Berbagi Berita Merangkai Cerita

Sebut Corona Flu Biasa, Dokter Jack Minta Maaf

80

MATARAM, DS – Direktur RSUD Kota Mataram, dr Lalu Herman Mahaputra secara resmi meminta maaf telah menyebut Corona seperti flu biasa.

Dalam keterangan resmi Pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Mataram, Ketua IDI Cabang Mataram, dr Rohadi mengatakan atas beredarnya video dr Lalu Herman Mahaputra pada channel YouTube yang menyebut Corona seperti flu biasa dan tidak ada yang meninggal karena Corona melainkan karena penyakit bawaan, itu dinilai khilaf dan keliru.

“Atas beredarnya Video yang viral dari dr. L. Herman Mahaputra M.Kes., MH pada channel Youtube ‘Jalan Tengah’ secara pribadi beliau minta maaf kepada teman sejawat dan tenaga kesehatan di seluruh Indonesia, dan mengakui khilaf dalam pernyataan atas konten video tersebut,” ujarnya dalam keterangan pers yang dikutip, Selasa (9/6).

Dr Jack sapaan akrab dr Lalu Herman Mahaputra mengatakan video tersebut dibuat untuk mengurangi kecemasan masyarakat terhadap pandemi Covid-19. Mengingat saat ini masyarakat NTB sangat khawatir terhadap virus Corona, sehingga untuk mengurangi kecemasan tersebut dr Jack mengatakan Corona tidak berbahaya, namun masyarakat wajib tetap mematuhi protokol pencegahan Coronavirus Covid-19.

“Video tersebut dibuat atas dasar untuk mengurangi kecemasan masyarakat yang ada di NTB, dalam penyampaiannya banyak teman sejawat yang tidak sependapat. Perbaikan yang perlu dilakukan adalah memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa Covid-19 ini adalah penyakit yang berbahaya karena dapat menularkan secara cepat antara manusia dan manusia serta tetap mengikuti protokol Covid-19 yang dianjurkan oleh pemerintah,” jelasnya.

Puncak Agustus
Dalam keterangan pers tersebut juga dijelaskan prediksi Fakultas Kedokteran Unram dan Tim Epidemiologi bahwa puncak Covid-19 di NTB pada bulan Agustus 2020 dengan jumlah kasus 5.000.

“Puncak kasus diperkirakan maju ke bulan Juli dengan jumlah kasus 2.800. Hal yang perlu dilakukan adalah melakukan pembatasan dengan mematuhi protokol yang ditetapkan oleh pemerintah untuk menurunkan kasus Covid-19,” ujarnya.

Dijelaskan, kasus di NTB 80 persen pasien gejala ringan atau OTG, 15 persen sedang-berat, dan 5 persen berbahaya yang membutuhkan alat bantu napas.

“Pasien yang dinyatakan positif Covid-19 dan memiliki komorbit terhadap menimbulkan reaksi yang lebih berbahaya,” ujar dr Rohadi.

IDI Cabang Mataram juga mengatakan Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikologi (DKJPS) melalui terapi bahagia bukan merupakan terapi utama namun merupakan terapi tambahan, sehingga fisik pasien merupakan target utama penyembuhan.

“Pandemi Covid-19 masih baru mulai, dampaknya bukan hanya di sisi kesehatan melainkan semua aspek. Bijaklah kita sebelum berkomunikasi karena banyak aspek yang kita pertimbangkan,” ujarnya.

Terakhir, dijelaskan pembahasan new normal belum bisa diterapkan di Mataram. Harus disiapkan beberapa tahapan sebelum benar-benar diterapkan. “Masukan kesehatan dari beberapa pakar terkait penanggulangan Covid-19 perlu diperhatikan oleh Pemerintah Daerah,” tandasnya. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.