Menu

Mode Gelap

Fenomena · 11 Apr 2022 17:59 WITA ·

Ruslan Prihatin Angka Pernikahan Dini di Loteng Meningkat selama Pandemi Covid-19


					FOTO. Anggota DPRD NTB H. Ruslan Turmudzi saat berdialog dengan warga terkait tingginya kasus pernikahan dini di Kabupaten Loteng selama pandemi Covid-19 saat ini. (FOTO. RUL/DS). Perbesar

FOTO. Anggota DPRD NTB H. Ruslan Turmudzi saat berdialog dengan warga terkait tingginya kasus pernikahan dini di Kabupaten Loteng selama pandemi Covid-19 saat ini. (FOTO. RUL/DS).

LOTENG, DS – Anggota DPRD NTB dapil Lombok Tengah (Loteng) Selatan, H. Ruslan Turmudzi mengatakan, angka pernikahan dini di Loteng perlu mendapatkan perhatian serius pemerintah maupun pihak-pihak terkait. Terlebih, pernikahan dini tersebut terus meningkat selama pandemi Covid-19.

Politisi PDIP tersebut menyebut, dari data yang diperolehnya dari Pengadilan Agama Praya, tercatat ratusan orang mengajukan dispensasi perkawinan. Umumnya mereka adalah pasangan suami istri yang berada dibawah umur.

Sedangkan, selama periode Januari-November 2021 ada sekitar 297 anak di bawah umur telah mengajukan dispensasi pernikahan.

Jumlah tersebut sudah tergolong dalam kategori gawat dan tidak bisa dianggap persoalan biasa. “Ini sudah gawat, semua pihak harus peka, jangan menganggap pernikahan dini hal biasa,” tegas Ruslan saat bersilaturahmi dengan warga Desa Nyerot, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Loteng, Sabtu Malam (9/4).

Didampingi Ketua DPC PDIP Loteng, Suhaimi. Ruslan mengaku, bahwa kehadirannya untuk menyampaikan sosialisasi Perda Nomor 5 tahun 2021 tentang pencegahan perkawinan anak. Di mana Perda tersebut digagas DPRD setempat untuk mencegah perkawinan anak yang kini marak di semua wilayah di NTB.

Menurut Ruslan, setidaknya terdapat empat faktor pemicu angka pernikahan dini. Antara lain pola pengasuhan yang kurang kuat dalam keluarga, budaya menikah dini, kurang tepat dalam mengartikan agama, serta kondisi anak itu sendiri.

Kendati dari ratusan kasus yang mengajukan dispensasi perkawinan tersebut, tidak semuanya disetujui atau ditindak lanjuti oleh Pengadilan Agama Praya, lantaran umur pengantin wanita maupun laki-laki terlalu muda, yakni di bawah 16 Tahun. Sehingga setelah dikaji dan mengikuti proses keluarga kedua belah diminta untuk menunda pernikahan mereka.

“Catatan saya, angka yang disetujui 260 orang dan sisanya itu ditolak, karena umurnya di bawah 16 tahun. Namun angka ini sangat memprihatinkan, sebab itu artinya masuk katagori tinggi,” kata Ruslan lantang.

Politisi kawakan lima periode tersebut menyatakan, bahwa batas umur minimal anak boleh menikah sesuai Undang-undang tentang perkawinan awalnya itu memang 16 tahun, kemudian dilakukan revisi dengan Undang-undang Nomor 16 Tahun 2019 bahwa usia minimal untuk menikah adalah 19 tahun baik untuk perempuan maupun laki-laki.

“Kalau melihat kasus yang mengajukan dispensasi nikah, angka pernikahan anak di bawah umur selama pandemi ini cukup tinggi di Lombok Tengah. Dan, faktor budaya atau adat istiadat terkadang bisa menyebabkan terjadinya pernikahan di bawah umur, ketika anak pulang malam atau tidak pulang setelah keluar dengan teman prianya,” jelas Ruslan.

Karena itu, ketika ada kasus seperti itu pihaknya meminta agar dilakukan upaya mediasi dengan kedua belah pihak supaya mereka dipisahkan.

Mengingat, lanjut dia, dampak dari terjadinya pernikahan anak di bawah umur bisa menyebabkan peningkatan kasus perceraian dan stunting, serta terkait kesehatan lainnya.

“Jadi, kenapa kami menggagas terbentuknya Perda Nomor 5 tahun 2021 tentang pencegahan perkawinan anak. Ini adalah upaya kami untuk mencegah terjadinya pernikahan dini atau anak di bawah umur. Nantinya, di dalam perda ini, ada kewajiban pemerintah, baik Pemprov, Pemda kabupaten/kota hingga desa, harus bersama-sama menekan angka pernikahan di bawah umur. Salah satunya, di Lombok Tengah,” papar Ruslan.

Dalam kesempatan itu. Ia mengimbau masyarakat untuk tetap melakukan pengawasan terhadap anaknya, ketika mereka keluar rumah harus diperhatikan atau jangan diberikan kebebasan yang berlebihan, supaya tidak terjadi kesalahan yang tidak diinginkan.

“Selama pandemi Covid-19 ini waktu anak masuk sekolah terkadang tidak tentu. Jadi orang tua juga harus lebih waspada dalam mengawasi anaknya,” tandas Ruslan Turmudzi. RUL.

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 19 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Pembalap MXGP Samota Naik Dokar, Masyarakat Tumpah Ruah

25 Juni 2022 - 10:56 WITA

Gubernur NTB Ingatkan OPD Respon Keluhan Masyarakat di Medsos

19 Juni 2022 - 20:03 WITA

Banjir Meninting Sempat Mencemaskan namun Air Sudah Kembali Surut

19 Juni 2022 - 06:41 WITA

Plt Kadis Kominfotik NTB : Tenaga Terampil Digital Kian Dibutuhkan

15 Juni 2022 - 06:50 WITA

Ini Tentang Keampuhan ‘Senggeger’ Pulau Lombok yang Melegenda

11 Juni 2022 - 18:11 WITA

Lacak Keanehan Desa Besari Hilang Misterius, PDIP NTB Gandeng M-16 Lakukan Ekspedisi Mistis

26 Mei 2022 - 14:04 WITA

Trending di Fenomena