Berbagi Berita Merangkai Cerita

Sekda NTB Sebut Disuntik Vaksin Itu Lebih Enak

24

FOTO. Sekda NTB HL. Gita Ariadi saat disuntik vaksin Covid-19 menyusul Gubernur dan Forkopimda NTB. (FOTO. RUL)

MATARAM, DS – Vaksinasi Covid-19 di NTB sudah mulai berlangsung sejak Kamis (14/1) lalu. Sekda NTB HL. Gita Ariadi yang masuk pada sekitar 23 unsur tokoh agama dan masyarakat yang telah discreaning guna menemani Gubernur Zulkieflimansyah dan Forkopimda untuk menerima suntikan vaksin Covid-19 pertama di NTB melakukan vaksin susulan.

Vaksin susulan berlangsung di gedung Graha Bhakti Praja, komplek kantor Gubernur setempat pada Kamis Sore (14/1). Gita kemudian membagikan pengalamannya saat disuntik vaksin CoronaVac buatan Sinovac Biotech itu.

“Lebih sakit digigit semut. Kalau kita diambil sampel darah itu lebih sakit. Jadi biasa aja, malah agak adem,” ujar Gita pada wartawan melalui pesan Whatsappnya, Jumat (15/1) usai menjalani vaksinasi itu.

Dia mengaku belum merasakan efek apa-apa setelah disuntik vaksin. Bahkan, Gita dalam postingannya di akun facebooknya mengajak masyarakat NTB agar tidak takut untuk divaksin. “Alhamdulillah, vaksinisasi ini enggak sakit. Jadi, ada kawan yang mengatakan takut diposting karena alasannya ada penyakit bawaanya. Padahal, itu dia takut. Nah saya buktikan jika divaksin memang enggak sakit kok,” jelas Sekda Gita.

Hanya saja, ada sejumlah kelompok orang yang tidak boleh divaksin Covid-19. Salah satunya adalah kelompok usia di bawah 18 tahun. Sesuai anjuran pemerintah, orang yang mendapat vaksin Covid-19 ialah mereka yang termasuk kelompok usia 18-59 tahun, khususnya untuk vaksin buatan Sinovac.

“Pada vaksin yang saat ini sedang diuji, tidak boleh untuk anak-anak karena belum ada penelitian pada anak-anak,” ujar Kadis Kesehatan NTB dr. Nurhandini Eka Dewi menjawab wartawan dikonformasi terpisah, kemarin.

Menurut Dokter Eka, sebelum divaksin, penerima harus melakukan screening kesehatan terlebih dahulu dan terbebas dari beberapa kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan untuk divaksin.

Beberapa kondisi masyarakat yang tidak bisa diberikan vaksin covid-19, diantaranya pernah terkonfirmasi menderita Covid-19, ibu hamil dan menyusui, menjalani terapi jangka panjang terhadap penyakit kelainan darah, penderita penyakit jantung, penderita penyakit autoimun, penderita penyakit saluran pencerna kronis, penderita penyakit hipertiroid, penderita penyakit kanker, penderita diabetes melitus, penderita hiv dan penderita penyakit turberkulosis.

Selain itu, lanjut dia, pelaksanaan vaksinasi ini akan berlangsung hingga Maret tahun 2022.

“Untuk penerima dosis yang divaksin perdana adalah sebesar 0,5 mili liter. Jadi, jika dianologikan itu sama kayak bayi-kecil. Dimana, panduannya sudah lengkap, termasuk penderita yang tidak boleh diberikan vaksin juga sudah ada lengkap,” jelas Dokter Eka. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.