Berbagi Berita Merangkai Cerita

Sekda NTB Surati Bupati dan Wali Kota, Ini Harapannya

12

FOTO. Sekda HL. Gita Ariadi. (FOTO. RUL/DS).

MATARAM, DS – Pemprov NTB meminta seluruh pengurus masjid di wilayah itu untuk mematuhi protokol kesehatan selama bulan suci Ramadhan 1422 hijriah.

“Kita sudah surati para bupati dan wali kota untuk mengimbau seluruh masjid yang ada menerapkan protokol kesehatan, tetap gunakan masker, menyediakan handstanizer, tempat cuci tangan serta mengatur jarak,” kata Sekretaris Daerah (Sekda) NTB, HL Gita Ariadi pada wartawan, Kamis (25/3).

Gita mengakui, saat ini kesadaran masyarakat menaati protokol kesehatan Covid-19 sudah sangat tinggi dibanding awal-awal kemunculan Covid-19 satu tahun lalu. Termasuk, ketika masyarakat melakukan aktivitas keagamaan di lingkungan masjid.

Meski demikian, Gita mengingatkan walaupun masyarakat sudah menyadari pentingnya penerapan prokes, namun pihaknya berharap penerapan tersebut tidak boleh kendor, terlebih selama pelaksanaan bulan ramadhan. Karena biasanya intensitas keagamaan selama bulan puasa tinggi dari hari biasanya.

“Makanya itu, bulan puasa nanti, kita jadikan masjid sebagai tempat kebiasaan baru sehingga rantai Covid–19 ini bisa terputus,” ujarnya.

Sebelumnya, Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI), H Muhammad Jusuf Kalla mengatakan umat Islam di seluruh Indonesia boleh melaksanakan shalat terawih di masjid selama bulan Ramadhan 1422 hijriah dengan tetap mentaati protokol kesehatan Covid-19 secara ketat.

“Kita persilahkan masjid di semua daerah dibuka tapi tetap dengan menjaga jarak,” ujarnya.

Mantan Wakil Presiden RI itu mengakui, pelaksanaan ibadah ramadhan kali ini tetap dilakukan umat Islam dalam situasi pandemi Covid-19. Hanya saja, situasinya agak berbeda.

Yakni, jika sebelumnya umat Islam dianjurkan beribadah di rumah saja. Namun tahun ini, pelaksanaanya bisa dilakukan di masjid.

“Tapi ketentuannya, harus menggunakan masker. Ini bedanya dengan situasi sebelumnya. Karena, mall-mall juga sudah dibuka, masak masjid juga enggak dibuka,” tegas JK.

Dia pun mengingatkan kembali soal protokol kesehatan ekstra ketat, yang harus diterapkan. Di antaranya, menjaga jarak minimal 1 meter antar jemaah, memakai masker, membawa alas salat masing-masing dan masjid wajib menyediakan fasilitas cuci tangan.

Untuk itu, JK meminta para pengurus masjid untuk bertindak tegas apabila ada jamaah yang tidak mematuhi protokol kesehatan, seperti tidak memakai masker pengurus masjid berhak melarang orang tersebut untuk mengikuti sholat berjamaah hingga akhirnya mau menggunakan masker.

“Pakai masker kalau ada jemaah tak pakai masker suruh dulu pakai masker baru boleh masuk kemudian cuci tangan di setiap pintu ada disinfektan, atau sabun atau tempat wudhu meski ada sabun,” jelas JK.

Selain itu, menurut JK, di setiap pintu masuk bisa ditaruh pengurus masjid untuk mengawasi.

“Jadi di semua pintu-pintu ada pengurus jaga. Ukur suhu,” ucapnya.

JK mengaskan, bahwa protokol kesehatan sebenarnya tak terlalu rumit untuk diterapkan dan dilaksanakan.

“Protokol kesehatan sederhana. Tidak ada yang rumit-rumit amat,” ucapnya.

Selain itu, JK juga menganjurkan, agar pelaksanaan ibadah ramadhan dapat berjalan aman dan lancar. Maka, para pengurus masjid harus mulai melakukan pembersihan seluruh areal masjid dengan disinfektan.

“Kan sudah jelas, bahwa tempat-tempat umum dan mall-mall itu dapat dibuka dengan syarat laksanakan protokol kesehatan yang ketat. Nah, kalau masjid baiknya jika tidak bisa dengan semprotan, maka perlu dengan pembersih lantai (dipel),” tandasnya. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.