palsu bisa membuat orang menjadi benci, marah dan menimbulkan konflik sosial. Untuk itu kita harus pintar pintar memilah informasi tersebut sebelum menyebarkannya,” ujar Dedy.

Ia mengaku, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai angka sekitar 70 persen. Di mana, sesuai KIC pada tahun 2020 lalu, ada sekitar 60 persen orang Indonesia terpapar hoaks.

Menurut Dedy, tingginya warga terpapar hoaks tersebut lantaran, masih rendahnya literasi mereka terhadap data. Serta, enggan melakukan kros chek terlebih dahulu.

“Umumnya, masyarakat yang mengkonsumsi di media sosial itu, bukan berdasarkan fakta. Padahal, hoaks itu bukan karya jurnalistik. Inilah tantangan kita bersama untuk memerangi hoaks tersebut,” kata dia.

Dedy mendaku, untuk menangkal hoaks tersebut. Tentunya, diperlukan kolaborasi antar semua pihak. Mengingat, pihaknya juga memiliki keterbatasan sumber daya manusia (SDM) melakukan hal tersebut.

“Kami punya sebanyak 17 orang jumlah pemeriksa dan relawan sebanyak 1000 orang yang tersebar di 25 kabupaten/kota di Indonesia. Jumlah ini jelas tidak sebanding dengan pelaku hoaks yang malah tiap jam berseliweran di kanal media sosial selama ini,” ungkapnya.

Ia berharap program lawan hoaks yang sudah ada di berbagai daerah di Indonesia. Di antaranya, Provinsi Jawa Barat (Jabar) dengan pasukan sapu bersih hoaks. Serta, Pemprov DKi Jakarta dengan Jakarta Cyber Hoaks, dapat ditiru oleh Pemprov NTB.

“Peningkatan literasi masyarakat harus terus di masiv-kan. Dan kita ingin Pemprov NTB bersama kawan-kawan jurnalis NTB menginisiasi gerakan melawan hoaks tersebut. Ini agar pembangunan di NTB dapat berjalan baik. Utamanya, menyongsong gelaran MotoGP Mandalika tahun 2022 mendatang,” tandas Dedy Helsyanto. RUL.

Facebook Comments Box

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.