Berbagi Berita Merangkai Cerita

Sebulan Kenal di Facebook, AR Nikah Dini kemudian Cerai Saat Istri Hamil

68

ilustrasi diperbarui aksi.id

Lobar,DS-Perkawinan anak masih menjadi momok mengkhawatirkan di NTB. Disebut mengkhawatirkan karena daya tolak masyarakat terhadap kasus-kasus nikah dini masih tergolong lemah. Pasalnya, sering kali keluarga yang justru menjadi sumber masalah.

Hal itu dialami AR yang masih berusia 16 tahun dan DN yang berumur 15 tahun. Keduanya merupakan pasangan suami istri di  Lombok yang mengakhiri masa kanak-kanak dengan sangat cepat belum lama ini.

AR adalah seorang anak yang kesehariannya dikenal sebagai remaja dengan sifat  keras kepala. Menurut cerita tetangga AR, sifat AR.turun dari ayahnya  yang juga sering melakukan tindak kekerasan.  Hampir setiap hari AR mendapatkan pukulan.  Setali tiga uang dengan AR, DN pun selalu mendapatkan perlakuan serupa dari ayah tirinya.

Karena kekurangan kasih sayang dan perhatian dari orang tua, mereka melarikan diri ke dunia maya. Keduanya mencari perhatian di media sosial yaitu facebook. AR kemudian menemukan DN. Mereka sering curhat. Tidak lama, hanya butuh waktu sebulan saling tukar perasaan dan kegiatan sehari-hari,  mereka kemudian memutuskan untuk menikah.

DN  memiliki alasan. Dia merasa nyaman dengan AR yang dianggapnya sebagai pahlawan dan pemenang hatinya. Itulah sebabnya mereka memutuskan menikah seolah mengurai masalah yang dihadapi. Bagaimana tanggapan masyarakat?

Dikarenakan usia mereka masih anak-anak, pernikahan bawah tangan ini sempat membuat geger. Kadus dan kader pendamping peduli anak mendatanginya.

Menurut Sarmini S.Pd, kader LSM dari Yayasan Tunas Alam Indonesia (Santai), pihaknya sempat melakukan pembelasan, yakni memisahkan dua sejoli itu agar mengurungkan rencananya. Hal ini dilakukan karena anak-anak belum bisa mengambil keputusan.

Sayangnya, setelah diadakan diskusi secara alot sejumlah tokoh msyarakat di desa itu, hasil dari diskusi menyebutkan bahwa mereka tetap  akan menikah walau dibawah tangan. Alasan  menikah  karena merasa orangtuanya tidak lagi berfungsi melindungi mereka.

Lantas apakah bahtera rumah tangga AR dan DN berjalan mulus? Tidak! Setelah  beberapa minggu selesai akad nikah, tabiat asli AR mulai nampak. Ia melakukan kekerasan terhadap istrinya. Hal itu bermula ketika AR merasa selalu dibuntuti kemanapun pergi.  Akibatnya, ketidakharmonisan pun mulai mewarnai rumah tangga itu.

Sementara itu DN menilai sang suami  selalu menyembunyikan hasil dari kerja kerasnya dan memberikan hanya setengah dari yang dia dapatkan. Dia mengaku kadang menangis dengan peristiwa yang menimpanya.

Ditengah konflik dalam rumah tangga itu,  DN mengandung. Mengetahui hal itu, para kader peduli anak pun menjaganya disebabkan usia DN yang rentan selama masa kehamilan. Mereka khawatir bayi yang stunting dan resiko lain dari pernikahan anak.

Namun, kabar gembira kehamilan itu justru menjadi kabar buruk pada hari berikutnya. Sebab, tidak lama berselang, terdengar  berita perceraian antara DN dan AR.

“DN kembali pulang ke rumah orangtuanya,” kata Sarmini. ian

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.