Berbagi Berita Merangkai Cerita

Sekda Lotim Terima Tim Penilai Kinerja Aksi Konvergensi Stunting

17

Selong, DS-Sekretaris Daerah H. M. Juaini Taofik menerima kunjungan tim Penilai Kinerja Aksi Konvergensi Stunting Tahun 2021 pada, Senin (19/7) di Ruang Rapat Bappeda, Kantor Bupati Lombok Timur.

Ketua Tim Penilaian, Hualid, menyampaikan tahun 2021 terdapat penilaian tambahan, seperti kabupaten terinovatif, terfavorit, dan stand display terbaik. Mengingat prestasi Lombok Timur tahun sebelumnya, sebagai peringkat ke-2, dan prestasi lainnya yaitu sebagai Kabupaten Ter-replikatif, Hualid berharap Lombok Timur dapat mempertahankan posisi tersebut.

Sementara itu Sekda Juaini Taopik menyampaikan bahwa tahun 2021 konvergensi tidak hanya berada di level pemerintah kabupaten, tapi sampai ke level desa. Adanya perbup yang mengatur tentang pengelolaan APBDes dimana 20% APBDes tersebut untuk penanganan stunting.

Diakuinya stunting merupakan persoalan semua pihak. Diterangkannya ada 30 % faktor critical kesehatan dan 70 % faktor sensitive. Salah satu penyebab stunting adalah banyaknya pernikahan dini dan KDRT. Menurut Juaini, peran keluarga harus diutamakan.

Sekda Juaini juga memaparkan progres penanganan stunting di Lombok Timur semakin membaik. Tahun 2021 hingga 15 Juli dari 117.442 jumlah balita, hanya ditemukan 22.527 atau setara dengan 19,62%.

Selain itu, Juaini Taofik juga melaporkan bahwa kabupaten Lombok Timur ikut berkiprah dalam program Canting Mas dan dikolboraaikan dengan gerakan Go Green. Kondisi ini mengingat stunting juga berkaitan dengan kesehatan lingkungan. Program tersebut dilaksanakan pada hari jumat yang melibatkan tim penggerak PKK yang berasal dari kabupaten, kecamatan dan desa. Aksi tersebut melakukan kegiatan kebersihan lingkungan untuk desa lokus dan desa fokus.

Sekda berharap, jika tetap istiqamah setiap tahun maka angka stunting di kabupaten Lombok Timur akan menyusut. Beliau menghimbau agar dinas kesehatan tetap memantau untuk 1000 hari pertama kehidupan. Selain itu, tingkat pelaksanaan Perdes penundaan usia pernikahan dini menjadi titik awal bagaimana 1000 hari pertama pernikahan tersebut dipersiapkan.

Hadir dalam acara tersebut Kadis Kesehatan, Kadis DP3AKB, Bappeda, dan beberapa pimpinan OPD terkait lainnya.hm

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.