Berbagi Berita Merangkai Cerita

Sekda, Perilaku Hidup Kunci Mencegah Bencana Alam

0 5

Tanjung, DS – Sekretaris Daerah Kabupaten Lombok Utata (KLU) Drs. H. Suardi, MH memimpin apel siaga bencana alam tahun 2020 yang dikomandani Lettu Inf. Zainul Aidi. Apel siaga diikuti oleh unsur TNI, Polri, BPBD, Satpol PP dan Damkar, para kepala OPD, Tagana, RAPI serta stakeholder terkait digelar di pelataran kantor Bupati Lombok Utara, Jumat (10/1/2020). Kegiatan apel siaga ini diawali dengan pemeriksaan barisan oleh Sekda, Pabung Kodim 1606 Mayor Raden Sugondo, dan Kapolres Lombok Utara AKBP Herman Suriyono, SIK, MH.

Dalam amanatnya Sekda H. Suardi menyampaikan bahwa pelaksanaan apel siaga itu dinilai penting diadakan secara bersama-sama baik oleh unsur TNI/Polri, Pemkab Lombok Utara serta instansi terkait guna mengantisipasi segala bentuk bencana alam yang mungkin akan terjadi. Kehadiran TNI, Polri, Pemda KLU serta stakeholder terkait secara langsung bisa mewujudkan stabilitas yang mantap dan kondusif di bumi Tioq Tata Tunaq.

Menurut Suardi, Undang-Undang nomor 24 tahun 2007 adalah perangkat hukum pertama yang merubah paradigma penanggulangan bencana dari tindakan responsif ke preventif (pengelolalaan risiko bencana). Perubahan paradigma itu menghendaki penanggulangan bencana sebagai proses yang dinamis, berlanjut dan terpadu untuk meningkatkan kualitas langkah-langkah yang berhubungan dengan observasi dan analisis kejadian bencana. Di samping itu, pencegahan, penjinakan, kesiapsiagaan, penanganan darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi yang diakibatkan amukan tragedi kebencanaan.

Ditegaskan sekda, kondisi geografis wilayah KLU yang dikategorikan rentan bencana menuntut kesiapsiagaan semua stakeholder dalam penanganannya. Dalam konsep penanggulangan bencana, pelibatan seluruh lapisan masyarakat dan stakeholders lintas sektoral menjadi elemen yang tidak kalah penting. Sebab selain pemerintah, masyarakat pun juga diharapkan dapat turut berperan aktif dalam proses penanggulangan bencana.

Dalam fungsi melakukan pencegahan, pihak polres dan jajarannya ke bawah sejatinya mesti melaksanakan operasi bina karuna secara serentak dengan sasaran untuk mencegah kemungkinan terjadinya bencana hidrometerologi. Upaya pencegahan ini mesti dilakukan sejak dini dengan sosialisasi kepada masyarakat luas menyangkut penyebab, tanda-tanda maupun bahaya bencana hidrometerologi baik banjir, tanah longsor ataupun angin puting beliung dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan pemikiran itulah, lanjut sekda, pemerintah daerah Lombok Utara membentuk tim satuan tugas cepat bertindak (Satgas Patin) sebagai wadah bersama bagi semua pemangku daerah menyosialisasikan kepada masyarakat terkait efek buruk hidrometerologi.

Pada kesempatan apel kali ini, H. Suardi juga mengingatkan pihak PLN dan PUPR serta Dinas Kesehatan agar ke depan menghadirkan personilnya agar dalam kegiatan yang sama atau kegiatan apel-apel lainnya.

“Dari unsur PLN pada kesempatan ini tidak hadir padahal ini sangat penting ketika terjadi bencana dan lampu mati tentu akan menyulitkan kita. Karenanya untuk kebersamaan dalam percepatan mitigasi seyogiyanya harus hadir sembari mengingat BPBD,” tandasnya.

“Begitu pun petugas dari PUPR dan Dikes harus disiapkan karena kita tergabung dalam satuan tugas supaya jelas apa yang akan dilakukan bersama dan benar-benar kompak dalam melaksanakan tugas demi mengelimir korban-korban terdampak,” beber H. Suardi.

Dalam apel gelar pasukan tersebut, sekda mengajak semua pihak untuk memegang salah satu prinsip fenomenal dalam menghadapi bencana “mencegah lebih baik daripada meratapi.

“Mari kita cegah bencana banjir dan tanah longsor secara bersama-sama dengan memperbaiki tata kehidupan,” ajak sekda.

Pengelolaan perilaku hidup, urai Suardi, menjadi kunci utama mengantisipasi timbulnya kejadian-kejadian duka berupa bencana alam di seantero wilayah bumi Tioq Tata Tunaq.

Ia berpesan penting bagi setiap individu untuk berkomitmen bahwa bencana hidrometerologi harus diantisipasi dan dicegah dimulai dari diri sendiri agar bencana yang ditimbulkannya tidak berdampak pada aspek-aspek kehidupan masyarakat luas.

“Antisipasi bencana hidrometerologi demi kesehatan masyarakat, aktifitas belajar di sekolah-sekolah, aktivitas perkantoran dan pelayanan masyarakat, jadwal penerbangan, aktivitas perekonomian, kelestarian lingkungan hidup, serta aspek kehidupan lainnya,” tutup sekda. (api/humaspro)

Leave A Reply