Berbagi Berita Merangkai Cerita

Sebanyak 1.694 Warga Usia Anak di KLU Hamil, Pelaku Nikah Dini 248 di 10 Desa

0 93

KLU,DS-Sebanyak 1.694 remaja KLU usia anak atau dibawah 18 tahun selama tahun 2018 – 2019 dalam kondisi hamil. Sedangkan pelaku nikah usia dini baik laki-laki maupun perempuan di 10 desa berdasarkan data sementara mencapai 248 orang.

Sekretaris LPA NTB, Sukran Hasan, Jumat (28/2), mengemukakan remaja yang hamil itu tergolong dalam usia anak. Pada tahun 2018 tercatat sebanyak 910 remaja KLU dalam kondisi mengandung, sedangkan tahun 2019 remaja mengandung mencapai784 orang.

Ditahun 2018 remaja yang melakukan proses bersalin atau melahirkan di sejumlah fasilitas kesehatan mencapai 307 orang. Pada tahun 2019 naik menjadi 521 orang. Selain di sejumlah fasilitas kesehatan, terdapat pula remaja yang melahirkan di dukun.

Menurut Program Officer Pendewasaan Usia Perkawinan ini, adanya remaja yang hamil tersebut tidak lepas dari banyaknya kasus pernikahan usia dini. “Korban perkawinan anak sebagian besar perempuan (67 persen). Para korban yang terlibat dalam kasus itu berusia 15-17 tahun,” katanya.

Berdasarkan data tahun 2018-2019 yang diperoleh dari 10 desa di Kabupaten Lombok Utara hasil rekapitulasi staf Lapangan LPA NTB bekerjasama dengan Fasilitator Forum Anak dan Fasilitator TEPAK, data pernikahan anak itu masih belum terangkum seluruhnya mengingat masih ada sejumlah desa yang belum tuntas pendataan

”Data itu masih terus berkembang, karena pendataan di 10 desa masih terus dilakukan melalui Rukun Tetangga (RT),” katanya. Adapun desa-desa yang disurvei berkenaan dengan perkawinan anak masing-masing Desa Senaru, Desa Sukadana (Kecamatan Bayan), Desa Gumantar dan Desa Dangiang (Kecamatan Kayangan), Desa Tegalmaja dan Desa Jenggala (Kecamatan Tanjung), Pemenang Timur, Pemenang Barat (Kecamatan Pemenang), Sambik Bangkol dan Desa Gondang (Kecamatan Gangga).

Terdapat 180 an anak yang menikah tahun 2018 dan tahun 2019 di Desa Senaru, Desa Sukadana, Desa Gumantar, Desa Dangiang, Desa Tegalmaja dan Desa Jenggala. Menurut Sukran, meskipun data dari 6 desa tersebut belum lengkap, perkawinan anak secara umum masih tinggi dan belum ada penurunan yang signifikan dari tahun 2018 ke tahun 2019.

Terdapat 4 desa yang mengalami peningkatan angka perkawinan anak tahun 2018 dibanding 2019, yaitu desa Senaru, Desa Dangiang, Desa Jenggala dan Desa Pemenang Timur. Namun ada 3 desa yang mengalami penurunan angka perkawinan anak, yaitu Desa Pemenang Barat, Sukadana dan Desa Gumantar.

Hasil pendataan menemukan bahwa jumlah perkawinan anak perempuan lebih dominan dibandingkan perkawinan anak laki-laki. Dari perkawinan anak di 10 desa tersebut, sekira 67 % pelakunya adalah perempuan dan 33 % anak laki-laki.

“Artinya usia menikah/perkawinan anak perempuan cenderung lebih kecil atau lebih muda dibandingkan dengan usia anak laki-laki yang melakukan perkawinan. Demikian pula dari kategori usia dan tingkat pendidikan, perempuan selalu lebih dominan dibandingkan dengan laki-laki.’ Katanya.

Perkawinan di usia 13 – 16 tahun lebih banyak menimpa anak perempuan, sedangkan pada usia 17 – 18 tahun hampir seimbang walaupun perempuan sedikit lebih tinggi. Fakta lain yang terungkap dari data tersebut, usia rawan anak perempuan menjadi korban perkawinan anak adalah usia 15 tahun hingga 17 tahun. Usia-usia tersebut berada pada tingkat pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan kelas I SMA.

Tingkat pendidikan korban perkawinan anak di Lombok Utara lebih banyak sampai pada tingkat SMP (tamat SMP), tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Tidak sekolah /tidak tamat SD. Anak perempuan yang melakukan penikahan dini sebagian besar tamat SD, sedangkan anak laki-laki lebih banyak yang tamat SMP. ian

Leave A Reply