A place where you need to follow for what happening in world cup

Sebar Berita Hoaks Soal Proyek Sumur Bor, PMI NTB Laporkan LSM Lidik ke Polda NTB

40

FOTO. Hasan Asy’ari. (FOTO. RUL/DS)

MATARAM, DS – Pengurus Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi NTB memilih melaporkan aktifis Lidik ke Polda NTB. Pelaporan pada Senin Sore (4/10), dilakukan lantaran kesal, atas tuduhan Ketua Lidik NTB, Sahabudin yang menuding jajaran PMI NTB mengabaikan pembayaran pekerjaan sumur bor yang bersumber dari program PMI Provinsi NTB yang tersebar di sepuluh titik di Kabupaten Lombok Barat (Lobar) dan di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng).

Proyek yang kabarnya dimulai pengerjaanya, sejak dua tahun lalu dengan nilai sebesar Rp1,7 miliar, sama sekali tidak ada dalam program rutin PMI NTB. Wakil Ketua bidang Penanggulangan Bencana (PB) PMI NTB, Hasan Asy’ari membenarkan jika pihaknya telah melaporkan LSM Lidik ke Polda NTB. Hal itu menyusul, proyek maupun program hingga data-data terkait kontrak pengerjaan sumur bor yang diungkapkan Lidik ke sejumlah media, tidak bisa dipertanggung jawabkan.

“Kami pastikan PMI NTB enggak pernah membuat kontrak pengerjaan sumur bor di sepuluh titik di Lombok Tengah dan Lombok Barat. Sekali lagi, tudingan dan informasi Lidik itu, adalah hoaks dan merugikan institusi PMI NTB,” tegas Asy’ari pada wartawan saat memberikan keterangannya, Selasa (5/10).

Ia mengatakan pelaporan ke Polda NTB melalui Ditreskrimsus tersebut lantaran dugaan fitnah yang diumbarkan oleh LSM Lidik. Terlebih, PMI NTB, hingga kini, tidak pernah sekalipun menerbitkan SPK kontrak kepada pihak manapun.

“Tudingan Lidik itu, memojokkan PMI NTB karena, PPK PMI NTB terkait proyek pengerjaan sumur bor tidak pernah kita buat sekalipun. Kalaupun, ada oknum PMI yang menerbitkan kontrak, itu adalah proyek pengadaan lainnya dan bukan proyek sumur bor. Jadi, banyak sekali kesalahan fatal yang dilakukan Lidik pada PMI NTB. Sekali lagi, kita tunggu saja langkah hukum yang kini tengah berjalan,” kata Asy’ari. “Intinya, semua bukti pernyataan dan tudingan Lidik NTB sudah kita serahkan ke Polda NTB. Ini bentuk kami ingin menuntaskan masalah ini,” sambung dia.

Sebelumnya, puluhan aktivis LIDIK NTB mendatangi Kantor DPRD NTB. Mereka mengadukan soal belum dibayarnya pekerjaan sumur bor yang bersumber dari program Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi NTB yang tersebar di sepuluh titik di dua Kabupaten yakni di Kabupaten Lombok Barat (Lobar) dan di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), Senin (4/10).

“Sudah dua tahun pekerjaan sumur bor tersebut belum dibayarkan. Jumlah keseluruhan pekerjaan sumur bor yang belum dibayarkan itu seinilai Rp1,7 miliar,,” ujar Ketua Lidik NTB, Sahabudin, kepada wartawan usai diterima oleh Anggota Komisi IV DPRD NTB, Sudirsah Sujanto, H Saat Abdullah, yang juga didampingi oleh Sekretaris DPRD NTB, Mahdi SH MH., di ruang rapat pleno DPRD NTB.

Pihaknya mengaku heran dengan sikap PMI NTB yang belum juga melakukan pembayaran terhadap pekerjaan sumur bor tersebut sementara Surat Perintah Kerja (SPK) juga dikeluarkan oleh pihak PMI NTB yang langsung ditandatangani oleh Ketuanya, H Ridwan Hidayat.

“Malahan kami dibertahukan oleh mereka bahwa PMI Pusat tidak mengakui kalau program sumur bor itu adalah program yang diberikan oleh PMI Pusat. Akan tetapi disisi yang lain juga PMI Pusat memerintahkan PMI NTB agar segera menyelesaikan persoalan pekerjaan sumur bor ini sebagaimana mestinya. Dan anehnya lagi Ketua PMI NTB, H Ridwan Hidayat, justru mau membayar pekerjaan itu kepada masyarakat, padahal mereka berkontrak dengan rekanan yakni CV Jaya Steel,” terang Sahabudin.

Sepuluh titik pekerjaan sumur bor itu menurutnya tersebar di sejumlah wilayah di Kabupaten Lombok Tengah seperti di Janapria, Batujai, dan Praya Timur. Sementara di Lobar ada di wilayah Lembar dan Narmada.

“Semuanya sudah terpasang dan sudah dimanfaatkan oleh masyarakat. Tinggal pembayarannya yang belum dilakukan,” keluhnya.

Pihaknya meminta kepada Ketua PMI NTB, H Ridwan Hidayat, agar segera membuat surat pernyataan kesiapan pembayaran. Yang kedua, Lidik akan mendatangkan masyarakat dari sepuluh titik pemasangan ini untuk mendatangi kantor DPRD NTB.

“Dan yang ketiga kami akan menyegel kantor PMI NTB jika permintaan kami ini tidak diindahkan. Dan kami beri deadline seminggu dari sekarang,” tandas Sahabudin. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.

Lewat ke baris perkakas